Pemotongan Anggaran Pemda Jadi Sorotan, Purbaya Jelaskan Kebijakan Efisiensi ke Wapres
📅 Jumat, 17 Okt 2025, 16:20 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: Antara.
JAKARTA – Pemotongan anggaran pemerintah daerah (pemda) bisa dibilang langkah yang penuh konsekuensi. Di satu sisi, ini mencerminkan upaya pemerintah pusat untuk menata ulang prioritas fiskal dan memastikan efisiensi belanja publik.
Tapi di sisi lain, bagi daerah, kebijakan ini bisa jadi “rem mendadak” bagi berbagai program pembangunan yang sudah direncanakan.
Bisa dibayangkan, Pemda seperti rumah tangga besar yang tiba-tiba harus berhemat — semua pengeluaran ditinjau ulang, dari proyek infrastruktur sampai program sosial.
Pemotongan anggaran ini biasanya dilakukan karena adanya tekanan pada APBN, kebutuhan realokasi dana untuk sektor prioritas, atau penyesuaian terhadap proyeksi pendapatan negara yang meleset.
Tantangannya, bagaimana pemda tetap bisa menjaga roda pembangunan tetap berputar meski dananya berkurang. Kuncinya ada pada efisiensi, kreativitas pembiayaan, serta kemampuan daerah menarik investasi lokal.
Sebaiknya Anda baca juga:
Kalau tidak hati-hati, pemangkasan anggaran justru bisa menahan laju pertumbuhan ekonomi daerah dan memperlebar ketimpangan antarwilayah.
Dengan kata lain, pemotongan ini bisa jadi momentum evaluasi untuk memperbaiki kualitas belanja — bukan sekadar mengurangi jumlahnya, tapi memastikan setiap rupiah benar-benar berdampak.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka menanyakan soal potongan anggaran pemerintah daerah (pemda) dalam pertemuan keduanya di Istana Wakil Presiden hari ini (17/10).
Sebaiknya Anda baca juga:
“Dia menyuarakan keresahan dari pemimpin-pemimpin daerah yang anggarannya dipotong, soal apa langkah kami ke depan untuk memitigasi itu,” kata Purbaya di kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Jumat (17/10).
Purbaya mengaku tidak banyak solusi yang bisa diambil dalam jangka pendek.
Strategi yang diambil Purbaya adalah meminta pemda merapikan serapan belanja mereka dalam satu tahun ke depan, untuk kemudian laporannya dievaluasi oleh bendahara negara.
“Nanti kami lihat bagus apa nggak serapannya, ada kebocoran apa nggak. Nanti triwulan ketiga kami hitung ulang. Kalau ekonominya bagus kan pendapatan kita meningkat juga. Kami akan lihat berapa yang bisa kami bagi ke daerah,” jelas Purbaya.
Dia pun menambahkan pesan yang dituturkan oleh Wapres, bahwa negara turut mempertimbangkan stabilitas nasional dalam mengambil kebijakan fiskal.
“Jadi daerah jangan terlalu cemas, kami juga memikirkan stabilitas nasional. Kira-kira itu pesan dari beliau,” tuturnya.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!