Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Pemerintah Genjot Skema Pendanaan Kreatif untuk Transisi Energi Hijau

📅 Kamis, 16 Okt 2025, 20:45 WIB | Oleh: Tim Penulis
Pemerintah Genjot Skema Pendanaan Kreatif untuk Transisi Energi Hijau Doc: Antara
Ket. Wakil Menteri Luar Negeri RI Arif Havas Oegroseno memberikan sambutan pembukaan melalui rekaman video dalam "2nd Indonesia-Mekong Basin Connect Forum: Energy Security Cooperation in the Region” di Jakarta, Kamis (16/10).

Jakarta - Indonesia menegaskan pentingnya pembiayaan inovatif dan kolaboratif dalam upaya memperkuat ketahanan energi dan mempercepat transisi energi hijau di Asia Tenggara, terutama di kawasan Sungai Mekong yang melewati enam negara.

“Setiap diskusi tentang lingkungan, energi terbarukan, perubahan iklim, pada dasarnya tidak akan berarti apa-apa jika kita tidak membahas tentang keuangan,” kata Wakil Menteri Luar Negeri RI Arif Havas Oegroseno di Jakarta, Kamis (16/10).

Hal itu disampaikan oleh Havas melalui rekaman video saat memberikan sambutan pembukaan dalam “2nd Indonesia-Mekong Basin Connect Forum: Energy Security Cooperation in the Region” di Jakarta.

Sungai Mekong memiliki panjang sekitar 4.350 kilometer, yang bermula dari China dan mengalir melewati Myanmar, Laos, Thailand, Kamboja, Vietnam.

Havas memberi contoh bahwa Indonesia membutuhkan sekitar US$285 miliar (sekitar Rp4.722 triliun) hingga 2030 untuk mitigasi dan perubahan iklim, sementara anggaran negara hanya bisa mencakup sekitar 18 persen dari total kebutuhan.

Karena itulah, Indonesia telah menetapkan mekanisme pembiayaan untuk memenuhi pembiayaan tersebut, seperti menerbitkan obligasi hijau, obligasi SDG, dan obligasi terumbu karang.

Selain itu, lanjut Havas, Indonesia sendiri juga membutuhkan dana sekitar US$1 triliun (sekitar Rp16.576 triliun) untuk infrastruktur energi terbarukan hingga 2060, menilai angka tersebut masih jauh dari kebutuhan.

Selain pembiayaan, penguasaan teknologi energi terbarukan juga menjadi tantangan tersendiri, ujar Havas, menambahkan bahwa Indonesia memiliki potensi besar dari sinar matahari dan bahan baku, tetapi masih mendapat tantangan terkait manufaktur panel solar di dalam negeri.

“Jadi, hal ini perlu ditangani dengan membahas isu-isu yang langsung menyentuh seperti konstruksi, pembuatan panel surya di Asia Tenggara, dan dalam diskusi khusus hari ini di sekitar Mekong,” ujar Havas.

Wamenlu juga menyoroti pemanfaatan teknologi tenaga air di Sungai Mekong, menekankan bahwa keseimbangan antara manfaat ekonomi, tanggung jawab sosial, dan kelestarian lingkungan juga menjadi aspek yang sangat penting saat membicarakan tentang energi terbarukan.

“Jadi ini bukan hanya menjadi (energi) terbarukan demi terbarukan, tetapi terbarukan demi keseimbangan ketiga hal khusus tersebut,” ujarnya.

Karena itulah, Wamenlu itu berharap agar forum Indonesia-Mekong dapat menghasilkan gagasan inovatif dan kolaboratif dalam pembiayaan dan teknologi energi hijau di kawasan.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Nasional
PT KAI Tutup 116 Perlintasa...
Ekonomi
Menkeu Ungkap Banyak Rumor ...

Wali Kota Bogor Aktivasi Museum Pajajaran

59 menit yang lalu | Ilham Sudrajat

Megapolitan
Wali Kota Bogor Aktivasi Mu...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar Pagi Ini, Dibayangi Tekanan Global dan Domestik

Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar Pagi Ini, Dibayangi Tekanan Global dan Domestik

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.