Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Minim Diversifikasi Pangan, Program MBG Dikhawatirkan Tak Berkelanjutan

📅 Selasa, 14 Okt 2025, 00:00 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Minim Diversifikasi Pangan, Program MBG Dikhawatirkan Tak Berkelanjutan Doc: ANTARA/AMPELSA
Ket. DUKUNG DIVERSIFIKASI PANGAN - Sejumlah siswa berdoa sebelum menyantap hindangan Makanan Bergizi Gratis (MBG) saat launching perdana di Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 18 desa Biluy, kecamatan Darul Kamal, Kabupaten Aceh Besar, Aceh, Senin (13/10). Program MBG seharusnya mampu menjadi jembatan dalam upaya pengembangan diversifikasi pangan.

Program MBG semestiya diselaraskan dengan kebijakan pertanian nasional, terkait diversifikasi pangan.

JAKARTA – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) menghadapi tantangan serius dari sisi ketahanan bahan baku. Ketergantungan tinggi pada beras membuat program ini rawan terganggu jika produksi padi menurun akibat dampak perubahan iklim.

Kondisi ini menunjukkan belum optimalnya diversifikasi pangan dalam kebijakan besar yang digagas pemerintahan Prabowo–Gibran tersebut. Padahal, Indonesia memiliki potensi besar dalam pangan lokal seperti singkong, sagu, jagung, dan umbi-umbian yang bisa menjadi alternatif sumber karbohidrat.

Tanpa pergeseran ke arah pemanfaatan pangan lokal, program MBG berisiko menghadapi kendala pasokan dan inflasi bahan pokok. Karenanya, diperlukan strategi lintas sektor agar tujuan peningkatan gizi anak berjalan beriringan dengan ketahanan pangan nasional.

Akademisi Fakultas Pertanian, Sains dan Teknologi Universitas Warmadewa (Unwar), Denpasar, Bali, Dr. I Nengah Muliarta menegaskan program MBG ini idealnya diselaraskan dengan kebijakan pertanian nasional, terkait diversifikasi pangan. Ketahanan pangan dalam konteks MBG sering kali terfokus pada ketersediaan beras sebagai pangan pokok.

Meskipun beras adalah makanan utama bagi sebagian besar masyarakat, kebergantungan yang berlebihan pada satu jenis pangan ini menimbulkan kerentanan yang signifikan, terutama dalam situasi krisis seperti gagal panen akibat fenomena El Nino atau serangan hama besar.

"Jika gagal panen terjadi secara serentak, baik karena kondisi cuaca yang ekstrem maupun serangan hama, stok nasional beras akan tertekan hebat. Kondisi ini dapat menyebabkan lonjakan harga dan mengurangi akses masyarakat terhadap pangan yang aman dan bergizi. Ketergantungan ini mengabaikan potensi pangan lokal lain yang dapat berfungsi sebagai alternatif atau pelengkap," ungkap Muliarta dari Denpasar, Bali, Senin (13/10).

Walaupun terdapat upaya untuk mendorong konsumsi pangan lokal seperti singkong, sagu, dan jagung, diversifikasi pangan di Indonesia masih berjalan di tempat. Konsumsi pangan alternatif ini tidak secara signifikan menggantikan peran beras dalam pola makan masyarakat.

"Banyak masyarakat yang lebih memilih beras karena kebiasaan dan budaya yang telah mengakar, sehingga sulit untuk mengubah pola konsumsi," ucapnya.

Ketersediaan infrastruktur untuk memproduksi dan mendistribusikan pangan alternatif sering kali juga tidak sebanding dengan beras. Ini membatasi akses masyarakat terhadap sumber pangan diversifikasi.

"Seharusnya, program MBG mampu menjadi jembatan dalam upaya pengembangan diversifikasi pangan. Program MBG perlu memperluas jenis pangan yang disediakan, tidak hanya beras, tetapi juga sumber karbohidrat lain seperti singkong, jagung, dan sagu, agar masyarakat mulai mengenal dan mengonsumsi pangan alternatif," tegas Muliarta.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

PIN SPMB Belum Masuk? Ini Penyebab dan Cara Ceknya

34 menit yang lalu | Andes Tanjung

Megapolitan
PIN SPMB Belum Masuk? Ini P...
Nasional
SBY: Kepercayaan Publik Jad...
Megapolitan
DKI Perluas Pelatihan Kerja...
Nasional
DPR Minta Kepala BGN Baru F...
Nasional
Huntara di Langkahan roboh ...
Nasional
Atap bangunan sekolah SDN d...
Megapolitan
Operasi uji emisi kendaraan...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar Pagi Ini, Dibayangi Tekanan Global dan Domestik

Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar Pagi Ini, Dibayangi Tekanan Global dan Domestik

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.