Meski Simpan Potensi Ekonomi Besar, Desa Masih Jadi Pusat Konsentrasi Kemiskinan
📅 Jumat, 21 Nov 2025, 01:15 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Doc: antara
Kemiskinan yang banyak terjadi di perdesaan umumnya merupakan kemiskinan struktural yang bersumber dari rendahnya fasilitas pembangunan di desa.
JAKARTA - Pemerintah masih menjadikan program pembangunan desa sebagai salah satu fokus untuk menggerakkan ekonomi rakyat dari bawah. Hal itu dilakukan karena desa menyimpan potensi ekonomi besar namun masih menjadi pusat konsentrasi kemiskinan.
Menteri Koordinator Pemberdayaan Masyarakat (Menko PM) Abdul Muhaimin Iskandar saat menjadi pembicara kunci dalam Seminar Nasional bertajuk Proyeksi Ekonomi Indonesia 2026 di Jakarta, Kamis (20/11) mengatakan berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), dari 23,85 juta penduduk miskin di Indonesia, 2,38 juta diantaranya tergolong penduduk miskin ekstrem. Separuh dari penduduk miskin ektrem itu berada di desa.
Kondisi tersebut jelasnya menunjukkan perlunya penguatan kapasitas produksi, peningkatan pendapatan, serta perluasan peluang usaha bagi masyarakat desa.
“Pemerintah memperkuat desa melalui berbagai program ekonomi nasional karena di berbagai fakta menunjukkan kemampuan ekonomi desa nyata,” kata Muhaimin.
Sebaiknya Anda baca juga:
Oleh sebab itu, Pemerintah papar Muhaimin telah menghadirkan sejumlah langkah penguatan ekonomi desa diantaranya, pengembangan Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih dan peningkatan keterampilan dan kapasitas petani.
Pemerintah, juga terus mendorong lahirnya usaha-usaha baru dan pendapatan baru bagi keluarga di desa sebagai bagian dari pertumbuhan ekonomi dari bawah. Ada pula berbagai intervensi untuk memperkuat rantai nilai ekonomi perdesaan, seperti peningkatan akses pembiayaan, perbaikan sarana produksi, dan penguatan konektivitas agar hasil produksi desa lebih mudah masuk ke pasar yang lebih luas.
Guru Besar Fakultas Pertanian dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Dwijono Hadi Darwanto yang diminta pendapatnya menilai kemiskinan yang masih banyak terjadi di perdesaan umumnya merupakan kemiskinan struktural yang bersumber dari rendahnya fasilitas pembangunan di desa.
Sebaiknya Anda baca juga:
“Kemiskinan yang banyak terjadi di masyarakat perdesaan terutama kemiskinan struktural akibat rendahnya fasilitas perkembangan di pedesaan,” kata Dwijono, Kamis (20/11).
Ia pun menekankan agar pembangunan desa hendaknya dititikberatkan pada program yang memiliki dampak langsung terhadap aktivitas ekonomi masyarakat. Menurutnya, keberhasilan program pemberdayaan desa juga sangat bergantung pada kreativitas para pemuka desa dalam menciptakan usaha yang benar-benar menyangkut kepentingan masyarakat luas.
“Kuncinya pada kreativitas para pemuka di desa, bukan bertumpu pada kegiatan segelintir penduduk atau para elit desa,” jelas Dijono.
Dwijono juga menanggapi penurunan harga pupuk dan kebijakan Bulog membeli gabah petani, yang menurutnya dapat langsung memperbaiki ekonomi rumah tangga petani. Ia menjelaskan bahwa harga pupuk yang turun dapat menekan biaya usaha tani, sementara harga hasil panen yang stabil akan meningkatkan keuntungan petani.
“Bulog membeli gabah berarti ada kepastian pasar bagi hasil petani,” lanjutnya.
Namun, Dwijono mengingatkan agar program-program tersebut tidak berhenti pada intervensi jangka pendek. Ke depan, ia menilai perlu adanya persyaratan tertentu agar kebijakan pembelian gabah sekaligus memberi pembelajaran bagi petani, termasuk perbaikan mutu penyimpanan atau gudang agar tidak terjadi kerusakan dan susut.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!