Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Meriah, Semarang Night Carnival 2024 Padukan Beragam Budaya Masyarakat

📅 Minggu, 05 Mei 2024, 02:15 WIB | Oleh: Tim Penulis
Meriah, Semarang Night Carnival 2024 Padukan Beragam Budaya Masyarakat Doc: ANTARA/Zuhdiar Laeis
Ket. Peserta Semarang Night Carnival (SNC) 2024 berangkat dari depan Balai Kota Semarang menuju Lapangan Simpang Lima Semarang, Sabtu (4/5/2024).

Semarang - Pergelaran Semarang Night Carnival 2024 yang mengangkat tema "Niscala" memadukan beragam unsur kebudayaan masyarakat, seperti Warak Ngendog, Elang Jawa, Barongsai, dan Sesaji Rewanda.

Arak-arakan SNC dimulai dari halaman Balai Kota Semarang, Sabtu malam, dilepas oleh Wali Kota Hevearita Gunaryanti Rahayu dan akan berakhir di Lapangan Pancasila Simpang Lima.

Marching Band dari Drum Corps Pelopor Cenderawasih Akademi Kepolisian (Akpol) mengawali defile, diikuti parade kostum unik dan menarik dari para peserta sesuai dengan tema yang diangkat.

Masyarakat juga tumpah ruah di sepanjang rute yang dilalui oleh defile SNC 2024 untuk menonton, sembari mengabadikan gambar kegiatan budaya yang hanya digelar setahun sekali itu.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang Wing Wiyarso mengatakan bahwa "Niscala" yang diangkat sebagai tema SNC 2024 mengambarkan kekuatan, kekokohan, dan kebersamaan.

"Secara tema berbeda dari SNC tahun lalu, kali ini 'Niscaya'. Ini menggambarkan bagaimana kebersamaan masyarakat dan Pemerintah Kota Semarang untuk membangun Semarang semakin hebat," katanya.

Dari tema besar Niscala, kata dia, diturunkan menjadi empat subtema, yakni Warak Ngendog yang diketahui sebagai hewan imajiner ikon Kota Semarang sebagai bentuk akulturasi budaya.

Warak Ngendog digambarkan sebagai binatang yang berkepala naga mewakili budaya China, bertubuh seperti hewan buraq mewakili Islam, dan berkaki empat mirip kambing mewakili budaya Jawa.

Kedua, subtema elang Jawa yang saat ini habitatnya masih cukup lestari di Kota Semarang sehingga dengan ditampilkannya pada SNC ini diharapkan masyarakat bisa ikut melestarikan.

"Kemudian, barongsai. Kita paham bahwa Kota Semarang ini adalah akulturasi (budaya) yang luar biasa. Barongsai sekarang tidak hanya miliki etnis Tionghoa, tetapi tercampur. Banyak pelaku seni barongsai orang Jawa," katanya.

Kemudian, subtema rewanda yang artinya monyet diambilkan dari tradisi Sesaji Rewanda di Goa Kreo Semarang yang menjadi tempat Sunan Kalijaga mengambil kayu jati untuk pembangunan Masjid Demak.

"Di sana (Goa Kreo, red.), Sunan Kalijaga mencari kayu jati untuk Masjid Demak dibantu rewanda, yakni empat monyet yang ada di Goa Kreo. Ini perbedaan yang unik yang harus dilestarikan," katanya.

Sementara itu, Wali Kota Semarang Hevearita Gunaryanti berharap SNC merupakan puncak dari rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Kota Semarang yang kali ini ke 477 tahun.

"SNC ini mengusung bagaimana kerahaman budaya di Kota Semarang, ada (unsur, red.) Pecinan, Rewanda (monyet), elang. Ini menggambarkan bagaimana budaya yang ada di Kota Semarang," kata Ita, sapaan akrabnya.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Megapolitan
Pemprov DKI gelar program o...
Megapolitan
Jelang Pertunjukkan Teater ...
Nasional
Keren, Unika Atma Jaya Masu...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar Pagi Ini, Dibayangi Tekanan Global dan Domestik

Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar Pagi Ini, Dibayangi Tekanan Global dan Domestik

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.