Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Menjaga Kesehatan Laut Indonesia yang Kini Makin Terancam

📅 Minggu, 08 Jun 2025, 15:32 WIB | Oleh:
Menjaga Kesehatan Laut Indonesia yang Kini Makin Terancam Doc: antara foto
Ket. Aksi penolakan tambak udang di Karimunjawa.

Prof. Dr. Jonson Lumban Gaol

Dosen di Departemen Ilmu dan Teknologi Kelautan, IPB, Bogor

JAKARTA - Indeks Kesehatan Laut (IKL) yang umum dikenal dengan Ocean Healt Index (OHI) diperkenalkan sejak tahun 2012. Nilai skor rata-rata OHI lautan global tahun ini adalah 69 dari nilai maksimum 100. Kondisi ini jauh dari ideal dan menunjukkan kecenderungan lautan menghadapi tekanan serius.

Bumi yang kita diami 70 persen adalah lautan yang berperan penting dalam menopang kehidupan umat manusia. Lautan mengandung sumberdaya alam biotik dan abiotik yang dapat dimanfaatkan secara optimal dan lestari.

Sumberdaya ikan (SDI) dari lautan menyumbang sekitar 20-30 persen dari total kebutuhan protein hewani. Ikan juga kaya akan nutrisi penting seperti asam lemak omega-3, vitamin, dan mineral.

Selain sumber makanan, lautan juga menyediakan sumber energi terbarukan, bahan-bahan kimia dan tambang, bahan obat-obatan, jalur transportasi, dan berperan dalam mengendalikan perubahan iklim global.

Namun, dalam 50 tahun terakhir ini lautan menghadapi ancaman yang serius. Salah satu faktor penyebab adalah peningkatan jumlah penduduk dunia yang sangat pesat yakni dari 4,07 miliar pada tahun 1975, sekarang mencapai 8,23 miliar.

Peningkatan jumlah penduduk meningkatkan kebutuhan pangan sehingga terjadi eksploitasi besar-besaran terhadap sumberdaya ikan, yang mengakibatkan terjadi penangkapan yang berlebihan. Menurut laporan Badan Pangan Dunia (FAO) stok ikan dunia sudah berada di bawah batas aman.

Sementara itu, peningkatan jumlah penduduk yang membawa konsekuensi pembukaan lahan besar-besaran di darat, juga mengakibatkan peningkatan polusi di laut, termasuk polusi bahan organik dan anorganik seperti sampah plastik.

Badan Lingkungan Dunia (UNEP) melaporkan bahwa setiap tahun lebih dari 8 juta ton per tahun sampah plastik masuk ke lautan.

Semakin beratnya ancaman terhadap lautan menggugah para ilmuwan untuk memantau dan mengkaji kondisi kesehatan lautan melalui pendekatan ilmiah dan terukur. Untuk itu, dikembangkan suatu indikator yang dikenal dengan Ocean Health Index (OHI).

OHI pertama-tama digagas oleh Professor Ben Halpern dari Universitas California Santa Barbara, AS dan tim yang hasilnya dipublikasi pada Jurnal Nature tahun 2012 dengan judul: “An index to assess the health and benefits of the global ocean".

OHI dikembangkan untuk mengukur secara kuantitatif sejauh mana laut dapat menyediakan jasa ekosistem secara berkelanjutan.

Ada 10 aspek utama yang diukur OHI (IKL) yaitu akses nelayan kecil terhadap sumber daya, produk laut alami seperti rumput laut dan Mutiara, keanekaragaman hayati, dampak ekonomi laut, pariwisata dan rekreasi, perlindungan pantai dari bencana, penyimpanan karbon, identitas budaya pesisir, kebersihan perairan, serta ketersediaan pangan dari laut.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Luar Negeri
Diserang Rudal Iran, Bandar...
Luar Negeri
Warga Singapura Makin Panja...
Luar Negeri
Disapu Topan Jangmi, 23 War...

Babel Gatiskan 6.000 Sertifikat Halal

52 menit yang lalu | Sujar

Daerah
Babel Gatiskan 6.000 Sertif...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar Pagi Ini, Dibayangi Tekanan Global dan Domestik

Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar Pagi Ini, Dibayangi Tekanan Global dan Domestik

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.