Memahami Hikikomori, Perilaku Ekstrem Orang yang Menarik Diri dari Kehidupan Sosial
📅 Sabtu, 03 Jun 2023, 10:28 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: The Conversation/Shutterstock/Momentum Studio
Maki Rooksby, University of Glasgow; Hamish J. McLeod, University of Glasgow, dan Tadaaki Furuhashi, Nagoya University
Hal yang wajar jika terkadang kita merasa ingin bersembunyi dari stres dan tekanan dunia luar. Faktanya, periode penarikan diri yang singkat dapat mengurangi respons stres akut dan dapat membantu kita mengatasi penyakit dan kelelahan.
Masa-masa pelipur lara dan isolasi juga dapat membantu fase-fase perkembangan yang penting - seperti mengeksplorasi identitas diri selama masa remaja.
Namun, beberapa orang tidak muncul kembali dari periode isolasi yang alami. Sebaliknya, mereka menunjukkan sikap menarik diri yang ekstrem dan terus-menerus yang berlangsung selama beberapa dekade, menyebabkan kesusahan pada diri mereka sendiri dan orang-orang yang merawat dan mendukung mereka. Di Jepang, pola perilaku ini sangat umum dan sekarang dikenal dengan istilah hikikomori.
Masalah penarikan diri dari pergaulan yang ekstrem pada anak muda Jepang pertama kali menjadi perhatian pada 1990-an. Ini adalah periode ketika Jepang mengalami "zaman es" ekonomi, yang mencegah banyak anak muda untuk mencapai tujuan mereka.
Sebaiknya Anda baca juga:
Banyak yang menanggapinya dengan bersembunyi untuk menyembunyikan rasa malu yang mereka rasakan. Bagi beberapa orang, mereka tidak muncul kembali.
Istilah hikikomori (berasal dari kata kerja hiki "menarik diri" dan komori "berada di dalam") diciptakan pada 1998 oleh psikiater Jepang, Profesor Tamaki Saito. Saito memilih istilah ini untuk menggambarkan banyak anak muda yang ia lihat tidak sesuai dengan kriteria diagnosis kesehatan mental, tapi tetap berada dalam kondisi menarik diri yang ekstrem dan menyedihkan.
Hikikomori saat ini dipandang sebagai fenomena kesehatan mental sosiokultural bukan sebagai penyakit mental yang berbeda. Mengingat setidaknya 1,2% dari populasi (sekitar satu juta orang) terkena dampaknya, hikikomori adalah masalah sosial dan kesehatan yang signifikan. Hikikomori juga semakin banyak diidentifikasi di negara lain. Istilah ini sekarang digunakan di seluruh dunia untuk menggambarkan siapa saja yang memenuhi kriteria.
Sebaiknya Anda baca juga:
Ada beberapa ciri utama dari hikikomori. Hal ini termasuk orang yang terkena dampak terisolasi secara fisik di rumah mereka selama setidaknya enam bulan, terputus dari hubungan sosial yang berarti dengan tekanan yang signifikan dan gangguan fungsional - seperti menghindari tugas-tugas yang mengharuskan mereka berinteraksi dengan seseorang atau berurusan dengan kebutuhan dasar perawatan diri.
Di samping isolasi fisik, orang yang melakukan hikikomori menunjukkan keterpisahan psikologis yang ekstrem dari dunia sosial. Tempat-tempat interaksi sosial yang aktif diharapkan - seperti sekolah atau tempat kerja - menjadi tidak mungkin bagi orang tersebut. Mereka tetap terputus secara sosial dari orang-orang di sekitar mereka, baik ketika mereka berada di luar rumah atau tidak.
Meski beberapa orang hikikomori, yang disebut soto-komori, dapat melakukan beberapa kegiatan di luar, mereka jarang berinteraksi dengan orang lain. Beberapa orang mungkin menggunakan internet sebagai jendela dunia, tapi mereka sering tidak berinteraksi dengan orang lain.
Kenapa melakukan hikikomori? Malu dan trauma
Penelitian menunjukkan bahwa pengalaman traumatis akan rasa malu dan kekalahan umumnya dilaporkan sebagai pemicu di berbagai budaya - seperti gagal dalam ujian penting, atau tidak mendapatkan pekerjaan yang diinginkan.
Ada kemungkinan bahwa sistem nilai budaya Jepang dapat membuat populasi ini lebih rentan karena tekanan untuk keseragaman kolektif dan ketakutan akan rasa malu sosial. Orang-orang yang melakukan hikikomori menghindari trauma ulang dengan memilih untuk tidak mengikuti jalur "normal" yang ditetapkan oleh masyarakat.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!