Jumlah Korban Bencana Alam Sumatera Lebih dari 900 Orang, Kelaparan Menghantui Para Pengungsi
📅 Minggu, 07 Des 2025, 10:57 WIB | Oleh: Lili Lestari
Doc: Basarnas via AFP
JAKARTA - Jumlah korban meninggal akibat banjir di wilayah Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat telah melampaui 908 orang, dan 410 orang masih belum ditemukan.
Lebih dari 100.000 rumah hancur ketika siklon langka dan kuat terbentuk di Selat Malaka minggu lalu, membawa hujan deras dan tanah longsor ke beberapa wilayah negara Asia Tenggara.
Upaya untuk menjangkau orang-orang di daerah yang masih terputus masih terus dilakukan, dengan bantuan yang harus diterjunkan melalui udara ke beberapa tempat.
Banjir di tiga provinsi di Indonesia merupakan salah satu dari beberapa peristiwa cuaca ekstrem yang melanda Asia dalam beberapa minggu terakhir, dengan jumlah korban tewas kumulatif di Sri Lanka, Thailand, Malaysia, dan Vietnam mendekati 2.000.
Di Aceh Tamiang, salah satu daerah yang paling parah terkena dampak di Indonesia, para penyintas menceritakan desa-desa mereka tersapu bersih oleh banjir bandang yang deras.
Sebaiknya Anda baca juga:
Seorang penyintas di Desa Lintang Bawah menuturkan kepada BBC, warga bertahan hidup dengan cara duduk di atap rumah mereka.
Ada juga yang bertahan hidup di atap rumah bersama anak-anaknya yang berusia empat tahun, selama tiga hari tanpa makan dan minum," kata Fitriana, salah seorang penyintas.
Ia mengatakan sekitar 90% rumah di desanya hancur, membuat 300 keluarga tidak punya tempat tinggal.
Sebaiknya Anda baca juga:
Seorang pria menceritakan bagaimana ia dan keluarganya dievakuasi dengan perahu ketika banjir menggenangi rumahnya hingga ke lantai dua, namun mereka harus mengungsi lagi dari desa terdekat.
"Malam itu, ketika kami sedang tidur, air tiba-tiba membasahi kasur tempat kami tidur [di Desa Gampoeng Dalam]. Tapi kami tidak bisa pergi ke mana pun, karena tidak ada tempat yang lebih tinggi.” katanya.
"Untungnya, rumah menantu perempuan saya ada dua lantai. Jadi kami naik ke atas dan di sanalah kami selamat."
Gubernur Aceh Muzakir Manaf mengatakan tim tanggap darurat masih mencari mayat di lumpur setinggi pinggang.
Namun, kelaparan merupakan salah satu ancaman paling serius yang kini mengancam desa-desa terpencil dan sulit dijangkau.
"Banyak orang membutuhkan kebutuhan pokok. Banyak daerah terpencil di Aceh yang belum tersentuh," ujarnya kepada wartawan.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (3)
05 Apr 2026, 21:42 WIB.
Komentar dihapus otomatis karena terindikasi sebagai spam
Balas05 Apr 2026, 21:42 WIB.
Komentar dihapus otomatis karena terindikasi sebagai spam
Balas05 Apr 2026, 21:42 WIB.
Komentar dihapus otomatis karena terindikasi sebagai spam
BalasSilakan login via Google untuk dapat memberi komentar!