Jelajahi Pengetahuan Lokal, Melalui Platform “Akal Lokal”
📅 Selasa, 14 Jan 2025, 14:32 WIB | Oleh: Mohammad Zaki Alatas
Doc: Dok. Istimewa
JAKARTA – Platform digital "Akal Lokal" yang berisi konten tradisi asal Indonesia dari berbagai daerah diluncurkan pada Sabtu, (11/1) di Jakarta dengan harapan dapat menjadi sumber informasi baru terpercaya tentang tradisi masyarakat Indonesia.
Berangkat dari realita bahwa di era digital ini, pengetahuan lokal sering kali terpinggirkan oleh arus informasi global, platform "Akal Lokal" diharapkan dapat menjawab tantangan tersebut.
Direktur Eksekutif Yayasan Bina Usaha Lingkungan Yanidar Witjaksono mengatakan bahawa Platform "Akal Lokal" lahir dari kolaborasi Terasmitra (TM) bersama Bali Lite dengan dukungan dari Global Environment Facility-Small Grant Program (GEF/SGP) dan United Nations Developments Programme (UNDP), yang diharapkan akan terus menjadi sebuah wadah untuk memperoleh beragam pengetahuan yang didedikasikan untuk mendokumentasikan dan menyebarluaskan kekayaan pengetahuan lokal Indonesia.
"Pengetahuan lokal adalah harta karun yang tak ternilai. Melalui "Akal Lokal", kita dapat menjaga agar kearifan lokal tidak hilang ditelan zaman," katanya dalam keterangan tertulisnya, belum lama ini.
Acara peluncuran platform "Akal Lokal" dilaksanakan di Serambi Salihara, Jakarta Selatan, juga menandai 14 tahun kerja-kerja Teras Mitra yang selama kurang lebih delapan tahun terakhir merekam beragam tradisi lokal yang hidup di masyarakat di berbagai daerah di Indonesia melalui kerja-kerja pendampingan masyarakat dan riset.
Sebaiknya Anda baca juga:
“Selama 14 tahun perjalanan kami, kami menyadari betapa pentingnya kearifan lokal dalam menjaga kelestarian alam. Akal Lokal adalah upaya kami untuk memastikan warisan budaya ini tetap hidup dari generasi ke generasi,” ungkap Co-Founder Terasmitra Adinindyah saat peluncuran platform pengetahuan tersebut.
Diharapkan platform "Akal Lokal" dapat menjadi sebuah platform kolaborasi edukatif digital yang menghubungkan komunitas, akademisi, organisasi masyarakat, dan publik umum untuk berbagi wawasan berbasis kearifan lokal.
Geger Riyanto, antropolog dan akademisi dari Universitas Indonesia saat menyampaikan pidato kunci pada peluncuran platform Akal Lokal menaruh harapan besar pada platform ini untuk memperkaya kemanusiaan dunia.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Saya membayangkan platform Akal Lokal dapat berkontribusi. Ia menyediakan sebuah wadah di mana warga dapat berkontribusi menuangkan pengetahuan lokal sehari-hari mereka, yang sebenarnya berharga dan rentan hilang. Bisa juga, mereka menceritakan tentang ingatan-ingatan paling berkesan tentang apa yang sudah tak mereka jumpai di sekitarnya," harapnya.
Ke depan, siapa saja dimungkinkan untuk menjadi kontributor dan mendokumentasikan pengetahuan yang penting untuk pelestarian budaya, inovasi lokal, dan pembangunan berkelanjutan bagi platform "Akal Lokal".
Hal ini terungkap dari diskusi pemantik pada peluncuran platform Akal Lokal, yang dimoderatori oleh Co-Founder Terasmitra Dicky Lopulalan.
"Akal Lokal pada dasarnya adalah platform partisipasi. Teman-teman bisa membuat akun dan memasukkan tulisan," kata Amelia Rina Nogo de Ornay, Koordinator Knowledge Management Terasmitra.
"Kenapa kita buat Akal Lokal? Itu adalah bentuk kreatifitas lain dari pengelolaan pengetahuan. Kalau buat buku, ya kami buat buku. Buat film, ya film, tapi bagaimana kami bisa mengajak teman-teman semua yang punya pengetahuan lokal yang mungkin resource-nya banyak, kalau kita kumpulkan di satu tempat, akan kaya," tambahnya.
Sekjen Ikatan Wartawan Online(IWO) yang juga Co-Founder dan Ketua Komunitas Perempuan Berkebaya Lia Nathalia memberikan beberapa input teknis dari sisi jurnalistik serta pertimbangan untuk keberlanjutan platform "Akal Lokal" dan menjadi sumber informasi edukatif terpercaya.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!