Ilmuwan Ini Memperingatkan Manusia Jangan Sampai Terlambat Menyadari Ancaman AI
📅 Minggu, 12 Nov 2023, 00:38 WIB | Oleh: Selocahyo Basoeki Utomo S
Doc: Istimewa
TORONTO - Ilmuwan komputer dan psikolog kognitif dari Kanada, Geoffrey Hinton, yang dikenal sebagai "Godfather of Al", baru-baru ini memperingatkan, kecerdasan buatan atau Artificial intelligence (Al), memiliki potensi serius untuk menjadi terlalu pintar dan mengambil kendali.
Dia yakin Al dapat belajar, membuat pilihan, dan bahkan mendapatkan kesadaran diri, tetapi ia belajar secara berbeda dari manusia, sehingga menimbulkan tantangan.
Dikutip dari tayangan acara "60 Menit" CBS News, Hinton khawatir tentang Al yang bertindak mandiri dan menjadi makhluk hidup.
Menurutnya, umat manusia tidak menyadari akan potensi bahaya dari AI.
"Saya kira kita sedang dalam periode, yang pertama kali dalam sejarah, ada sesuatu yang lebih cerdas dari kita," ujarnya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Hinton juga yakin AI dapat memahami berbagai hal, cerdas, dan sistem AI dapat belajar dari pengalamannya sendiri.
"Sama seperti pada manusia. Dan mereka mememiliki kesadaran diri," ujarnya, menambahkan bahwa manusia hanya akan menempati urutan kedua dalam hal kecerdasan.
Sejak 2013 hingga 2023, Hinton membagi waktunya bekerja untuk Google ( Google Brain ) dan Universitas Toronto, sebelum secara terbuka mengumumkan kepergiannya dari Google pada Mei 2023, dengan alasan kekhawatiran akan risiko teknologi AI. Pada 2017, ia ikut mendirikan dan menjadi kepala penasihat ilmiah di Vector Institute di Toronto.
Sebaiknya Anda baca juga:
"AI berkembang jauh lebih lama dari yang saya perkirakan, saya kira perlu waktu 50 tahun, tapi pada akhirnya berhasil bekerja dengan baik," ungkapnya.
Pada tahun 2019, Hinton dan rekannta, Yann Lecun, dan Yoshua Bengio, memenangkan Penghargaan Turing, Hadiah Nobel bidang komputasi.
Menurut Hinton, bahkan chatbot terbesar hanya memiliki sekitar satu triliun koneksi di dalamnya, sedangkan otak manusia memiliki sekitar 100 triliun.
"Namun, dari triliunan koneksi di chatbot, ia mengetahui jauh lebih banyak daripada yang Anda ketahui dalam seratus triliun koneksi Anda, yang menunjukkan bahwa ia memiliki cara yang jauh lebih baik untuk memasukkan pengetahuan ke dalam koneksi tersebut," ujarnya.
Hinton mengatakan, para ilmuwan merancang algoritma pembelajaran bagi AO. Itu seperti merancang prinsip evolusi. Namun ketika algoritma pembelajaran ini kemudian berinteraksi dengan data, menghasilkan jaringan saraf rumit yang mampu melakukan sesuatu dengan baik.
"Namun kami tidak benar-benar memahami bagaimana mereka melakukan hal-hal tersebut," terangnya.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!