Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Gelar Pahlawan Soeharto Kontroversial, Fadli Zon Ungkap Jasa di Serangan Umum 1 Maret

📅 Rabu, 07 Mei 2025, 10:02 WIB | Oleh:
Gelar Pahlawan Soeharto Kontroversial, Fadli Zon Ungkap Jasa di Serangan Umum 1 Maret Doc: Kumparan/yds
Ket. Menteri Kebudayaan, Fadli Zon membantah usulan pemberian gelar Pahlawan bagi Soeharto ini datang dari "pesanan" Presiden Prabowo Subianto.

JAKARTA – Debat seputar kelayakan gelar pahlawan bagi Soeharto tampaknya akan terus bergulir, mencerminkan upaya menyeimbangkan berbagai aspek sejarah seorang tokoh yang sangat kompleks di mata bangsa Indonesia.

Wacana pemberian gelar Pahlawan Nasional untuk Presiden ke-2 RI, Soeharto, kembali mengemuka dan memicu perdebatan sengit di publik. Usulan ini dipertanyakan banyak pihak mengingat catatan kelam terkait pelanggaran HAM dan praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) di era kepemimpinannya.

Namun, pihak pengusul bersikukuh ada jasa besar di masa perjuangan yang menjadi alasan utama, terlepas dari kontroversi Orde Baru.

Menteri Kebudayaan, Fadli Zon, membantah usulan ini datang dari "pesanan" Presiden Prabowo Subianto. Ia menegaskan bahwa kajian dan usulan gelar pahlawan untuk Soeharto sudah bergulir sejak lama. Fadli Zon justru menyoroti jasa Soeharto saat masih berpangkat Letnan Kolonel dalam peristiwa Serangan Umum 1 Maret 1949 di Yogyakarta.

"Tidak bisa dipungkiri bahwa yang memimpin pertempuran itu namanya Letkol Soeharto. Dalam sejarah mana pun itu jelas," kata Fadli Zon di Jakarta, Selasa (6/5) kemarin. Menurutnya, peran vital Soeharto dalam operasi militer yang membuktikan eksistensi RI pasca-agresi Belanda itulah alasan fundamental mengapa ia layak dianugerahi gelar pahlawan, mengacu pada kontribusinya di era revolusi fisik.

Seorang sejarawan militer, Dr. Agus Widjaja, pun menjelaskan bahwa pengusulan gelar pahlawan memang seringkali kompleks, melibatkan penimbangan seluruh rekam jejak tokoh.

"Serangan Umum 1 Maret adalah peristiwa yang sangat penting secara militer dan diplomasi. Peran komandan lapangan saat itu memang tidak bisa dihapuskan dari sejarah," jelas Dr. Agus.

Ia menambahkan, argumen di balik usulan gelar pahlawan untuk figur kontroversial biasanya berfokus pada pengakuan atas jasa heroik spesifik di masa kritis perjuangan kemerdekaan, yang oleh sebagian pihak dianggap 'menebus' atau setidaknya menjadi sisi lain yang patut diakui dalam sejarah panjang tokoh tersebut, meski catatan negatif di era berikutnya tidak bisa diabaikan.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Luar Negeri
Disapu Topan Jangmi, 23 War...

Babel Gatiskan 6.000 Sertifikat Halal

32 menit yang lalu | Sujar

Daerah
Babel Gatiskan 6.000 Sertif...
Luar Negeri
Bandara Dihantam Rudal, Kuw...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar Pagi Ini, Dibayangi Tekanan Global dan Domestik

Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar Pagi Ini, Dibayangi Tekanan Global dan Domestik

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.