Dampak Antropogenik Mendorong Hewan Melakukan Evolusi
📅 Rabu, 12 Jun 2024, 06:10 WIB | Oleh: Haryo Brono
Doc: Wikimedia
Perubahan lingkungan yang disebabkan perilaku manusia berpengaruh terhadap beberapa spesies hewan. Mereka berevolusi dengan mengubah tempat tinggal, tempat berkembang biak, jenis makanan, lawan dan teman.
Ngengat berbintik merupakan contoh ikonik teori evolusi Charles Darwin melalui seleksi alam. Selama berabad-abad ngengat berbintik (Biston betularia) biasa ditemukan di hutan sekitar Manchester, Inggris, dan tempat lainnya. Dengan sayapnya yang berwarna terang, ngengat berbintik menyamarkan diri dari predator dengan kulit pohon berwarna abu-abu muda tempat mereka beristirahat pada siang hari.
Namun, pada awal abad ke-19, jelaga dari revolusi industri telah menciptakan lingkungan evolusi baru yang membuat ngengat menjadi berwarna gelap. Hal ini untuk menyesuaikan dengan dengan pohon yang tertutup jelaga.
Pada 1950-an dan 1960-an, ahli biologi evolusi menemukan bahwa di kawasan industri, 80 persen ngengat berwarna gelap dan ngengat gelap memiliki keunggulan bertahan hidup dengan perbandingan 2:1 dibandingkan ngengat berwarna terang di kawasan tersebut.
Saat ini, di era genetika molekuler, kita mengetahui mutasi yang mungkin menghasilkan ngengat berwarna gelap terjadi sekitar tahun 1819 dan merupakan hasil dari "gen yang melompat" pada bagian DNA yang mengubah posisi dalam genom dan dapat menciptakan mutasi dalam prosesnya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Penggelapan warna pada ngengat berbintik juga merupakan contoh evolusi antropogenik atau perubahan evolusi yang disebabkan oleh perubahan yang dilakukan manusia terhadap lingkungan. Dalam beberapa tahun terakhir, para ilmuwan telah mengidentifikasi lebih banyak kasus perubahan evolusi yang dimediasi manusia.
Cakupan dan dampak penuh dari evolusi antropogenik baru sekarang menjadi fokus. Manusia membentuk lintasan evolusi hewan di seluruh dunia, mulai dari serangga hingga paus. Sebagai hasil dari pengaruh manusia, aspek-aspek utama perilaku hewan berubah, termasuk tempat tinggal mereka, tempat mereka berkembang biak, apa yang mereka makan, siapa yang mereka lawan dan siapa yang teman mereka.
Manusia ternyata tidak hanya mengubah lingkungan tempat spesies hidup, namun juga mengubah spesies itu sendiri saat mereka berevolusi sebagai respons terhadap dampak terhadap lingkungan mereka. Salah satu konsekuensi dari perubahan ini adalah menciptakan ketidaksesuaian antara hewan dan lingkungan tempat mereka berevolusi.
Sebaiknya Anda baca juga:
Makhluk yang dulunya diperlengkapi dengan baik untuk menghadapi tantangan lingkungan mereka tiba-tiba menghadapi dunia di mana adaptasi perilaku mereka yang telah disesuaikan dengan baik, tidak lagi adaptif sama sekali. Pada beberapa spesies, seleksi alam mengkalibrasi ulang perilaku sehingga individu lebih cocok dengan keadaan baru mereka.
Pertanyaannya adalah apakah hal itu akan dapat dilakukan cukup cepat untuk mengimbangi transformasi manusia di planet yang ditinggali bersama?
Selama rentang waktu evolusi yang panjang, seleksi alam telah mendukung hubungan yang erat antara suhu sekitar dan dimulainya musim kawin bagi banyak hewan, termasuk burung. Hormon yang terkait dengan reproduksi mulai bekerja saat cuaca menghangat membuat burung kawin, membangun sarang, dan membawa makanan pulang untuk disimpan di mulut anak-anaknya yang sedang menunggu.
Bagi burung layang-layang pohon (Tachycineta bicolor), musim semi adalah pemicu yang memulai reproduksi itu. Namun, pemicu itu sekarang ditarik lebih dini yang sebagian besar sebagai akibat dari peningkatan emisi karbon dioksida dimana suhu musim semi rata-rata untuk burung layang-layang pohon yang hidup di New York utara meningkat sekitar 1,9 derajat Celsius antara tahun 1972 dan 2015, dan kala itu musim semi dimulai lebih awal.
Selama periode yang sama, burung layang-layang pohon mulai berkembang biak 13 hari lebih awal. Isyarat lingkungan yang digunakan burung untuk menentukan waktu berkembang biak menjadi tidak sesuai dengan kondisi mereka yang berubah.
Karena ketidaksesuaian ini, burung layang-layang yang sedang berkembang biak berisiko mengalami cuaca dingin yang tidak akan mereka alami. Cuaca dingin ini tidak secara langsung memengaruhi kelangsungan hidup burung dewasa, tetapi mengurangi aktivitas mangsa serangga yang dibawa burung layang-layang untuk anak-anaknya yang lapar.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!