Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

BMKG: Manfaatkan Puncak Musim Hujan untuk Genjot Produksi Pangan!

📅 Minggu, 02 Nov 2025, 20:40 WIB | Oleh: Tim Redaksi
BMKG: Manfaatkan Puncak Musim Hujan untuk Genjot Produksi Pangan! Doc: istimewa
Ket. BMKG memproyeksikan puncak musim hujan akan berlangsung pada November 2025 hingga Februari 2026, dengan intensitas curah hujan normal hingga di atas normal di sebagian besar wilayah Indonesia. Hal ini menjamin pasokan air permukaan melimpah yang dapat dimanfaatkan secara optimal untuk irigasi pertanian dan pengisian waduk

 JAKARTA- Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memproyeksikan puncak musim hujan akan berlangsung pada November 2025 hingga Februari 2026, dengan intensitas curah hujan normal hingga di atas normal di sebagian besar wilayah Indonesia. Kondisi ini diharapkan menjadi momentum emas bagi sektor pertanian untuk meningkatkan produksi pangan dan memperkuat ketahanan pangan nasional.

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati, menjelaskan kondisi atmosfer saat ini menunjukkan penguatan Monsun Asia, anomali suhu muka laut positif, dan peningkatan uap air di atmosfer. Ketiga faktor tersebut mendorong terjadinya peningkatan curah hujan di sebagian besar wilayah Indonesia.

“Kondisi suhu muka laut yang lebih hangat meningkatkan penguapan dan memperkaya uap air di atmosfer. Hal ini menjamin pasokan air permukaan melimpah, yang dapat dimanfaatkan secara optimal untuk irigasi pertanian dan pengisian waduk,” jelas Kepala BMKG Dwikorita Karnawati dalam Jumpa Pers Kesiapsiagaan Dalam Menghadapi Puncak Musim Hujan 2025/2026 di Jakarta, Sabtu (1/11).

Dwikorita menegaskan bahwa air hujan melimpah pada periode ini dapat menjadi fondasi penting bagi peningkatan produktivitas pertanian, jika dikelola dengan tepat. Curah hujan yang cukup berperan besar dalam: (1) Mengisi waduk dan saluran irigasi, menjaga ketersediaan air untuk dua hingga tiga musim tanam berikutnya; (2)Menjamin keberlanjutan sawah tadah hujan, yang selama musim kemarau mengalami keterbatasan pasokan air; (3) Meningkatkan luas tanam dan frekuensi panen, terutama di daerah dengan indeks pertanaman rendah.

Sebagai langkah antisipatif, BMKG bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) telah mengintensifkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk mengatur distribusi curah hujan agar lebih merata. Teknologi ini bertujuan untuk mengurangi potensi curah hujan ekstrem di wilayah padat penduduk dan memindahkan uap air ke kawasan pertanian yang membutuhkan pasokan air tambahan.

“Kesiapsiagaan sistemik dari BMKG dengan memberikan peringatan dini, kita dapat mengubah potensi bencana menjadi manfaat bagi sektor pertanian. Kami memberikan informasi, pemerintah daerah dan masyarakat melakukan aksi dini. Dengan sinergi ini, berkah air hujan yang melimpah dapat diubah menjadi panen raya,” ujar Dwikorita

Menurut data BMKG, operasi modifikasi cuaca yang telah dilaksanakan di Jawa Barat, DKI Jakarta, Jawa Tengah, dan DIY menunjukkan hasil positif. Upaya ini berhasil menekan risiko banjir di daerah rawan sekaligus menjaga lahan pertanian dari genangan berlebih, sehingga proses tanam dan panen tetap optimal.

Perluas Tanam

Kementerian Pertanian (Kementan) menilai bahwa prediksi dan langkah mitigasi yang dilakukan BMKG merupakan bentuk sinergi ilmiah yang sangat strategis bagi pembangunan pertanian nasional. Melalui informasi iklim yang akurat, pemerintah dapat menyusun kalender tanam nasional berbasis cuaca dan memastikan distribusi sarana produksi pertanian tepat waktu.

“Kami berterima kasih kepada BMKG atas data dan dukungan ilmiah yang menjadi dasar kebijakan tanam presisi di lapangan. Kementan tentunya akan memanfaatkan momentum puncak hujan ini untuk memperluas tanam dan mengamankan pasokan pangan nasional,” ujar Kepala Biro Komunikasi dan Layanan Informasi Kementan Moch Arief Cahyono di Jakarta.

Dengan dukungan data iklim yang solid, kesiapsiagaan lintas sektor, dan kolaborasi antara BMKG, BNPB, dan Kementan, Indonesia optimistis dapat menjadikan musim hujan tahun ini bukan sebagai tantangan, melainkan sebagai peluang strategis menuju kedaulatan pangan yang berkelanjutan.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Daerah
Taman Safari Prigen Perkena...
Megapolitan
PIN SPMB Belum Masuk? Ini P...
Megapolitan
DKI Perluas Pelatihan Kerja...
Nasional
DPR Minta Kepala BGN Baru F...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar Pagi Ini, Dibayangi Tekanan Global dan Domestik

Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar Pagi Ini, Dibayangi Tekanan Global dan Domestik

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.