Berprinsip Toleransi Bukan Slogan, Pemprov NTB Tak Larang Pawai Ogoh-ogoh dan Takbiran
📅 Minggu, 15 Mar 2026, 14:33 WIB | Oleh: SriyonoMATARAM - Pemerintah Provinsi (Pemprov) Nusa Tenggara Barat (NTB) memastikan tidak ada pelarangan pawai ogoh-ogoh menjelang Hari Raya Nyepi maupun pawai takbiran menyambut Idul Fitri, meski waktu kedua perayaan keagamaan itu saling berdekatan.
"Seluruh kegiatan keagamaan tersebut tetap dapat dilaksanakan sebagaimana biasa dengan tetap memperhatikan ketertiban serta kesepahaman bersama di tingkat masyarakat," kata Juru Bicara Pemerintah NTB Ahsanul Khalik di Mataram, Minggu (15/3).
Ahsanul mengatakan masyarakat NTB sejak lama memiliki tradisi toleransi yang kuat dan saling menghargai dalam menjalankan ajaran serta ritual agama masing-masing.
Momentum beririsan antara perayaan Nyepi dan Idul Fitri merupakan kesempatan bagi masyarakat untuk menunjukkan sikap saling menghormati dalam kehidupan beragama.
"Toleransi bukan sekedar slogan, tetapi telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat sehari-hari," ucap Ahsanul.
Sebaiknya Anda baca juga:
Lebih lanjut ia menegaskan bahwa Pemerintah NTB mendukung seluruh kegiatan keagamaan masyarakat sepanjang dilaksanakan dengan tertib dan saling menghargai satu sama lain.
Di Kota Mataram, pemerintahan setempat bersama tokoh agama Hindu dan Islam, panitia pawai ogoh-ogoh, panitia takbiran, Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), serta aparat keamanan telah melakukan sejumlah pertemuan koordinasi untuk memastikan kedua kegiatan berjalan dengan baik.
Beberapa kesepakatan mencakup tata tertib pelaksanaan kegiatan, jumlah peserta termasuk pembatasan peserta dari luar daerah, pengaturan rute kegiatan, ketepatan waktu pelaksanaan, serta pengawalan oleh aparat keamanan.
Sebaiknya Anda baca juga:
Koordinasi serupa juga dilakukan di sejumlah daerah lain di NTB, termasuk di wilayah Lingsar dan Narmada di Kabupaten Lombok Barat, Kabupaten Sumbawa, serta beberapa kawasan lainnya yang juga melaksanakan kegiatan serupa.
Menurut Ahsanul, masyarakat NTB telah menunjukkan kedewasaan dalam kehidupan beragama dengan saling memberi ruang bagi pelaksanaan ibadah masing-masing.
Umat Islam memberikan ruang kepada umat Hindu untuk melaksanakan rangkaian Hari Raya Nyepi yang diawali dengan pawai ogoh-ogoh dan dilanjutkan dengan Catur Brata Penyepian.
Sedangkan, umat Hindu juga memberikan penghormatan terhadap pelaksanaan malam takbiran dan Shalat Idul Fitri yang menjadi bagian dari perayaan Hari Raya Idul Fitri umat Islam.
"Kehidupan masyarakat NTB yang saling menghormati pelaksanaan ibadah masing-masing agama merupakan kekuatan sosial yang harus terus kita jaga,” imbuh Ahsanul yang menjabat Kepala Dinas Komunikasi, Informatika, dan Statistik NTB tersebut.
Pemerintah NTB mengimbau agar seluruh elemen masyarakat turut menjaga suasana kondusif selama berlangsungnya rangkaian perayaan keagamaan tersebut.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!