Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Beda Baby Blues Syndrome dan Postpartum Depression, Seberbahaya Apa?

📅 Jumat, 23 Des 2022, 11:07 WIB | Oleh:
Beda Baby Blues Syndrome dan Postpartum Depression, Seberbahaya Apa? Doc: Telegraph.uk
Ket. Ilustrasi seorang ibu mengalami baby blue syndrome.

Kamu mungkin sudah tidak asing dengan istilah baby blues syndrome yang dipakai untuk mendeskripsikan rasa stres yang dialami para ibu pasca melahirkan sang buah hati.

Kelahiran bayi pertama dapat memicu berbagai emosi yang kuat, mulai dari kegembiraan dan kecemasan. Faktanya, memiliki anak pertama juga bisa mengakibatkan sesuatu yang mungkin tidak terduga, yaitu depresi.

Sekitar 85 persen wanita memang mengalami beberapa jenis gangguan suasana hati atau mood disorder pasca melahirkan, terutama jika itu kehamilan pertama mereka. Namun, baby blues syndrome yang tidak teratasi juga dapat menimbulkan postpartum depression.

Pusat Kesehatan Mental Wanita di Massachusetts General Hospital, Amerika melaporkan 10 hingga 15 persen wanita mengembangkan gejala depresi atau kecemasan yang lebih signifikan.

Lalu apa yang membedakan baby blues syndrome dengan postpartum depression?

Umumnya, baby blues syndrome terjadi selama beberapa minggu pertama setelah melahirkan. Mengingat betapa umum jenis gangguan suasana hati ini, baby blues syndrome mungkin lebih akurat dianggap sebagai perasaan sedih yang normal setelah melahirkan daripada penyakit kejiwaan.

Wanita dengan baby blues syndrome pasca melahirkan kerap melaporkan suasana hati yang labil, mudah menangis, gelisah, atau mudah tersinggung.

Gejala ini biasanya memuncak pada hari keempat atau kelima setelah melahirkan dan dapat berlangsung selama beberapa hari lalu menghilang secara spontan dalam waktu dua minggu setelah melahirkan.

Meskipun gejala baby blues syndrome seringkali meresahkan, namun kondisi ini tidak diperlukan perawatan khusus. Hanya saja, perlu dicatat bahwa terkadang perasaan sedih menandakan perkembangan gangguan suasana hati yang lebih signifikan, terutama pada wanita yang memiliki riwayat depresi.

Jika gejala depresi bertahan lebih dari dua minggu, pasien harus dievaluasi untuk menyingkirkan gangguan yang lebih serius seperti postpartum depression.

Postpartum depression mungkin disalahartikan sebagai baby blues syndrome pada awalnya. Akan tetapi, gejalanya yang lebih intens dan bertahan lebih lama pada akhirnya dapat mengganggu kemampuan orang tua untuk merawat bayi mereka dan bahkan kesulitan menangani tugas sehari-hari lainnya.

Berbeda dari baby blues syndrome, postpartum depression biasanya muncul dua hingga delapan minggu setelah melahirkan tetapi bisa terjadi hingga satu tahun setelah bayi lahir.

Salah satu hal penting tentang postpartum depression adalah tidak hanya merasa sedih tapi juga perasaan cemas yang intens.

Beberapa gejala postpartum depression yang harus diwaspadai antara lain merasa kewalahan, menangis terus-menerus, kurangnya ikatan dengan bayi, dan meragukan kemampuan diri sendiri untuk merawat bayi.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

PIN SPMB Belum Masuk? Ini Penyebab dan Cara Ceknya

38 menit yang lalu | Andes Tanjung

Megapolitan
PIN SPMB Belum Masuk? Ini P...
Nasional
SBY: Kepercayaan Publik Jad...
Megapolitan
DKI Perluas Pelatihan Kerja...
Nasional
DPR Minta Kepala BGN Baru F...
Nasional
Atap bangunan sekolah SDN d...
Megapolitan
Operasi uji emisi kendaraan...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar Pagi Ini, Dibayangi Tekanan Global dan Domestik

Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar Pagi Ini, Dibayangi Tekanan Global dan Domestik

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.