Banyak Diaspora Indonesia Ogah Pulang ke Tanah Air, Ini Alasan Utamanya
📅 Kamis, 09 Feb 2023, 14:52 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: The Conversation
Musa Maliki, UPN Veteran Jakarta
Baru-baru ini Menteri Keuangan Sri Mulyani meminta para alumni penerima beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) yang studi di luar negeri untuk pulang ke Indonesia seusai sekolah. Ia khawatir jika tidak pulang, mereka lupa menjadi orang Indonesia.
Permintaan tersebut merespons Direktur Utama LPDP Andin Hadiyanto yang mengungkapkan bahwa ada 413 alumni beasiswa lembaganya belum kembali ke Indonesia. Padahal, dalam perjanjiannya, jika tidak kembali ke tanah air, mereka wajib membayar ganti rugi.
Hingga saat ini, banyak diaspora Indonesia yang berkegiatan di sektor informal maupun profesional di luar negeri, termasuk para alumni beasiswa, dan enggan kembali ke tanah air. Mereka dituntut mengabdi di Indonesia dan memajukan bangsa atas nama loyalitas.
Sebagai pakar politik dan hubungan internasional sekaligus seorang diaspora Australia (delapan tahun) dan Brunei Darussalam (dua tahun), saya justru mengamati banyak warga negara Indonesia yang berkontribusi untuk tanah air dalam konteks sosial, kemanusiaan, dan dunia, tanpa harus menetap di Indonesia.
Sebaiknya Anda baca juga:
Pada dasarnya, yang terpenting bagi para diaspora sebenarnya bukanlah "berada di Indonesia", tapi memegang prinsip kosmopolitanisme (gagasan yang menekankan keakraban kelompok) sekaligus nasionalisme demi kemajuan tanah air.
Mengapa Banyak Diasppora Enggan "Pulang"?
Berdasarkan pengamatan saya, beberapa warga Indonesia memilih berdiam di luar negeri karena cukup dihargai di negeri orang sebagai manusia seutuhnya. Mereka mengklaim masih bisa berkontribusi untuk Indonesia.
Sebaiknya Anda baca juga:
Contohnya adalah teman saya asal Madura yang kini menetap di Australia. walaupun pekerjaan cleaning service, ia bisa memiliki rumah, mobil, serta pekerjaan tetap dan layak sehingga bisa membantu keluarga maupun kawan-kawannya di kampung halaman.
Teman saya juga aktif menjadi anggota Nahdlatul Ulama (NU). Ia menebarkan ajaran Islam Nusantara di Australia melalui pengajian dan tradisi khas NU dan Maduranya.
Andil serupa juga dilakukan oleh teman saya, dosen di Universiti Brunei Darussalam. Beliau aktif membantu kawan-kawan di Indonesia mendapatkan beasiswa ke Brunei. Ia juga membiayai mahasiswa Indonesia yang berpotensi untuk sekolah di Brunei. Ia juga membantu kolaborasi agar kawan-kawan dosen Indonesia dapat masuk artikelnya di scopus.
Kepada saya, dia menceritakan alasannya menetap di Brunei karena negara tersebut amat menghargai profesinya untuk terus berkembang. Keluarganya pun dapat hidup berkecukupan, anak-anaknya bisa belajar di sekolah internasional dengan pendidikan berkualitas.
Memang, di Indonesia pun mereka juga bisa mendapatkan pekerjaan. Tetapi menurut sebagian besar para diaspora, pekerjaan tersebut belum bisa membuat mereka mampu mengembangkan dirinya, ilmunya, dan mencukupi keluarganya. Akibatnya, anak bangsa yang pintar di Indonesia tidak bisa menerapkan kepintaran mereka dengan optimal.
Hal tersebut diakui Direktur Utama LPDP sebagai salah satu alasan penerima beasiswa mereka tidak mau kembali ke Indonesia. Pasalnya, mereka bekerja yang di luar negeri mendapatkan gaji lebih tinggi, sehingga lebih memilih bayar ganti rugi daripada kembali ke Indonesia.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!