Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Apa Itu Ultra Food yang Menyebabkan Kanker Berbahaya

📅 Kamis, 28 Agu 2025, 02:33 WIB | Oleh:
Apa Itu Ultra Food yang Menyebabkan Kanker Berbahaya Doc: ist
Ket. jenis-jenis makanan

JAKARTA – Hati-hati mengonsumsi makanan. Mesti pilih-pilih yang sehat, jangan terlalu banyak mengonsumsi ultra food. Apa itu ultra food. Ini adalah makanan olahan. Bahayanya dia kalau terlalu banyak dimakan, akan menyebabkan kanker usus.

Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (Papdi) mengatakan bahwa salah satu makanan yang berisiko dapat meningkatkan kasus kanker usus di Indonesia adalah makanan atau minuman yang sudah mengalami proses olahan panjang (ultra-processed food).

"Jadi, makanan ultra-food itu diindikasikan memang menjadi penyebab kanker usus banyak sehingga sekarang banyak ajakan untuk hidup sehat, jaga makan," kata Ketua Umum PP Papdi Dr dr Eka Ginanjar, SpPD. Eka menekankan bahwa gizi yang terkandung dalam sebuah makanan yang terlalu lama melewati proses olahan sudah berubah. Makanan itu juga dipastikan sudah ditambahkan berbagai macam zat pemanis dan pengawet sehingga berbahaya bagi kesehatan usus.

Dikhawatirkan berbagai zat yang digunakan dalam proses pengolahan masuk ke dalam jaringan usus, dan jika dikonsumsi secara terus menerus dapat menyebabkan kondisi yang serius. Dia juga menyayangkan bahwa saat ini generasi muda di Indonesia terlanjur lebih memilih untuk mengonsumsi makanan tersebut karena mudah untuk diakses dan bisa cepat dinikmati.

Dokter penyakit dalam lulusan Universitas Indonesia itu menyarankan agar masyarakat, khususnya generasi muda, kembali mengonsumsi makanan alami seperti makanan yang mengandung protein, karbohidrat yang baik, rajin memakan sayur dan buah untuk memenuhi kebutuhan cairan dan mineral. "Makanan sehat itu makanan yang proteinnya cukup, karbohidratnya cukup, nasi yang memang betul-betul nasi, dimasak, protein itu seperti daging, yang digoreng, dibakar, direbus tidak sampai dibuat olahan dan lain sebagainya," kata Eka.

Di samping mengonsumsi makanan alami, Eka juga mengingatkan bahwa kesehatan merupakan sebuah investasi jangka panjang yang dapat dirasakan oleh generasi muda selama 20 hingga 30 tahun ke depan. Oleh karena itu, kesehatan perlu dijaga dengan melakukan gaya hidup sehat, misalnya dengan rajin berolahraga dan tidak merokok.

Rekomendasi berikutnya yakni lebih peduli terhadap kesehatan tubuh melalui deteksi dini. Eka mencontohkan masyarakat dapat segera berkonsultasi dengan dokter jika sudah merasakan adanya gejala berupa bentuk feses menyerupai kerikil atau berbentuk bulat-bulatan kecil, merasa lemas dan mengalami penurunan berat badan berkepanjangan.

Berdasarkan data Globocan pada 2020, Eka turut membeberkan bahwa kasus baru kanker usus di Indonesia sudah mencapai sebesar 34.189 atau sebesar 8,6 persen di seluruh kalangan usia. Jenis kanker tersebut masuk sebagai kanker yang paling banyak mengenai masyarakat bersama dengan kanker payudara, kanker serviks dan kanker paru.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Daerah
Taman Safari Prigen Perkena...
Ekonomi
Rupiah Tembus Rp18.000 per ...
Megapolitan
PIN SPMB Belum Masuk? Ini P...
Nasional
Huntara di Langkahan roboh ...
Nasional
Atap bangunan sekolah SDN d...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar Pagi Ini, Dibayangi Tekanan Global dan Domestik

Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar Pagi Ini, Dibayangi Tekanan Global dan Domestik

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.