Perimenopause Mulai Dialami Perempuan Usia 40-an, Kenali Gejala dan Penanganannya
Rabu, 04 Nov 2026, 19:07 WIB | Oleh: Haryo Brono"Penilaian tersebut mencakup riwayat penyakit kardiovaskular, risiko osteoporosis, riwayat kanker payudara atau endometrium, fungsi hati, tekanan darah, kadar gula darah, kolesterol, dan gaya hidup," ungkapnya.
Pilihan penanganan dapat berupa terapi nonhormonal, hormonal, maupun pengobatan untuk kondisi kesehatan tertentu yang menyertai perimenopause.
Terapi nonhormonal antara lain dilakukan melalui perubahan gaya hidup, olahraga teratur, dan perbaikan pola makan. Sementara itu, terapi hormon dapat dipertimbangkan untuk mengatasi gejala akibat perubahan kadar hormon. Pemberiannya dapat ditujukan untuk memperoleh efek sistemik atau efek lokal, sesuai kebutuhan dan kondisi pasien.
Adapun penanganan spesifik diperlukan apabila pasien juga memiliki masalah kesehatan lain, seperti hipertensi atau diabetes. Terapi hormon tidak selalu dibutuhkan oleh setiap perempuan yang mengalami perimenopause. Keputusan penggunaannya perlu mempertimbangkan manfaat, risiko, dan kemungkinan kontraindikasi, serta dilakukan di bawah pengawasan dokter.
Sebaiknya Anda baca juga:
Setelah terapi dimulai, pasien perlu menjalani evaluasi berkala. Pemantauan umumnya dilakukan setiap 6–12 minggu untuk melihat perkembangan gejala, menilai keamanan terapi, dan menyesuaikan dosis jika diperlukan. Pemantauan jangka panjang juga penting untuk menjaga kesehatan tulang, jantung, dan kualitas hidup perempuan.
Menjaga Kesehatan Menjelang Menopause
Selain penanganan medis, perubahan gaya hidup dapat membantu perempuan menghadapi masa perimenopause. Persiapan sebaiknya dilakukan sejak dini, terutama dengan menjaga pola makan bergizi seimbang dan rutin berolahraga.
Latihan beban ringan menjadi salah satu aktivitas yang dapat dilakukan untuk membantu mempertahankan kekuatan otot dan massa tulang. Perempuan juga dianjurkan mencukupi waktu istirahat, mengelola stres, serta menghindari paparan asap rokok dan konsumsi alkohol.
"Jika perubahan menstruasi atau gejala lain mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, konsultasi dengan dokter spesialis obstetri dan ginekologi dapat membantu menentukan penyebab dan penanganan yang tepat," pesannya.
Perempuan Masih Berpeluang Hamil
Perimenopause berbeda dengan menopause dalam hal kemungkinan kehamilan. Pada masa perimenopause, ovarium masih dapat melepaskan sel telur meskipun fungsi reproduksi telah menurun.
Karena itu, perempuan yang berada dalam fase awal perimenopause masih memiliki kemungkinan untuk hamil. Peluangnya memang lebih rendah dibandingkan saat usia reproduksi, tetapi kehamilan tetap dapat terjadi selama ovulasi masih berlangsung. Perempuan yang belum merencanakan kehamilan tetap perlu mempertimbangkan penggunaan kontrasepsi selama masa transisi tersebut.
"Dengan memahami perubahan yang terjadi, perempuan dapat mengenali gejala perimenopause lebih dini dan berkonsultasi untuk menentukan penanganan sesuai kebutuhan. Perimenopause merupakan proses alami, tetapi keluhan yang menyertainya dapat dikelola agar tidak mengganggu kesehatan dan kualitas hidup," tambahnya.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!