Perimenopause Mulai Dialami Perempuan Usia 40-an, Kenali Gejala dan Penanganannya
Rabu, 04 Nov 2026, 19:07 WIB | Oleh: Haryo Brono
Doc: Koran Jakarta/Haryo Brono
JAKARTA – Perubahan siklus menstruasi, suasana hati yang mudah berubah, gangguan tidur, hingga sensasi panas mendadak atau hot flash merupakan sejumlah keluhan yang dapat dialami perempuan ketika memasuki usia 40-an tahun. Kondisi tersebut bisa menjadi tanda perimenopause, yakni fase transisi sebelum seorang perempuan memasuki menopause.
Dokter spesialis obstetri dan ginekologi subspesialis fertilitas endokrinologi reproduksi RS Pondok Indah IVF Centre, RS Pondok Indah – Pondok Indah, Kanadi Sumapradja, menjelaskan perimenopause merupakan masa peralihan yang ditandai perubahan siklus menstruasi, penurunan fungsi ovarium, serta fluktuasi kadar hormon.
Menurut Kanadi, perubahan tersebut berkaitan dengan berkurangnya cadangan sel telur di ovarium seiring pertambahan usia. Perempuan memiliki jutaan sel telur sejak berada dalam kandungan. Jumlahnya terus menurun hingga tersisa ratusan ribu saat memasuki masa pubertas dan puluhan ribu menjelang usia 40 tahun.
“Penurunan cadangan sel telur berpengaruh terhadap produksi hormon estrogen dan progesteron. Kedua hormon tersebut menjadi tidak stabil sehingga kadarnya dapat mengalami fluktuasi. Seiring waktu, fungsi ovarium semakin menurun hingga akhirnya berhenti memproduksi hormon dan perempuan tidak lagi mengalami menstruasi,” ujarnya dalam media briefing di Jakarta pada hari Kamis (29/10).
Menstruasi terakhir yang dialami seorang perempuan disebut menopause. Sementara itu, perimenopause merupakan periode sebelum fase tersebut.
Sebaiknya Anda baca juga:
Perubahan Hormon Memicu Beragam Gejala
Perimenopause umumnya mulai dirasakan pada rentang usia 40-an tahun. Namun, waktu dimulainya fase ini dapat berbeda pada setiap perempuan. Faktor yang memengaruhi antara lain proses penuaan alami, faktor keturunan, dan gaya hidup.
Kebiasaan merokok, misalnya, dapat mempercepat berkurangnya cadangan ovarium. Riwayat operasi pada indung telur maupun terapi medis tertentu juga dapat berpengaruh terhadap fungsi reproduksi.
Fluktuasi estrogen dan progesteron dapat memengaruhi berbagai fungsi tubuh. Salah satu gejala yang paling terlihat adalah perubahan pola menstruasi. Siklus haid dapat menjadi lebih pendek atau lebih panjang, sementara volume darah bisa lebih banyak, disertai gumpalan, atau justru hanya berupa flek.
Gejala lain yang dapat muncul adalah hot flash, yakni sensasi panas mendadak yang menjalar pada tubuh bagian atas, terutama dada dan wajah. Kondisi ini terkadang disertai keringat pada malam hari dan membuat perempuan lebih mudah merasa gerah.
Perubahan hormon juga dapat mengganggu kualitas tidur. Sebagian perempuan mengalami kesulitan tidur nyenyak atau sering terbangun pada malam hari. Dari sisi emosional, perimenopause dapat disertai kecemasan, perubahan suasana hati, meningkatnya sensitivitas, mudah marah, hingga gejala depresi.
Pada area kewanitaan dan saluran kemih, penurunan hormon dapat menyebabkan vagina terasa lebih kering, nyeri saat berhubungan seksual, serta meningkatnya risiko infeksi saluran kemih. Perubahan fisik dan metabolisme juga bisa terjadi, seperti tubuh lebih mudah lelah, berat badan meningkat, massa otot berkurang, serta kulit dan rambut menjadi lebih kering.
Diagnosis dan Pilihan Penanganan
Penanganan perimenopause diawali dengan pemeriksaan menyeluruh untuk memastikan kondisi pasien dan menentukan terapi yang sesuai. Dokter akan melakukan wawancara medis mengenai perubahan pola menstruasi, gejala yang dirasakan, serta riwayat kesehatan.
Pemeriksaan tambahan dapat mencakup tes darah untuk melihat kondisi hormon dan ultrasonografi (USG) panggul guna memeriksa organ reproduksi. Hasil pemeriksaan tersebut menjadi salah satu dasar bagi dokter untuk menentukan langkah penanganan.
Kanadi menjelaskan, penatalaksanaan perimenopause perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien. Dokter akan menilai tingkat keluhan, riwayat penyakit, serta faktor risiko sebelum menentukan jenis intervensi.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!