Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
pasang iklan di koran jakarta
Ads

Tenun Sumba! Bukan Sekadar Karya Seni Budaya, Tetapi Ada Kecerdasan 'Etnomatematika' Dalam Motif-motifnya

1 Minggu, 01 Nov 2026, 18:36 WIB | Oleh:
Tenun Sumba! Bukan Sekadar Karya Seni Budaya, Tetapi Ada Kecerdasan 'Etnomatematika' Dalam Motif-motifnya Tenun Sumba! Bukan Sekadar Karya Seni Budaya, Tetapi Ada Kecerdasan 'Etnomatematika' Dalam Motif-motifnya Doc: HO/Gabriel Christofer & Irfan Musyaffa
Ket. Kain tenun Sumba.

BANDUNG - Sepintas, motif-motif pada kain tenun Sumba tampak seperti rangkaian gambar yang disusun untuk memperindah permukaan kain. Ada yang menyerupai kuda, ayam, buaya, penyu, hingga beragam bentuk geometris.

Ketika diamati lebih cermat, motif-motif tersebut ternyata membentuk pola yang teratur dan konsisten. Di balik keindahannya, tersimpan cara berpikir yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Temuan inilah yang menarik perhatian para peneliti etnomatematika. Mereka menemukan bahwa tenun Sumba bukan hanya karya seni dan simbol budaya, tetapi juga menyimpan jejak pengetahuan tentang bentuk, simetri, keseimbangan, dan pola yang berkembang dalam kehidupan masyarakat Sumba selama berabad-abad.

Mendengar kata matematika, kebanyakan orang akan membayangkan angka, rumus, dan pelajaran di sekolah. Padahal, konsep matematika tidak selalu hadir dalam bentuk yang formal. Dalam banyak komunitas tradisional, kemampuan memahami pola, mengatur ruang, dan menciptakan keteraturan berkembang melalui pengalaman hidup sehari-hari.

Kajian yang mempelajari hubungan antara budaya dan aktivitas matematis dikenal sebagai etnomatematika. Melalui pendekatan ini, berbagai warisan budaya dapat dibaca sebagai hasil kreativitas sekaligus kecerdasan masyarakat dalam memahami lingkungannya.

Kain tenun Sumba menjadi salah satu contoh yang menarik. Selama ini wastra tersebut dikenal karena keindahan dan kerumitan proses pembuatannya. Namun, penelitian menunjukkan bahwa di dalam motif-motifnya tersimpan keteraturan yang dapat dijelaskan melalui konsep geometri modern.

Bagi masyarakat Sumba, kain tenun bukan sekadar penutup tubuh. Kain memiliki fungsi sosial, budaya, dan spiritual yang penting dalam kehidupan masyarakat.

Ada kain khusus yang digunakan dalam upacara adat, pernikahan, hingga ritual yang berkaitan dengan leluhur. Motif yang ditenun bukan dipilih secara sembarangan, melainkan mengandung pesan yang berkaitan dengan identitas dan pandangan hidup masyarakat Sumba.

Di Sumba Timur dikenal dua jenis kain utama, yakni hinggi yang dikenakan laki-laki dan lau yang digunakan perempuan. Melalui kedua kain ini, berbagai simbol budaya diwariskan dari generasi ke generasi.

Penelitian Erwin Ardianto Halim dan rekan-rekannya dari Universitas Kristen Maranatha menunjukkan bahwa susunan ragam hias pada kain hinggi mencerminkan konsep dualisme dan triple pattern. Dua unsur yang berbeda dipertemukan dalam hubungan yang saling melengkapi, sementara unsur ketiga berfungsi sebagai penyeimbang yang menciptakan harmoni.

Kain hinggi juga dapat dibaca sebagai representasi kosmologi masyarakat Sumba. Bidang-bidang pada kain dikaitkan dengan tiga lapisan dunia, yaitu talaba dita (alam atas), la padua (alam tengah), dan talaba wawa (alam bawah). Pembagian ini memperlihatkan bagaimana masyarakat Sumba memandang hubungan antara manusia, alam, dan kekuatan spiritual.

20261101183540_Kain-Tenun-Sumba-UK-Maranatha-1200-02.jpeg

Kain tenun Sumba (HO/Gabriel Christofer & Irfan Musyaffa)

Jejak matematis pada ragam hias

Di balik makna yang terkandung dalam motif tenun Sumba, para peneliti juga menemukan berbagai bentuk geometri yang tersusun secara teratur. Penelitian etnomatematika menunjukkan bahwa motif-motif tenun Sumba mengandung unsur-unsur dan prinsip geometri seperti garis, segitiga, belah ketupat, simetri, translasi, dan pengulangan pola.

Salah satu bentuk yang paling dominan adalah belah ketupat. Bentuk ini muncul pada berbagai motif tradisional dan menjadi elemen penting dalam komposisi visual tenun Sumba. Kehadirannya menciptakan keteraturan sekaligus keseimbangan pada susunan motif.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Kapasitas Produksi Menganggur, Industri Didesak Bangkit
    Berita yang sangat melegakan bagi kita yang bergerak ...
  • Jakarta Timur Bersiap Jadi Magnet Investasi Baru, Kawasan 370 Hektare Ini Dilirik
    Tidak akan sukses. Catat ini. Ormas sm warlok ...
  • Industri Makanan dan Minuman Tumbuh 7,04 Persen, KRISTA InterFOOD 2026 Perluas Peluang Bisnis
    Pencapaian kinerja industri mamin yang impresif ini tentu ...
  • Ekspor Tembus 4,85 Miliar Dolar AS, UGM Dorong Teknologi Hijau Industri Kulit
    Ekspor kulit tembus 4,85 miliar dolar AS, UGM ...
  • GrabMart Catat Lonjakan Pesanan Dini Hari, Strategi Pemasaran Brand Perlu Berubah
    Banyak sekarang pekerja kantoran sampe rumah malam, lalu ...
pasang iklan di koran jakarta
pasang iklan di koran jakarta

IQAir Catat Polusi Udara Jakarta Hari Ini Tinggi

1.5 jam yang lalu | Ilham Sudrajat

Megapolitan
IQAir Catat Polusi Udara Ja...
pasang iklan di koran jakarta
Advertisement
Empat Tips Mengatur Pengeluaran agar Tidak Boros saat Sering Bayar Pakai QRIS

Empat Tips Mengatur Pengeluaran agar Tidak Boros saat Sering Bayar Pakai QRIS

01 Nov 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.