Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

'Dark Tourism' di Tiongkok Makin Populer, Turis Rela Diterjang Banjir dan Topan Buatan

8 Minggu, 18 Okt 2026, 00:06 WIB | Oleh:
'Dark Tourism' di Tiongkok Makin Populer, Turis Rela Diterjang Banjir dan Topan Buatan 'Dark Tourism' di Tiongkok Makin Populer, Turis Rela Diterjang Banjir dan Topan Buatan Doc: Istimewa
Ket. Peserta harus menghadapi derasnya air yang menyerupai banjir akibat topan. Ratusan ton air menerjang tubuh mereka hingga terseret menuju penghalang keselamatan. Situasinya begitu intens sampai melupakan bahwa peserta sedang berada di sebuah simulasi.

BEIJING - Wisatawan di Tiongkok kini memiliki cara baru untuk menghabiskan liburan. Bukan sekadar mengunjungi tempat indah atau berburu kuliner, mereka justru rela membayar untuk merasakan sensasi menghadapi bencana alam, mulai dari terjangan topan hingga banjir bandang buatan.

Tren yang dikenal sebagai "Dark Tourism" atau wisata gelap ini semakin menarik perhatian, terutama di kalangan anak muda. Pengalaman yang memacu adrenalin tersebut menawarkan sesuatu yang berbeda: merasakan ketakutan dalam kondisi ekstrem, tetapi tetap berada di lingkungan yang dirancang untuk menjaga keselamatan.

Salah satu wisatawan yang tertarik mencoba pengalaman ini adalah Leon Lv, pria berusia 28 tahun asal Chongqing. Berawal dari menonton video di media sosial RedNote, ia melakukan perjalanan lebih dari 1.300 kilometer menuju Hangzhou untuk mengikuti simulasi bencana bersama sekitar 20 peserta lainnya.

Dalam simulasi tersebut, para peserta harus menghadapi derasnya air yang menyerupai banjir akibat topan. Ratusan ton air menerjang tubuh mereka hingga terseret menuju penghalang keselamatan. Situasinya begitu intens sampai Lv sempat melupakan bahwa dirinya sedang berada di sebuah fasilitas simulasi.

“Satu hal yang saya pelajari adalah bagaimana tetap tenang dan melindungi diri sendiri selama banjir. Saya belajar bagaimana menggunakan posisi tubuh yang tepat untuk tetap aman,” kata Lv.

Baginya, pengalaman tersebut bukan sekadar mencari sensasi. Ia merasa mendapatkan pengetahuan praktis tentang cara menghadapi bencana yang tidak bisa diperoleh hanya dengan membaca buku atau belajar di ruang kelas.

Wisatawan Rela Membayar untuk Merasakan Ketakutan

Popularitas pengalaman ekstrem ini ikut mendorong berkembangnya Lvxing Base, pusat simulasi bencana di Hangzhou yang dibuka pada 2024. Fasilitas seluas 200.000 meter persegi itu menghadirkan berbagai skenario bencana, termasuk topan, hujan deras, banjir bandang, dan tanah longsor.

Pengelola mengakui bahwa sebagian pengunjung datang untuk menguji keberanian sekaligus merasakan ketegangan yang tidak mereka temukan dalam kehidupan sehari-hari.

“Mereka ingin melihat seperti apa tempat ini, bagaimana rasanya badai topan dan hujan deras yang sesungguhnya, dan apakah mereka sendiri mampu menahannya,” kata manajer umum Lvxing Base, Wang Kuanghan.

Menurut Wang, sebagian besar pelanggan mereka berusia antara 20 hingga 30 tahun. Melihat tingginya minat masyarakat, perusahaan tersebut berencana membuka lima pusat simulasi tambahan di berbagai wilayah Tiongkok dalam tiga tahun mendatang. Simulasi gempa bumi dan kebakaran juga masuk dalam rencana pengembangan mereka.

Fenomena serupa berkembang di sejumlah fasilitas pendidikan keselamatan lainnya. Museum keselamatan publik Haidian di Beijing, misalnya, menawarkan simulasi gempa bumi, tsunami, dan kebakaran melalui teater 4D yang dilengkapi platform bergerak serta efek suara.

Sementara itu, sebuah pusat pelatihan di Guangzhou menghadirkan simulator gempa yang mampu menciptakan guncangan setara gempa bermagnitudo 7,2. Pengunjung dapat mempelajari respons yang tepat ketika menghadapi keadaan darurat.

Popularitas wisata simulasi bencana juga tidak lepas dari meningkatnya risiko cuaca ekstrem di Tiongkok. Sepanjang 2025, negara tersebut mengalami jumlah hari terpanas tertinggi sejak pencatatan dimulai dan dilanda 10 topan, lebih banyak dibandingkan rata-rata tahunan jangka panjang. Kementerian keadaan darurat Tiongkok melaporkan sekitar 67 juta orang terdampak bencana di seluruh negeri.

Pada 2024, pemerintah daerah juga diarahkan untuk memperkuat pendidikan kebencanaan melalui pusat keselamatan, museum, dan fasilitas pelatihan yang memberikan pengalaman langsung kepada masyarakat.

Dari Simulasi Bencana hingga Mengunjungi Lokasi Tragedi

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Angkatan Darat AS Berlatih Menggali Kuburan Massal untuk Skenario Perang dengan Banyak Korban
    Apa mungkin AS akan melakukan invasi darat ke ...
  • Satgas Penertiban Kawasan Hutan Selidiki Perusahaan AK, Jejak Hubungan dengan Oknum Aparat Didalami
    Ditanya siapa ak itu kq malah balik bertanya? ...
  • Andrea Bocelli Bikin Jakarta Terpukau! Konser Romanza Hadirkan Malam Penuh Keajaiban
    Salut banget dengan konser Andrea Bocelli sangat mengharumkan ...
  • Kapasitas Produksi Menganggur, Industri Didesak Bangkit
    Berita yang sangat melegakan bagi kita yang bergerak ...
  • Jakarta Timur Bersiap Jadi Magnet Investasi Baru, Kawasan 370 Hektare Ini Dilirik
    Tidak akan sukses. Catat ini. Ormas sm warlok ...
pasang iklan di koran jakarta
pasang iklan di koran jakarta
pasang iklan di koran jakarta
Advertisement
Mengagetkan Fakta Ini, Hampir 30 Persen Penduduk Kanada Alami Kesulitan Keuangan Rumah Tangga

Mengagetkan Fakta Ini, Hampir 30 Persen Penduduk Kanada Alami Kesulitan Keuangan Rumah Tangga

08 Nov 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.