Riset Evident: Wamen dan Waka Badan Tidak Sekadar Ban Serep.
📅 Rabu, 07 Okt 2026, 18:30 WIB | Oleh: Yebdi TrismarSementara Angga Raka Prabowo, memegang peran sentral dalam penguatan komunikasi kebijakan pemerintah kepada publik. Sejak pembentukan Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) pada 17 September 2025 hingga digantikan pada 27 April 2026, ia memimpin Bakom dengan tetap menjabat Wamen Komdigi.
Selama menjabat Wamen Komdigi, ia turut berperan dalam agenda perlindungan data pribadi, pemberantasan judi daring, pemanfaatan kecerdasan buatan dalam layanan publik, percepatan regulasi turunan dan kelembagaan, serta percepatan transformasi digital infrastruktur layanan.
Angga adalah representasi tokoh yang keunggulannya bertumpu pada penguatan tata kelola komunikasi publik, sisi yang jarang tersentuh oleh metodologi volume pemberitaan pada kajian ini. Akan tetapi dalam konteks saat ini, masih ada pekerjaan rumah untuk mengatasi sentimen publik terhadap pemerintah.
Hal ini bukan pekerjaan mudah karena persoalan ini berlangsung sebagai diskursus di ruang publik dan media sosial. Diperlukan adanya jembatan komunikasi yang setara (deliberatif) dan akan meningkatkan citra pemerintah di mata publik.
Satu Wamen yang juga muncul sebagai data yang tidak bisa diabaikan adalah Giring Ganesha, Wakil Menteri Budaya yang mendampingi Menteri Kebudayaan Fadli Zon dengan latar belakang sebagai musisi.
Di bawah kepemimpinan keduanya, Indeks Pembangunan Kebudayaan tahun 2025 mencapai 59,98, melampaui target sebesar 58,39, dengan kenaikan tertinggi pada dimensi ketahanan sosial budaya, capaian yang diraih pada tahun pertama Kementerian Kebudayaan berdiri sebagai entitas pelaporan tersendiri.
Giring juga aktif memantau denyut industri musik nasional; ia menyampaikan bahwa pemerintah menerima data evaluasi dari Spotify yang menunjukkan musik Indonesia berhasil menguasai 80 persen tangga lagu teratas, data yang dibawa ke Konferensi Musik Indonesia di Makassar sebagai bahan kebijakan.
Ia turut menyuarakan pandangan bahwa budaya semestinya dipahami sebagai sumber inspirasi bagi kreativitas dan inovasi generasi muda, bukan sekadar warisan yang harus dijaga, dengan platform digital sebagai sarana memperluas jangkauan ekosistem budaya dan ekonomi kreatif nasional.
Evident Institute menemukan bahwa volume pemberitaan tinggi tidak selalu berarti citra publik yang baik. Kajian ini memperkuat pembacaan tersebut dengan kerangka teoretis nilai publik dan formula akuntabilitas.
Dia mencontohkan sejumlah nama-nama a.l Immanuel Ebenezer Gerungan (terpidana, Kementerian Ketenagakerjaan), Silmy Karim (tersangka, Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan), serta Sony Sonjaya dan Lodewyk Pusung (tersangka, Badan Gizi Nasional) atas dugaan korupsi program Makan Bergizi Gratis senilai Rp10,5 triliun per tahun. Keempatnya sudah diberhentikan dari jabatan.
Sebagai pembanding perspektif, Evident membandingkan dengan laporan pihak ketiga Reportica yang menganalisis popularitas para wakil menteri di media sosial sepanjang Agustus 2026, periode yang jauh lebih singkat dari satu tahun penuh cakupan kajian utama.
Didapati Ossy Dermawan, Wamen ATR/Wakil Kepala BPN mencatat volume tertinggi (6.108 sebutan), tetapi seratus persen berasal dari kanal kementerian sendiri, sebuah pola yang disebut “Ilusi Megafon”.
Sementara Taufik Hidayat, Wamen Pemuda dan Olahraga) sebaliknya memimpin popularitas organik murni dengan 1.677 sebutan tanpa bantuan kanal pribadi, diikuti Todotua Pasaribu dengan 1.048 sebutan organik.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!