Coco Gauff Kecam Serangan Rasis Usai Laga China Open
Rabu, 07 Okt 2026, 00:25 WIB | Oleh: Benny Mudesta Putra
Doc: WTA
BEIJING — Coco Gauff mengecam serangan rasial yang membanjiri media sosial setelah petenis Amerika Serikat itu mengalahkan petenis remaja tuan rumah, Sun Xinran, pada babak ketiga China Open, Senin (5/10).
Gauff menang dua set langsung 7-5, 6-1 untuk melaju ke babak keempat. Namun, kemenangan tersebut diwarnai kontroversi setelah sebuah poin pada set pertama harus diulang dan memicu reaksi keras di media sosial.
Saat skor berlangsung ketat, Gauff menghentikan permainan dengan mengangkat tangan untuk memprotes papan iklan elektronik yang berkedip di belakang lapangan. Penghentian itu terjadi tepat ketika Sun bersiap menyelesaikan sebuah pukulan yang berpotensi menjadi winner.
Setelah melakukan peninjauan video, wasit memutuskan bahwa poin tersebut harus dimainkan kembali.
Gauff kemudian memenangkan poin ulangan itu dan mempertahankan servis untuk menyamakan kedudukan menjadi 5-5. Setelah itu, juara Grand Slam dua kali tersebut melaju tanpa kesulitan berarti hingga menutup pertandingan dengan kemenangan 7-5, 6-1.
Namun, keputusan tersebut memicu gelombang kritik di media sosial. Gauff, yang berusia 22 tahun dan merupakan petenis kulit hitam, mengungkapkan bahwa dirinya menerima serangan rasial dalam jumlah yang sangat besar setelah pertandingan.
"Kalian boleh tidak menyukai saya atau tidak setuju dengan apa yang terjadi tanpa bersikap rasis," tulis Gauff di X pada Selasa pagi sebagai tanggapan terhadap sebuah unggahan yang berisi hinaan rasial.
"Jumlah komentar dan pesan langsung bernada rasis yang saya terima dalam beberapa jam terakhir sungguh gila," lanjutnya.
Gauff juga membantah tuduhan bahwa dirinya sengaja melakukan kecurangan. "Terakhir, saya bukan seorang penipu ataupun pencuri," tulisnya.
Gauff kemudian menjelaskan bahwa tindakannya meminta permainan dihentikan dan ditinjau kembali dilakukan sesuai dengan aturan yang berlaku.
Petenis diperbolehkan meminta peninjauan video dalam sejumlah situasi tertentu, termasuk ketika merasa ada gangguan atau distraksi yang memengaruhi jalannya sebuah poin.
Dalam kasus tersebut, Gauff merasa papan iklan yang berkedip telah mengganggu konsentrasinya sehingga ia meminta permainan dihentikan. Setelah melalui peninjauan, wasit memutuskan poin tersebut harus diulang.
Asosiasi Tenis Putri (WTA) dan penyelenggara China Open belum memberikan komentar terkait serangan yang diterima Gauff.
WTA sendiri dalam beberapa tahun terakhir meningkatkan upaya untuk mengatasi pelecehan daring terhadap pemain dan ofisial. Badan tenis putri dunia tersebut telah memperkenalkan sistem berbasis kecerdasan buatan yang memantau ribuan pemain dan ofisial di media sosial.
Sebuah studi yang dilakukan WTA bersama World Tennis menunjukkan bahwa para pemain dan ofisial menerima lebih dari 12.000 unggahan dan pesan bernada kasar di media sosial sepanjang 2025. Jumlah itu meningkat dibandingkan sekitar 8.000 unggahan pada tahun sebelumnya.
Di tengah kontroversi tersebut, Gauff juga berusaha meredakan situasi dengan menjelaskan bahwa ia telah berbicara langsung dengan Sun Xinran setelah pertandingan.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!