Impor BBM Masih Tinggi, Transisi Energi Harus Dipercepat

Kamis, 01 Okt 2026, 01:00 WIB

Kementerian ESDM mencatat konsumsi BBM 1,6 juta barel per hari, sedangkan produksi minyak domestik sekitar 600 ribu barel per hari.

TANJUNGPINANG - Ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan bakar minyak (BBM) masih menjadi persoalan di tengah penilaian bahwa ketahanan energi nasional berada dalam kategori "tahan" dengan skor 7,13.

Ket. Foto: M Kholid Syeirazi Anggota Kepentingan DEN - 30 persen BBM dan 38 persen minyak mentah Indonesia masih bergantung pada impor. — Sumber: istimewa

Anggota Pemangku Kepentingan Dewan Energi Nasional (DEN) Muhammad Kholid Syeirazi mengatakan sekitar 30 persen BBM dan 38 persen minyak mentah Indonesia masih bergantung pada impor. Kondisi tersebut menjadi titik rawan apabila pasokan terganggu atau harga minyak dunia meningkat.

Seperti dikutip dari Antara, Kholid mengatakan lembaga keuangan JP Morgan menempatkan Indonesia di posisi kedua dari 52 negara sebagai negara dengan ketahanan energi terbaik di dunia di tengah gejolak geopolitik global.

"Indonesia termasuk negara yang tahan terhadap goncangan energi, ketika situasi geopolitik terjadi di Timur Tengah," kata Kholid usai menjadi narasumber sosialisasi Kebijakan Energi Nasional di Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH), Tanjungpinang, Kepulauan Riau, Rabu (30/9).

Menurut Kholid, ketergantungan impor tetap berisiko karena perubahan harga minyak maupun gangguan distribusi global dapat memengaruhi pasokan energi dalam negeri.

Ia mengatakan ketahanan energi perlu diperkuat melalui pemanfaatan sumber daya domestik dan peningkatan kapasitas pengolahannya agar kebutuhan energi nasional tidak terus bergantung pada impor.

"Sesuai mandatory, stok BBM kita bertahan 23 hari, dan LPG 15 hari. Sejauh ini tak ada gangguan stok, BBM masih aman untuk transportasi, demikian pula LPG bagi rumah tangga," ujarnya.

Namun, dalam beberapa waktu terakhir sempat terjadi kelangkaan BBM di sejumlah SPBU setelah kenaikan harga BBM nonsubsidi mendorong konsumen beralih ke BBM subsidi, seperti dari Pertamax ke Pertalite.

"Dampaknya, konsumsi BBM subsidi melonjak. Sementara kuota hanya cukup sampai akhir tahun, makanya terjadi kelangkaan di SPBU," ungkapnya.

Kementerian ESDM menyebut konsumsi BBM nasional sekitar 1,6 juta barel per hari, sedangkan produksi minyak domestik sekitar 600 ribu barel per hari. Pemerintah menargetkan produksi minyak mencapai 1 juta barel per hari dan membuka peluang investasi di 118 wilayah kerja migas.

Wakil Menteri Dalam Negeri Bima Arya Sugiarto menilai kemandirian energi menjadi salah satu fondasi untuk mendorong Indonesia menjadi negara maju dalam 20 tahun mendatang.

"Tidak ada negara yang bisa meloncat dari negara menengah ke maju tanpa membangun kemandirian negara," kata Bima.

Menurut Bima, penguatan ketahanan energi perlu mempertimbangkan pengembangan energi baru dan terbarukan, kemampuan teknologi, serta kesiapan masyarakat menghadapi perubahan. Ia juga menekankan peran pemerintah daerah karena setiap daerah memiliki potensi energi yang berbeda.

Defisit Migas

Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede mengatakan tingginya impor migas dapat menekan neraca perdagangan sekaligus meningkatkan kebutuhan devisa.

"Impor migas yang tinggi di tengah (harga) minyak mahal menjadi sumber tekanan paling nyata terhadap neraca perdagangan dan kebutuhan devisa. Dampaknya terjadi sekaligus melalui harga dan volume," kata Josua di Jakarta.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia Januari-Juli 2026 surplus 3,70 miliar dolar AS. Namun, sektor migas mengalami defisit 18,75 miliar dolar AS, sedangkan sektor nonmigas surplus 22,45 miliar dolar AS.

Pada periode yang sama, ekspor mencapai 167,03 miliar dolar AS atau tumbuh 4,43 persen, sedangkan impor meningkat 19,94 persen menjadi 163,33 miliar dolar AS.

Menurut Josua, surplus perdagangan dapat menjadi bantalan ketahanan eksternal, tetapi perlu diperkuat melalui peningkatan ekspor produk bernilai tambah dan pengurangan ketergantungan terhadap impor energi.

Redaktur: Andes Tanjung

Penulis: Eko S, Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.