'El Classico' Barca vs Madrid: Pertarungan Flick Kontra Mourinho Ibarat Superman versus Batman

Jumat, 23 Okt 2026, 15:25 WIB

JAKARTA - Dalam jagat sinematik DC Universe terdapat manusia super dengan kekuatan tiada tanding yang bernama Superman.

Superman diberkahi kekuatan fisik super, kemampuan terbang, kecepatan super, daya tahan kebal, heat vision, x-ray vision hingga penyembuhan super cepat.

Ket. Foto: Ilustrasi dibuat dengan bantuan chat GPT/ddn — Sumber: Antara/AI

Satu-satunya kelemahan Superman hanyalah batu kryptonite yang dalam cerita sinematik DC Universe dikisahkan berasal dari planet krypton.

Siapa kiranya yang menjadi rival Superman, sang manusia penuh dengan kelebihan? Rivalnya justru dimunculkan sesosok manusia bernama Bruce Wayne atau lebih dikenal sebagai pahlawan penjaga kota Gotham yaitu Batman.

Batman adalah seorang manusia yang jenius, menguasai berbagai jenis beladiri, hingga mengembangkan beragam teknologi tempur canggih yang termutakhir.

Lalu yang paling penting dan selalu menjadi dialog ikonik dari Bruce Wayne yakni kekuatannya adalah kaya.

Pertempuran Superman melawan Batman pun tersaji dalam jagat film yakni di tahun 2016, lewat judul Batman vs Superman: Dawn of Justice.

Pertarungan tersebut adalah duel hidup mati yang mempertaruhkan segalanya untuk Superman maupun Batman.

Bergeser ke lapangan hijau, kala El Classico perdana pada musim 2026/2027 kali ini menyuguhkan nuansa rivalitas ala dua karakter ikonik DC tersebut.

Di kubu Barcelona terdapat sang pelatih Hansi Flick yang serupa Superman dengan dominasinya di negeri matador selama beberapa musim terakhir.

Flick adalah sosok adikuasa di Spanyol dengan memenangkan gelar LaLiga (2024/2025 dan 2025/2026), Copa del Rey (2024/2025), dan Supercopa de Espana (2024/2025).

Kehadiran pelatih asal Jerman tersebut di Catalunya seakan membawa berkah tersendiri untuk Barcelona yang tengah menghadapi krisis keuangan dan lambannya proses regenerasi.

Mantan pelatih Bayern Muenchen tersebut tak membutuhkan waktu lama untuk membawa Barcelona kembali menjadi klub yang selalu disegani di setiap kompetisi.

Flick layaknya Superman yang mempunyai kekuatan super untuk bisa memperbaiki kondisi El Barca yang sempat rapuh, krisis kepemimpinan di ruang ganti, dan pola permainan di lapangan yang kehilangan identitas.

Di tangan pelatih berusia 61 tahun tersebut, Blaugrana langsung menunjukkan identitas aslinya lewat permainan sepak bola lebih atraktif, pressing tinggi, dan begitu teroganisir.

Beralih ke sisi sang rival, Real Madrid, yang selama dua musim terakhir harus gigit jari tanpa gelar.

Melakukan perombakan skuad dan termasuk mengganti kursi pelatih dimana terdapat dua nama yang sudah ditendang yakni Xabi Alonso dan Alvaro Arbeloa.

Kini Los Blancos menunjuk kembali Jose Mourinho, yang sebelumnya sempat melatih pada era 2010-2013, untuk bisa merapikan kondisi compang-camping tim yang tengah krisis kondisi ruang ganti, kehilangan pemimpin, hingga tidak punya identitas permainan di lapangan.

Mou memang sudah mengenal kondisi Real Madrid, namun dia bukanlah sosok Superman seperti Flick atau tukang sihir.

Dalam transisinya saat ini, Mou masih kerap menemui hambatan dengan hasil yang masih inkonsisten ditunjukkan oleh Kylian Mbappe dan kolega.

Di La Liga, El Real sudah menelan dua kali kekalahan dan mengamankan tujuh kali kemenangan hingga memasuki pekan ketujuh.

Catatan tersebut masih belum cukup untuk Los Galacticos bisa terus berada di jalur perebutan gelar juara mengingat saat ini Barcelona masih tak terkalahkan dengan mengunci sembilan kemenangan beruntun.

Namun seperti Batman, Mou diberkahi kekuatan yakni kaya. Saat ini pelatih asal Portugal tersebut mempunyai kedalaman skuad yang mewah dengan dihuni nama-nama pemain bintang.

Terlebih mantan pelatih Chelsea tersebut cukup diberi banyak amunisi tambahan di bursa transfer dengan mendatangkan Ibrahima Konate, Marc Cucurella, Bernardo Silva, Denzel Dumfries, Carlos Espi, hingga menebus Yan Diomande yang mempunyai mahar 140 juta Euro.

Seperti yang diprediksi oleh berbagai media, kehadiran Mourinho di Real Madrid memang ditugaskan untuk mengelola pemain dengan memanfaatkan kedalaman skuad sebaik mungkin

Begitulah kelebihan dari pelatih yang membawa Inter Milan meraih treble pada musim 2010 tersebut ketika mengelola pemain bahkan memainkan aspek psikologis mereka.

Terbaru, Mou seakan memberikan tantangan kepada Vinicius Junior bahwa posisinya tidaklah aman jika dirinya berada di bawah performa.

Dalam pekan ketiga Liga Champions di Santiago Bernabeu, Kamis (22/10), Mou tak segan menarik Vinicius pada menit ke-70 dengan memasukkan Yan Diomande.

Di era Mou, belum ada jaminan bagi siapapun untuk terus memperoleh garansi starter jika performanya di bawah standar.

Dihadapkan dengan superioritas Barcelona di tangan Flick dalam laga El Classico nanti tentunya akan menjadi tantangan paling besar sejauh ini yang dihadapi oleh Mourinho.

Flick vs Mourinho

Flick menghadapi Mourinho bukanlah sebuah tontonan perdana yang akan muncul dalam El Classico yang berlangsung pada 26 Oktober mendatang.

Namun ini adalah sebuah serial karena kedua pelatih dengan visi permainan yang kontras tersebut sebelumnya sudah pernah bersua.

Pertemuan tersebut terjadi kala Flick masih melatih Bayern Muenchen dan Mourinho melatih Tottenham Hotspur.

Dalam pertemuan fase grup Liga Champions 2019/2020, Flick lebih digdaya atas Mou dengan memenangkan pertandingan tersebut lewat skor, 3-1.

Jika dikomparasikan sebagai pelatih di laga El Classico, Flick juga jauh lebih mentereng dibandingkan Mou.

Flick total telah menjalani tujuh laga El Classico dengan catatan enam kemenangan dan satu kekalahan, mencatatkan rasio kemenangan 85,7 persen.

Sementara Mou yang telah menjalani 17 laga El Classico meraih lima kemenangan, lima hasil imbang, dan tujuh kekalahan dengan rasio kemenangan 29,4 persen.

Tentu El Classico perdana yang mempertemukan Flick vs Mourinho akan sangat menarik selayaknya film box office Superman vs Batman.

Flick dengan gaya permainan total football yang menuntut pemainnya melakukan pressing tinggi dan intensitas permainan cepat menghadapi sang antitesis yakni Mourinho dengan gaya permainan parkir bus, menjaga kedalaman, dan mencari celah untuk melakukan serangan balik.

Sejauh ini Barcelona menjadi tim terproduktif di Liga Spanyol dengan catatan 39 gol dari sembilan pertandingan.

Sementara itu, Real Madrid masih mencoba untuk mencari formulasi terbaik di lini belakang setelah Mourinho kerap mengutak-atik duet bek tengah antara Dean Huijsen-Ibrahima Konate, Huijsen-Antonio Rudiger, atau Rudiger-Konate.

Namun satu hal yang pasti, El Clasico bukanlah sekadar pertandingan antara tim bergaya menyerang menghadapi tim yang bertahan. Rivalitas klasik paling populer dalam sejarah sepak bola tersebut adalah laga yang sarat drama dan selalu berlangsung dalam tensi tinggi. Ant

Redaktur: Koran Jakarta

Penulis: Opik

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.