Indonesia Tercekik Polusi Udara, 1.700 Nyawa Melayang Akibat Karhutla
📅 Kamis, 17 Sep 2026, 03:15 WIB | Oleh: Tim Redaksi“Kebakaran ini harus menjadi tamparan keras bagi Pemerintah Indonesia. Kebijakan energi tidak boleh dievaluasi hanya berdasarkan target pasokan atau output ekonomi, tapi juga dari terlindunginya masyarakat, tersedianya udara bersih, lingkungan yang sehat, serta akses yang adil terhadap sumber daya alam,” jelas Direktur Program Trend Asia, Ahmad Ashov Birry.
Lebih lanjut, CREA mengingatkan ancaman karhutla di tahun ini berpotensi semakin besar mengingat puncaknya belum terjadi. Secara historis, puncak karhutla berada pada akhir September hingga November, sehingga yang terjadi pada Agustus merupakan awal dari krisis yang lebih besar apabila tidak ditangani dengan serius. CREA pun meminta Pemerintah melihat persoalan kualitas udara sebagai satu kesatuan, baik yang berasal dari kebakaran hutan dan lahan maupun dari sumber emisi rutin di sektor energi, industri, transportasi, dan sektor lainnya.
Pemerintah tambah CREA harus memperkuat kebijakan udara bersih melalui standar kualitas udara yang mengikat secara hukum, sistem pemantauan yang transparan, serta koordinasi lintas kementerian.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!