- Home
-
- Luar Negeri
-
- Ekonomi Tiongkok Makin Nge...
Ekonomi Tiongkok Makin Ngebut! Ekspor-Impor Melonjak pada Agustus, Didukung Ledakan Industri AI
Selasa, 08 Sep 2026, 13:10 WIBBeijing â Ekspor dan impor Tiongkok melonjak pada Agustus, didorong pembangunan infrastruktur kecerdasan buatan (AI) secara global yang meningkatkan permintaan terhadap produk teknologi, serta menjelang pertemuan yang diperkirakan mempertemukan Presiden Tiongkok Xi Jinping dan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump.
Setelah mencatat surplus perdagangan bersejarah pada 2025, perdagangan Tiongkok terus tumbuh tahun ini, terutama berkat meningkatnya permintaan luar negeri terhadap semikonduktor, perangkat keras komputasi, dan berbagai produk yang berkaitan dengan pesatnya perkembangan AI.
Administrasi Umum Kepabeanan Tiongkok (GAC) mengatakan ekspor melonjak 25 persen secara tahunan pada Agustus, meningkat dari pertumbuhan 23,9 persen pada Juli. Namun, angka tersebut sedikit di bawah perkiraan 25,9 persen berdasarkan survei Bloomberg terhadap para ekonom.
Sementara itu, impor meningkat 28,2 persen, lebih cepat dibandingkan pertumbuhan 27,5 persen pada Juli, tetapi masih di bawah perkiraan 31 persen dalam survei Bloomberg.
"Pertumbuhan perdagangan Tiongkok tetap kuat pada Agustus, dengan ekspor dan impor terus tumbuh dalam laju yang pesat," tulis ekonom Tiongkok dari Capital Economics, Nguyen Hoang Nam.
Namun, menurut Nguyen, momentum impor melemah jika disesuaikan secara musiman, mencerminkan "permintaan domestik yang masih lesu".
Pengiriman barang ke luar negeri yang kuat menjadi salah satu penopang utama perekonomian Tiongkok dalam beberapa bulan terakhir, ketika aktivitas domestik mengalami perlambatan.
Data yang dirilis pekan lalu menunjukkan aktivitas manufaktur Tiongkok mengalami kontraksi selama dua bulan berturut-turut pada Agustus, meskipun permintaan dari luar negeri meningkat.
Pertumbuhan ekspor baru tahun ini terutama berasal dari sektor AI global, menambah kekuatan pada sektor lain seperti kendaraan listrik, barang konsumsi, dan peralatan industri.
Dari Januari hingga Agustus, nilai ekspor komputer dan komponen terkait dari Tiongkok melonjak 49,4 persen, berdasarkan data kepabeanan.
Nilai ekspor mobil juga meningkat 53,2 persen hingga akhir Agustus.
"Tiongkok masih terus mengandalkan eksportir untuk menopang perekonomian," tulis Zhiwei Zhang, presiden sekaligus kepala ekonom Pinpoint Asset Management.
Data GAC menunjukkan surplus perdagangan kumulatif Tiongkok hingga akhir Agustus mencapai 805,5 miliar dolar AS dan berpotensi melampaui rekor tahun lalu.
Ketimpangan Perdagangan
Namun, ketidakseimbangan perdagangan yang semakin besar dengan sejumlah mitra dagang utama juga memunculkan persoalan politik. Sejumlah pejabat di luar negeri menilai gelombang produk Tiongkok yang masuk ke pasar mereka semakin menekan persaingan dengan produsen lokal.
"Pemerintah AS telah menjelaskan dalam pertemuan G20 bahwa mereka mengkhawatirkan persoalan ini (ketidakseimbangan perdagangan)," tulis Zhang.
Pengiriman barang Tiongkok ke Amerika Serikat meningkat 34,4 persen secara tahunan pada Agustus, dibandingkan kenaikan 17 persen pada Juli.
Data terbaru tersebut dirilis menjelang pertemuan tingkat tinggi yang diperkirakan mempertemukan Xi Jinping dan Donald Trump di Washington pada bulan ini.
Gelombang tarif global yang dilancarkan Presiden AS tahun lalu kembali memicu ketegangan dalam hubungan perdagangan kedua negara.
Tarif tinggi yang diberlakukan Washington dan kemudian dibalas Beijing untuk sementara dilonggarkan pada akhir tahun lalu, setelah Tiongkok mengambil langkah untuk membatasi secara ketat aliran mineral tanah jarang ke Amerika Serikat.
Pertumbuhan kuat ekspor Tiongkok ke Uni Eropa, Asia Tenggara, dan Afrika membantu mengimbangi penurunan tajam pengiriman ke Amerika Serikat yang terdampak perang tarif.
"Pangsa pengiriman yang langsung menuju Amerika Serikat stabil di sekitar 10 persen, sementara pangsa pengiriman menuju ASEAN tetap tinggi," tulis Nguyen, merujuk pada blok negara-negara Asia Tenggara.
Surplus perdagangan bilateral Tiongkok dengan Uni Eropa dan Inggris juga tetap "sangat besar" pada Agustus, menurut Nguyen. Kondisi tersebut menambah ketegangan perdagangan yang sudah tinggi dan meningkatkan kemungkinan munculnya langkah-langkah proteksionis lebih lanjut di kawasan tersebut.
Redaktur: Andes Tanjung
Penulis: AFP
Berita Terkait:
-
Telur Peternak Tak Terserap, Mentan Amran Copot Korwil KPPG Surabaya di Depan Rapat!
-
Raih Dua Kemenangan, John Herdman Ingin Timnas Indonesia Jaga Momentum Positif
-
Pangkas Pohon Pakai Sains, Singapura Buktikan Diri Jadi Kota Tercanggih
-
Jepang Siap Gelontorkan Rp397 Triliun ke Indonesia, Sektor Otomotif Jadi Primadona Investasi
-
Astronot Tiongkok Sukses Uji Coba Alat Pengukur Massa di Orbit Bumi
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.