Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Kemenkes: 3,3 Juta Lansia Berisiko Terdampak Abu Erupsi Anak Krakatau

📅 Senin, 07 Sep 2026, 10:12 WIB | Oleh: Tim Penulis
Kemenkes: 3,3 Juta Lansia Berisiko Terdampak Abu Erupsi Anak Krakatau Doc: ANTARA
Ket. Warga mengenakan masker di Tempat Pelelangan Ikan Pasauran untuk menghindari paparan abu vulkanik erupsi Gunung Anak Krakatau, Kabupaten Serang, Banten, Minggu (6/9/2026).

JAKARTA - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengatakan total populasi lansia yang berisiko mengalami ancaman kesehatan dari erupsi Gunung Anak Krakatau mencapai sekitar 3,3 juta jiwa, yang menunjukkan besarnya beban kesehatan yang harus diantisipasi.

"Abu vulkanik memiliki karakteristik yang berbeda dengan debu biasa. Kandungan silika tajam membuatnya berbahaya bagi paru-paru, mata, dan kulit. Bila bercampur dengan air, abu dapat mengeras seperti semen sehingga salah cara membersihkan justru menambah risiko," kata Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kemenkes Imran Pambudi di Jakarta, Senin.

Bagi lansia, lanjutnya, paparan abu vulkanik dapat memicu berbagai masalah kesehatan. Gangguan pernapasan seperti ISPA, sesak napas, dan eksaserbasi asma atau PPOK (Penyakit Paru Obstruktif Kronis) sering terjadi. Risiko kardiovaskular meningkat dengan tekanan darah yang naik dan potensi serangan jantung atau stroke.

Partikel halusnya mampu menembus jauh ke dalam saluran pernapasan, memicu peradangan, dan memperburuk penyakit kronis. Hal ini berbeda dengan asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang lebih banyak mengandung karbon, gas beracun, dan partikel organik.

Abu vulkanik menimbulkan iritasi fisik yang cepat, sementara asap karhutla berdampak lebih lama dan kronis terhadap kesehatan pernapasan dan kardiovaskular.

"Mata menjadi perih, berair, dan mudah teriritasi, sementara kulit mengalami gatal dan peradangan. Tidak jarang lansia juga mengalami kebingungan atau penurunan konsentrasi akibat paparan berkepanjangan. Trauma evakuasi mendadak dan isolasi sosial menambah beban psikologis berupa stres dan depresi," katanya.

Aktivitas vulkanik Anak Gunung Krakatau selalu menjadi ancaman kesehatan yang nyata, terutama bagi kelompok lansia.

Sejarah mencatat bahwa gunung ini beberapa kali meletus dalam dua dekade terakhir, dengan peristiwa besar pada tahun 2018 yang memicu tsunami di Selat Sunda, serta letusan pada September 2026 yang menyebarkan abu hingga Lampung, Banten, DKI Jakarta, dan sebagian Jawa Barat.

Setiap kali terjadi erupsi, dampak kesehatan masyarakat tidak bisa dihindari, dan lansia menjadi kelompok yang paling rentan.

Imran menyebut mitigasi harus dilakukan secara menyeluruh. Masyarakat perlu menggunakan masker N95 atau KN95 serta kacamata pelindung, menutup celah rumah agar abu tidak masuk, dan membersihkan abu dengan cara membasahinya terlebih dahulu.

Keluarga dan caregiver harus memastikan obat rutin lansia tersedia, memantau tanda bahaya, dan memberikan dukungan psikososial. Fasilitas kesehatan di daerah terdampak wajib menyiapkan oksigen konsentrator, obat ISPA, salep kulit, dan obat tetes mata, serta menyiagakan tenaga kesehatan untuk evakuasi darurat.

Kemudian, katanya, membersihkan abu vulkanik di rumah harus dilakukan dengan cara yang penuh kehati-hatian agar tidak menimbulkan masalah kesehatan.

Abu vulkanik mengandung partikel silika yang tajam dan bersifat asam, sehingga bila salah penanganan dapat merusak lantai, kaca, kendaraan, sekaligus membahayakan paru-paru.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Gelombang Tsunami Setinggi 18 Meter Mengancam Pantai Selatan Kebumen
    Membayangkannya saja sudah bikin takut. Apalagi ada keluarga ...
  • Mohon Dukungan Doa! Paus Leo XIV Akan Jalani Operasi Paru-paru di Roma
    Turut mendoakan, semoga operasinya berjalan baik dan lancar ...
  • Peringkat FIFA Melesat, Timnas Indonesia Dipastikan Lolos Langsung ke Putaran Kedua Kualifikasi Piala Dunia 2030
    Masa depan timnas kita sepertinya makin cerah, sangat ...
  • Kolaborasi Industri dan Akademisi Diperkuat, Seequent Dorong Kapasitas Geosains Indonesia
    How can collaboration between industry and academic institutions ...
  • Mengapa Tak Banyak Mahasiswa Asing yang Mau Kuliah di Indonesia?
    What factors might discourage international students from pursuing ...
Megapolitan
Prancis Membara, 1.800 Oran...
Luar Negeri
Helikopter Pengintai Arab S...
Advertisement
Prancis Bosah-baseh, Apple, Louis Vuitton, Hermes, dan Rolex Dijarah

Prancis Bosah-baseh, Apple, Louis Vuitton, Hermes, dan Rolex Dijarah

18 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.