RSF Serukan Serangan Besar Menuju Ibu Kota Khartoum

Minggu, 02 Agu 2026, 00:00 WIB

KHARTOUM - Perang saudara Sudan kembali memasuki fase yang mengkhawatirkan. Kelompok paramiliter Rapid Support Forces (RSF) mengeluarkan pernyataan keras bahwa mereka akan kembali bergerak menuju ibu kota Khartoum, meski dalam beberapa bulan terakhir terus mengalami tekanan dan kehilangan sejumlah wilayah strategis.

Dari The National News, ancaman itu disampaikan langsung oleh pemimpin RSF, Mohamed Hamdan Dagalo atau yang lebih dikenal sebagai Hemedti. Dalam pesan video yang dipublikasikan beberapa hari lalu, ia menyerukan kepada pasukannya untuk terus maju dan menegaskan bahwa "tidak ada lagi mundur." Pernyataan tersebut dipandang sebagai sinyal bahwa RSF tengah menyiapkan operasi militer baru setelah mengalami kemunduran di wilayah Kordofan. 

Ket. Foto: Meski RSF terus menggaungkan rencana ofensif baru, kondisi mereka tidak sepenuhnya solid. Dalam beberapa pekan terakhir, ratusan anggota RSF dilaporkan membelot ke pihak militer Sudan bersama perlengkapan tempur mereka. — Sumber: Istimewa

Beberapa hari sebelumnya, militer Sudan atau Sudanese Armed Forces (SAF) berhasil merebut kembali kota strategis Bara di Negara Bagian Kordofan Utara. Keberhasilan ini membuka kembali jalur penting yang menghubungkan wilayah Kordofan dengan Khartoum dan dinilai menjadi salah satu pukulan terbesar bagi RSF dalam beberapa waktu terakhir. 

Sebagai respons, RSF meningkatkan serangan menggunakan drone ke sejumlah wilayah yang dikuasai militer. Situasi tersebut memicu kekhawatiran bahwa perang akan kembali meluas menuju kawasan ibu kota.

Konflik Sudan sendiri telah berlangsung sejak 15 April 2023, ketika perseteruan antara SAF yang dipimpin Jenderal Abdel Fattah al-Burhan dan RSF di bawah Hemedti berubah menjadi perang terbuka. Sejak saat itu, jutaan warga terpaksa mengungsi, puluhan ribu orang tewas, dan Sudan kini disebut sebagai salah satu krisis kemanusiaan terbesar di dunia. 

Meski RSF terus menggaungkan rencana ofensif baru, kondisi mereka tidak sepenuhnya solid. Dalam beberapa pekan terakhir, ratusan anggota RSF dilaporkan membelot ke pihak militer Sudan bersama perlengkapan tempur mereka. Sejumlah komandan lapangan juga meninggalkan kelompok tersebut, memperlihatkan adanya retakan di tubuh RSF. 

Sementara itu, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) berulang kali memperingatkan bahwa eskalasi pertempuran di Sudan, terutama di wilayah Kordofan dan Darfur, berisiko memicu gelombang kekerasan baru terhadap warga sipil. Organisasi internasional juga menyoroti penggunaan drone, serangan terhadap infrastruktur sipil, serta ancaman terhadap jalur distribusi bantuan kemanusiaan. 

Dengan RSF kini kembali menyerukan gerakan menuju Khartoum, Sudan menghadapi kemungkinan babak baru perang yang dapat memperpanjang penderitaan jutaan penduduk sipil dan semakin memperumit upaya perdamaian yang hingga kini belum menunjukkan hasil nyata.

  • Konflik Sudan

Redaktur: Selocahyo Basoeki Utomo S

Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.