Fenomena Langka, Bayi Kembar Monyet Bekantan Lahir di Pulau Cariak, Kalimantan Selatan

Minggu, 21 Jun 2026, 08:33 WIB

BARITO KUALA - Pemandangan langka terlihat di Pulau Curiak, Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan. Sepasang bayi bekantan kembar lahir di Stasiun Riset Bekantan "Camp Tim Roberts".

Pengelola konservasi, Dr. Amalia Rezeki, seorang ahli konservasi biologi Universitas Lambung Mangkurat (ULM), mengatakan, dua ekor bayi bekantan kembar yang baru saja lahir pada pertengahan Juni 2026 ini berasal dari betina kelompok Alpha.

Ket. Foto: Bayi kembar bekantan bersama induknya di Pulau Curiak. — Sumber: SBI

Menurut Amelia, kelahiran bayi kembar pada primata merupakan fenomena yang sangat langka. Peluang terjadinya kelahiran kembar pada primata, khususnya monyet besar dari dunia lama seperti bekantan (Nasalis larvatus) di alam liar sangat kecil dibandingkan kelahiran tunggal.

Kemunculan bayi kembar bekantan itu terlihat pertama kali saat Amelia dan tim melakukan pemantau rutin di area Camp Tim Roberts.

Amelia mengaku terharu menyaksikan pemandangan yang menakjubkan ketika dua ekor bayi kembar yang sedang menyusu dipelukan induknya.

"Kami sangat bersyukur dan sempat meneteskan air mata terharu karena lebih dari sepuluh tahun saya mendedikasikan diri bagi upaya pelestarian bekantan di kawasan Pulau Curiak, baru kali ini menemukan kelahiran bayi bekantan kembar," ungkap dosen Pendidikan Biologi ULM peraih Kalpataru 2022 sebagai penyelamat lingkungan ini.

Sepanjang pertengahan tahun ini telah lahir tiga bayi bekantan di kawasan Camp Tim Roberts yang merupakan bagian dari Stasiun Riset Bekantan Pulau Curiak, sebuah habitat yang berada di luar kawasan konservasi.

Amelia menjelaskan masa reproduksi bekantan jantan dimulai dari usia 4 hingga 5 tahun, sementara untuk betinanya pada usia 4 tahun. Bekantan lazimnya hanya melahirkan 1 ekor bayi dalam 1 musim, dengan masa kehamilan selama 5 sampai 6 bulan.

Bayi bekantan dirawat secara berkelompok dengan pola asuh, semacam baby sister oleh koloninya, terutama dilakukan oleh betina muda.

Kelahiran bayi kembar bekantan ini menarik perhatian dunia, terutama dari kalangan akademisi yang juga peneliti serta pegiat konservasi keragaman hayati.

Primata yang termasuk dalam daftar merah Lembaga Konservasi Internasional IUCN dengan status terancam punah (Endangered Species) ini, kini banyak menjadi perhatian dunia, terlebih dengan kemunculan bayi kembar bekantan.

Profesor Tim Roberts dari University of Newcastle, Australia, mengatakan, kawasan konservasi di Pulau Curiak yang berada di sistem Sungai Barito telah menjadi benteng penting dalam menahan laju kepunahan dengan menyediakan habitat hutan yang aman dan kaya sumber daya bagi bekantan.

Kelahiran bayi bekantan kembar ini, kata dia, merupakan bukti nyata dari kerja keras Sahabat Bekantan Indonesia (SBI) di bawah kepemimpinan Amelia.

Nama Tim Roberts sendiri diabadikan pada Stasiun Riset Bekantan Pulau Curiak sebagai bentuk penghargaan atas dedikasi dan perannya dalam pendirian stasiun riset tersebut, yang juga berfungsi sebagai suaka alami bagi monyet hidung panjang ini.

Senada dengan itu, Ikki Matsuda, Ph.D. dari Wildlife Research Center, Kyoto University, yang juga peneliti bekantan asal Jepang, menyambut gembira keberhasilan tim Amelia dalam menjaga serta merawat bekantan beserta habitatnya di Indonesia.

Menurut Matsuda, kelahiran kembar pada primata umumnya merupakan peristiwa yang langka, sementara monyet hidung panjang atau bekantan biasanya hanya melahirkan satu anak. Karena itu, fenomena bersejarah ini dinilainya sangat luar biasa dan layak untuk dibagikan kepada publik.

  • Satwa Dilindungi

Redaktur: Lili Lestari

Penulis: Antara, Lili Lestari

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.