Komunitas Tari Tulungagung Menggelar Nyantrik#9 Menghadirkan Maestro Tari Bali
Sabtu, 01 Agu 2026, 23:55 WIBTulungagung - Komunitas tari Sanggar Seni Candra Mustika Tulungagung menghadirkan maestro tari Bali sekaligus dosen Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, Ni Kadek Rai Dewi Astini, dalam lokakarya bertajuk Nyantrik#9 untuk meningkatkan kompetensi penari melalui pembelajaran teknik dasar.
Puluhan penari dari berbagai sanggar seni di wilayah eks-Karesidenan Mataraman hingga Sidoarjo mengikuti lokakarya yang berlangsung di Pendopo Taman Bina Bakat dan Kompetensi Siswa (TB2KS) Tulungagung, Jawa Timur, Sabtu.
Kegiatan diawali dengan penyampaian materi mengenai filosofi dan karakter tari Bali.
Selanjutnya, Ni Kadek Rai Dewi Astini mengajarkan teknik dasar tari Bali, mulai agem, tandang, tangkis, hingga tangkep, sebelum peserta mempraktikkan langsung rangkaian gerak tersebut secara bertahap.
Suasana pelatihan berlangsung interaktif. Maestro tari Bali itu beberapa kali memperagakan detail gerak, posisi tubuh, arah pandangan, hingga ekspresi wajah, kemudian mengoreksi gerakan peserta satu per satu agar sesuai dengan pakem tari Bali.
Ketua Sanggar Seni Candra Mustika Tulungagung Aulia Renata mengatakan program Nyantrik dirancang sebagai ruang belajar bagi pelaku seni untuk berguru langsung kepada maestro maupun praktisi seni berpengalaman.
"Esensi Nyantrik adalah memberi kesempatan kepada penari untuk belajar langsung dari maestro yang memiliki kompetensi di bidangnya," katanya.
Ia menjelaskan materi tari Bali dipilih untuk memperluas wawasan peserta yang sebagian besar berasal dari lingkungan budaya Jawa sehingga memiliki kesempatan mempelajari karakter tari dari daerah lain.
Dalam lokakarya tersebut peserta mempelajari Tari Janger Abhinaya, karya koreografi ciptaan Ni Kadek Rai Dewi Astini.
Menurut Aulia, tari tersebut dipilih karena memiliki karakter dinamis serta memadukan unsur tradisi dan pendekatan koreografi yang lebih dekat dengan penari masa kini.
Ni Kadek Rai Dewi Astini mengatakan Janger Abhinaya diciptakan sebagai respons terhadap situasi pandemi COVID-19 pada 2020-2021.
Menurut dia, karya tersebut membawa semangat perjuangan, optimisme, dan kesejahteraan diri melalui gerak tari yang energik namun tetap mudah dipelajari.
"Spirit paling mendasar dari Tari Janger Abhinaya adalah bagaimana membangun kesejahteraan diri agar tetap sehat. Saat pandemi banyak orang merasa terkungkung sehingga tarian ini dihadirkan untuk membawa energi positif," katanya.
Ia menjelaskan koreografi itu mengolah pakem tari Janger klasik menjadi gerak yang lebih simultan dan dinamis tanpa meninggalkan akar tradisi Bali.
Melalui kegiatan tersebut, penyelenggara berharap para penari tidak hanya memperkaya teknik dan wawasan artistik, tetapi juga memperkuat upaya pelestarian serta pengembangan seni tari tradisi Nusantara melalui proses belajar langsung bersama maestro
Redaktur: Redaksi Koran Jakarta
Penulis: Antara
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.