Serangan Siber Hantam Instalasi Air Minnesota, Trump Tolak Tuding Iran - Justru Salahkan Lawan Politik

Minggu, 02 Agu 2026, 00:01 WIB

WASHINGTON DC - Amerika Serikat kembali diguncang serangan siber yang kali ini menyasar salah satu infrastruktur paling vital, yakni sistem penyedia air minum. Sedikitnya 30 hingga 36 instalasi pengolahan air di negara bagian Minnesota menjadi sasaran peretasan terkoordinasi yang memaksa sejumlah fasilitas menghentikan sistem otomatis dan beralih ke pengoperasian manual.

Serangan yang terjadi pada 26 hingga 27 Juli itu langsung memicu penyelidikan besar-besaran oleh FBI, Badan Keamanan Siber dan Infrastruktur Amerika Serikat atau CISA, serta pemerintah negara bagian Minnesota.

Ket. Foto: Pernyataan Trump memicu kontroversi karena bertolak belakang dengan arah penyelidikan aparat keamanan federal yang masih mendalami kemungkinan keterlibatan kelompok peretas yang berafiliasi dengan Iran. — Sumber: Istimewa

Beberapa kota seperti Plymouth, South St. Paul, Maple Plain, hingga Braham mengonfirmasi sistem kendali digital mereka mengalami gangguan. Di Kota Braham, perangkat lunak berbahaya bahkan sempat mematikan sistem kontrol instalasi sehingga menara penampungan air tidak dapat diisi selama lebih dari satu jam.

Meski demikian, pemerintah Minnesota menenangkan masyarakat. Para pejabat memastikan kualitas air minum tetap aman.

"Tidak ada indikasi bahwa kualitas air minum terganggu atau tidak aman untuk dikonsumsi," tegas otoritas setempat. Selama proses pemulihan, instalasi tetap beroperasi menggunakan sistem manual sehingga pasokan air kepada masyarakat tidak terputus.

Direktur Minnesota Information Technology Services, Tarek Tomes, mengatakan seluruh tim langsung bergerak begitu pola serangan terdeteksi.

"Kami bekerja sepanjang waktu bersama FBI, CISA, dan seluruh mitra federal untuk memastikan layanan publik tetap berjalan dan masyarakat tetap aman," ujarnya.

Ia menambahkan bahwa penyelidikan masih berlangsung sehingga pemerintah belum menarik kesimpulan resmi mengenai siapa pelaku di balik serangan tersebut.

Namun sejumlah pejabat keamanan Amerika mengungkapkan bahwa hasil investigasi awal mengarah pada kelompok peretas yang diduga berafiliasi dengan Iran. Dugaan itu sejalan dengan peringatan pemerintah federal beberapa pekan sebelumnya mengenai meningkatnya aktivitas kelompok siber pro-Iran yang membidik infrastruktur penting Amerika, terutama sektor air dan energi.

Meski demikian, pemerintah Amerika hingga kini belum memberikan atribusi resmi karena proses investigasi masih berlangsung.

Yang mengejutkan, Presiden Donald Trump justru mengambil sikap berbeda. Saat ditanya wartawan mengenai dugaan keterlibatan Iran, Trump menolak menyalahkan Teheran.

"Saya menyalahkan Minnesota karena mereka sangat tidak kompeten." kata Trump.

Trump kemudian melanjutkan kritiknya.

"Saya menyalahkan Minnesota dan gubernurnya yang korup. Iran memiliki masalah yang jauh lebih besar daripada harus mengkhawatirkan Minnesota."

Pernyataan tersebut langsung memicu kontroversi karena bertolak belakang dengan arah penyelidikan aparat keamanan federal yang masih mendalami kemungkinan keterlibatan kelompok peretas yang berafiliasi dengan Iran.

Tak lama berselang, Gubernur Minnesota Tim Walz memberikan balasan keras melalui media sosial.

"Presiden tahu persis siapa yang bertanggung jawab atas serangan ini, dan dia tahu negara bagian lain juga menjadi sasaran. Inilah bentuk peperangan modern."

Walz menilai persoalan ini tidak boleh dipolitisasi. Menurutnya, serangan tersebut merupakan ancaman terhadap infrastruktur nasional Amerika Serikat, bukan hanya terhadap Minnesota.

Ia juga mengkritik kebijakan pemerintah federal yang dinilai telah melemahkan kemampuan badan keamanan siber nasional di tengah meningkatnya ancaman terhadap fasilitas publik.

Penyelidikan juga menemukan bahwa serangan serupa tidak hanya terjadi di Minnesota. Sedikitnya tujuh negara bagian lain dilaporkan mengalami pola serangan yang hampir identik. Para peretas diduga mengubah kata sandi sistem, mengganggu perangkat kendali industri, hingga menyebabkan penurunan tekanan air di beberapa fasilitas.

Para pakar keamanan siber menilai insiden ini menjadi peringatan serius bahwa sistem penyedia air masih menjadi salah satu titik paling rentan dalam infrastruktur Amerika.

Seorang pakar keamanan siber mengatakan,

"instalasi air masih menjadi sasaran empuk karena banyak yang menggunakan sistem kendali lama yang sejak awal tidak dirancang menghadapi ancaman siber modern."

Menurut para ahli, kelompok peretas tidak selalu bertujuan merusak fasilitas secara permanen. Dalam banyak kasus, mereka ingin menguji kemampuan pertahanan lawan, menciptakan kepanikan publik, atau mengirim pesan politik tanpa harus melakukan serangan militer secara langsung.

Kasus ini juga muncul ketika hubungan Amerika Serikat dan Iran kembali memanas. Bila nantinya keterlibatan kelompok peretas Iran berhasil dibuktikan secara resmi, serangan tersebut berpotensi dipandang sebagai bagian dari eskalasi konflik kedua negara di dunia maya.

Namun hingga saat ini, pemerintah Amerika masih berhati-hati dan belum menetapkan siapa pelaku di balik serangan tersebut.

Yang jelas, insiden di Minnesota memperlihatkan bahwa peperangan modern kini tidak selalu dilakukan dengan rudal, pesawat tempur, atau kapal perang. Dengan beberapa baris kode berbahaya, layanan publik yang menopang kehidupan jutaan orang dapat terganggu hanya dalam hitungan menit. Itulah sebabnya, serangan siber kini menjadi salah satu ancaman keamanan nasional yang paling serius bagi banyak negara di dunia.

Redaktur: Selocahyo Basoeki Utomo S

Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.