AS Siap Melakukan Serangan Militer Berskala Besar ke Iran

Selasa, 21 Jul 2026, 01:10 WIB

WASHINGTON - Amerika Serikat (AS) sedang bersiap melakukan serangan militer berskala besar ke Iran. Hal itu tertuang dalam laporan The Washington Post yang mengutip seorang pejabat AS yang menyatakan negara adidaya tersebut meningkatkan kehadiran militernya di Timur Tengah, 

Sedangkan, laporan Wall Street Journal, Minggu (19/7), AS sedang mengerahkan lagi pesawat tempur dan pesawat pengisi bahan bakar tambahan dari Eropa ke Timur Tengah.

Ket. Foto: Kapal-kapal berlayar di sepanjang Selat Hormuz. — Sumber: AMIRHOSSEIN KHORGOOEI/ISNA/AFP

“AS sedang merencanakan perang yang lebih luas,” kata seorang pejabat AS yang mengetahui diskusi internal pemerintahan Trump.

Namun, kemampuan AS untuk melakukan aksi militer berskala besar itu dibatasi oleh menipisnya persediaan amunisi, demikian kata sumber surat kabar tersebut.

Sebelumnya, Komando Pusat AS (CENTCOM) melaporkan tewasnya dua tentara AS di Yordania. Beberapa jenazah tak dikenal kemudian ditemukan di sana. Seorang tentara juga tewas di Irak akibat terkena serangan drone Iran.

AS dan Iran menandatangani nota kesepahaman pada 18 Juni untuk mengakhiri konflik yang berlangsung sejak 28 Februari. Namun, Washington kembali melancarkan serangan ke Iran pada 8 Juli dengan alasan merespons tindakan Iran terhadap pelayaran komersial di Selat Hormuz.

Iran menyatakan serangan itu melanggar kesepakatan dan melancarkan serangan balasan ke pangkalan-pangkalan milik AS di Timur Tengah.

Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) pada Senin dini hari menyatakan dua tanker minyak, yang berusaha melintasi "jalur tak aman" di sebelah selatan Selat Hormuz, meledak dan tidak dapat melanjutkan pelayarannya.

IRGC menyatakan dua kapal itu berusaha melintasi jalur rute itu di bawah tekanan dan paksaan dari militer AS.

Dalam pernyataan tersebut, Iran pun kembali memperingatkan bahwa selama "agresi AS terus berlanjut di kawasan tersebut, maka jalur itu tidak akan aman untuk pengiriman pupuk, minyak, atau gas.

Oleh karena itu, lanjut IRGC, militer AS harus bersiap menghadapi pembalasan atas tindakan ilegal dan melanggar hukum itu.

Sebelumnya, Badan Operasi Perdagangan Maritim Inggris (UKMTO) menyatakan pihak militer telah melaporkan adanya kapal yang terbakar sekitar delapan mil laut di barat laut Kumzar, Oman, dan penyebab kebakaran tersebut belum diverifikasi.

Ketegangan regional semakin memanas sejak AS dan Israel melancarkan serangan gabungan terhadap Iran pada Februari lalu. Iran pun membalas dengan serangan drone dan rudal dengan menargetkan negara-negara Teluk yang menjadi tuan rumah aset-aset milik AS.

AS dan Iran sempat menandatangani nota kesepahaman yang dimediasi Pakistan untuk mengakhiri konflik dan mencapai perdamaian jangka panjang. Namun, ketegangan kembali meningkat pekan lalu akibat sengketa di Selat Hormuz hingga memicu aksi saling serang antara kedua negara.

Redaktur: Vitto Budi

Penulis: Antara, Selocahyo Basoeki Utomo S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.