Arungi Laut dengan Perahu Layar Sangiang dan Eksotisme Savana Tambora lewat 'Sport Tourism' Gerakkan Ekowisata Alam

Selasa, 15 Sep 2026, 19:49 WIB

BIMA, NUSA TENGGARA BARAT - Layar perahu yang mengejar angin di perairan Sangiang dan langkah para pelari yang menembus savana Tambora telah lama meninggalkan garis start dan finis. Namun, kesan dari kedua acara tersebut masih terekam kuat.

Di Sangiang, riuh sorak warga dan wisatawan mengiringi perahu-perahu tradisional yang berlomba menuju daratan. Beberapa hari kemudian, di kaki Gunung Tambora, ratusan pelari dari berbagai daerah berdatangan untuk menaklukkan jalur dari pesisir hingga pegunungan.

Ket. Foto: Sejumlah perahu layar berpacu dalam lomba perahu layar pada Festival Sangiang Api 2026 di perairan Desa Sangiang, Kecamatan Wera, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat, Selasa (8/9). Lomba perahu layar menjadi salah satu atraksi utama festival yang mengangkat tradisi bahari dan potensi wisata alam Pulau Sangiang. — Sumber: ANTARA/Ady Ardiansah.

Meski berlangsung dalam suasana yang berbeda, kedua acara ini menyisakan cerita serupa: ketika masyarakat menikmati tradisi dan alam, roda ekonomi warga ikut berputar.

Warung-warung membludak, dagangan UMKM laris manis, jasa transportasi kebanjiran penumpang, dan produk lokal makin dikenal. Sebuah bar kopi di arena Tambora Jungle Run bahkan mampu melipatgandakan omsetnya, memutar modal modal Rp1 juta menjadi penjualan sebesar Rp2 juta hanya dalam kurun waktu kurang dari sehari.

Di sinilah Festival Sangiang Api dan Tambora Jungle Run 2026 memperlihatkan wajah lain dari pariwisata Pulau Sumbawa. Sebuah acara bukan sekadar keramaian yang usai saat panggung dibongkar, melainkan pintu masuk bagi rantai ekonomi wisata berbasis komunitas yang berkelanjutan.

Layar Hidupkan Cerita Bahari

Di Desa Sangiang, Kecamatan Wera, Kabupaten Bima, kesan itu terpancar jelas melalui Festival Sangiang Api 2026 yang digelar pada 30 Agustus hingga 8 September 2026.

Desa Sangiang merupakan pintu gerbang menuju Pulau Sangiang, sebuah pulau vulkanik yang terletak di timur laut Pulau Sumbawa. Di pulau ini, berdiri megah Gunung Sangiang Api, gunung berapi aktif yang menjadi bagian penting dari lanskap serta identitas kawasan setempat.

Perpaduan antara gunung api, pesisir laut, dan tradisi masyarakat memberikan daya tarik wisata tersendiri bagi Sangiang. Potensi besar inilah yang kemudian dikemas melalui Festival Sangiang Api melalui sajian seni budaya, olahraga, dan ekonomi kreatif.

Salah satu atraksi utamanya adalah lomba perahu layar. Tujuh perahu tradisional beradu cepat membelah lautan dari arah Gunung Sangiang Api menuju Desa Sangiang, disaksikan riuh warga yang memadati sepanjang tepian pantai.

Tak hanya warga lokal, festival ini juga menyedot perhatian wisatawan dari berbagai daerah seperti Makassar, Labuan Bajo, Lombok, Jawa, hingga mancanegara. Kehadiran para pelancong ini membuktikan bahwa atraksi berbasis tradisi lokal mampu menjadi daya tarik utama yang menggerakkan perjalanan wisata antardaerah.

Tak berhenti di situ, festival ini juga dimeriahkan dengan lomba dayung, pertunjukan seni tradisional, jajanan kuliner khas, hingga bazar UMKM. Rangkaian kegiatan tersebut menjadi titik temu yang saling menguntungkan antara para wisatawan dan produk serta jasa yang ditawarkan oleh masyarakat setempat.

Bagi Saifullah, pemilik sampan layar Sembilan Naga, merakit perahu layar bukan sekadar merawat tradisi bahari, melainkan juga bagian dari menyambut geliat pariwisata.

Untuk membangun satu perahu balap kompetisi saja, ia harus merogoh kocek lebih dari Rp30 juta dengan waktu pengerjaan sekitar tiga bulan. Perahu berukuran panjang 7 hingga 9 meter tersebut ditopang tiang layar setinggi tujuh meter, memadukan material kayu, bambu, terpal, serta perlengkapan lain yang sebagian harus didatangkan dari luar Sangiang.

Geliat perlombaan ini pun terbukti mampu menggerakkan roda ekonomi jauh sebelum perahu meluncur di garis start. Aktivitas tersebut memberi penghidupan bagi para pembuat perahu, pemasok bahan, hingga para pekerja. Ketika festival berlangsung, rezeki berlanjut ke para pedagang makanan, minuman, suvenir, pakaian, hingga penyedia jasa transportasi.

Dampak manis ini dirasakan langsung oleh Farida, seorang pelaku ekonomi kreatif di sekitar lokasi festival. Dagangannya laris manis jauh lebih cepat dibanding hari-hari biasa, sampai-sampai ia harus mendatangkan pasokan bahan baku tambahan dari Kota Bima.

“Sangat laku dan keuntungannya sampai berkali-kali lipat. Stok jualan saya beberapa kali sampai ludes,” tuturnya.

Tak hanya kuliner, UMKM pembuat kaus souvenir juga ketiban rezeki. Produk-produk mereka banyak diborong oleh para pengunjung sebagai kenang-kenangan.

Festival Sangiang Api sendiri pertama kali diinisiasi oleh para pemuda desa pada 2014 dan mulai digelar secara rutin sejak 2018. Kini, Pemerintah Kabupaten Bima terus mendorong pengembangannya agar festival ini dapat menembus jajaran agenda Kharisma Event Nusantara (KEN).

Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Bima, Muhamad Akbar, menilai festival ini memiliki potensi yang lebih besar jika ke depannya dikembangkan secara terintegrasi dengan menghubungkan Sangiang ke destinasi unggulan lain, seperti Sape, Lambu, dan Sanggar.

20260915194611_1001939448.jpg

Sejumlah peserta mengikuti pelepasan Tambora Jungle Run 2026 di kawasan Sanctuary Resort Doroncanga, Kecamatan Pekat, Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat, Minggu (30/8). Sekitar 500 pelari dari berbagai daerah mengikuti ajang lari lintas alam tersebut dengan kategori 40K Sea to Summit, 10K Savana Trail dan 5K Fun Trail untuk mengeksplorasi potensi wisata alam Gunung Tambora. {Antara/Ady Ardiansah}

Dari layar menuju jalur Tambora

Jika Sangiang mengandalkan tradisi bahari dan lanskap vulkanik sebagai pintu masuk wisata, Tambora menyuguhkan pesona alam melalui olahraga petualangan.

Pada 30 Agustus 2026, sekitar 500 pelari memadati kawasan Sanctuary Resort Doroncanga, Kecamatan Pekat, Kabupaten Dompu, untuk mengikuti Tambora Jungle Run 2026.

Peserta tersebar dalam tiga kategori: 40K Sea to Summit, 10K Savana Trail, dan 5K Fun Trail. Bupati Dompu, Bambang Firdaus, hadir melepas para pelari sekaligus turun langsung menjadi peserta di kategori 5K.

“Kami ingin memperlihatkan bahwa Dompu memiliki potensi wisata alam yang luar biasa. Melalui ajang olahraga ini, kami juga mengajak seluruh pihak untuk bersama-sama menjaga kelestarian Tambora,” ujarnya.

Gunung Tambora bukan sekadar latar tempat untuk kegiatan olahraga. Gunung berapi di Pulau Sumbawa ini menyimpan sejarah erupsi dahsyat pada April 1815—salah satu letusan terbesar dalam sejarah dunia yang membentuk kaldera raksasa ikonik. Kekayaan sejarah, ekosistem, serta kebudayaan masyarakat di sekitarnya menjadikan Tambora memiliki daya tarik yang begitu memikat.

Antusiasme peserta dan pendamping pun berimbas langsung pada perputaran ekonomi warga lokal, mulai dari tingginya permintaan bahan pangan, transportasi, penginapan, jasa pemandu (guide), hingga produk UMKM.

Kepala Balai Taman Nasional Tambora, Abdul Azis Bakry, menyampaikan bahwa acara olahraga ini menjadi sarana efektif untuk mengenalkan Tambora sekaligus memicu peluang usaha warga.

“Dampak langsungnya memang terasa saat acara berlangsung. Namun untuk jangka panjang, kami berharap ini memicu pengembangan kawasan, agrowisata, dan usaha masyarakat yang berkelanjutan,” ungkapnya.

Manfaat tersebut dirasakan langsung oleh Stekhen, pemilik Coffeezone yang membuka kedai kopi khas Tambora di lokasi acara. Dengan modal bahan baku sekitar Rp1 juta, seluruh dagangannya ludes bahkan sebelum hari berganti.

“Penjualannya sangat bagus, tidak sampai sehari sudah habis. Modal awal yang kami siapkan sekitar Rp1 juta bisa menghasilkan omset hingga Rp2 jutaan,” tuturnya.

Ia berharap acara serupa terus rutin digelar agar semakin banyak pelaku UMKM dan ekonomi kreatif yang merasakan dampaknya.

Di sisi lain, kategori 40K Sea to Summit menjadi magnet utama karena menyajikan tantangan ekstrem bagi para pelari, mulai dari garis pantai hingga ketinggian 2.000 meter di atas permukaan laut (mdpl).

“Daya tarik paling ikonik adalah kombinasi lintasannya, dimulai dari 0 mdpl hingga menembus sekitar 2.000 mdpl,” tambah Abdul Azis.

Ia juga mengungkapkan rencana pengelola untuk mengintegrasikan potensi Teluk Saleh, kawasan agrowisata, dan kaldera Tambora ke dalam satu rantai perjalanan wisata yang terpadu.

Kesan yang dibawa pulang

Peserta Tambora Jungle Run berdatangan dari berbagai penjuru, mulai dari Jakarta, Jawa, Bali, Sulawesi, NTT, hingga berbagai daerah di NTB seperti Bima dan Dompu.

Dua pelari asal Sembalun, Lombok Timur, berhasil menembus podium di kategori 40K. Zandi Holikin menyabet juara pertama dengan catatan waktu 5 jam 29 menit 50 detik, sementara Nopa Putra yang baru berusia 17 tahun mengamankan posisi ketiga dengan waktu 7 jam 15 menit 21 detik. Bagi Nopa, ini merupakan podium trail run pertamanya sekaligus kompetisi perdana di luar Pulau Lombok.

Pengalaman para peserta melintasi jalur, lanskap, dan tantangan Tambora ini menjadi materi promosi alami yang efektif ketika mereka bagikan kepada komunitas masing-masing.

Prestasi juga diraih PASI Kota Bima yang sukses mengamankan tujuh podium. Pelatih PASI Kota Bima, H. Zubaer, menyebut capaian manis ini menjadi pelecut semangat bagi para atlet untuk terus mengukir prestasi di ajang-ajang berikutnya.

Kemenangan para atlet tersebut menandai berakhirnya seluruh rangkaian acara. Kini, layar telah diturunkan dan langkah para pelari telah meninggalkan jalur savana. Namun, tantangan sesungguhnya baru saja dimulai: bagaimana mengubah keramaian sesaat tersebut menjadi roda ekonomi yang terus berputar sepanjang tahun.

Sangiang menyimpan potensi kuliner, kain tenun, kerajinan tangan, perahu tradisional, dan produk UMKM. Di sisi lain, Tambora memiliki daya tarik wisata olahraga, jasa pemandu, transportasi, penginapan, serta produk kreatif warga lokal.

Guna memperkuat ekonomi warga secara konsisten, Balai Taman Nasional Tambora juga mendorong sumber pendapatan alternatif melalui penanaman 10 ribu bibit kemiri, serta pengembangan komoditas durian dan alpukat.

Pada akhirnya, kekuatan pariwisata Pulau Sumbawa tak sekadar bergantung pada satu festival atau destinasi tunggal.

Di Sangiang, angin membusungkan layar dan menghidupkan tradisi bahari di bawah naungan gunung api. Di Tambora, derap langkah para pelari membuka cara baru menikmati gunung bersejarah yang melegenda. Kedua acara ini meninggalkan kesan mendalam bagi wisatawan sekaligus membukakan peluang ekonomi bagi warga lokal.

Sangiang dengan daya tarik layarnya, Tambora dengan pesona jalurnya. Jika dikelola secara berkelanjutan, cerita dari kedua destinasi ini akan terus menarik wisatawan untuk kembali berkunjung. Ant

  • Festival Sangiang Api 2026

Redaktur: Koran Jakarta

Penulis: Opik

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.