UB Kembangkan Bilik Toilet Modular Berbahan Sampah Plastik
Jumat, 17 Jul 2026, 14:10 WIBMALANG - Peneliti Universitas Brawijaya baru-baru ini mengembangkan bilik toilet modular berbahan dasar sampah plastik sebagai bagian dari upaya mendukung program Green Campus dan pengelolaan limbah ramah lingkungan. Inovasi tersebut dikembangkan Sugiono, Ketua Departemen Teknik Industri Program Studi Sarjana Teknik Industri UB bersama tim peneliti dan mahasiswa.
Toilet Modular ini memanfaatkan cacahan sampah plastik sebagai salah satu bahan baku utama dalam pembuatan bodi . Sampah plastik yang telah dicacah kemudian dicampur dengan resin dan dicetak menjadi struktur toilet yang kuat serta dapat digunakan untuk berbagai kebutuhan fasilitas umum.Â
Sugiono menjelaskan bahwa konsep toilet modular dipilih karena lebih fleksibel dan mudah dipindahkan sesuai kebutuhan. Toilet tersebut dirancang agar dapat digunakan pada berbagai kegiatan publik seperti event olahraga, kawasan wisata, hingga fasilitas sementara di ruang terbuka.
âToilet modular itu artinya bisa dipisah-pisah sebenarnya. Jadi lebih fleksibel dan bisa digunakan sesuai kebutuhan di lapangan,â ujar Sugiono.Â
Ia mengatakan bahwa dalam satu unit toilet modular, sekitar 40 kilogram cacahan sampah plastik dimanfaatkan sebagai bahan campuran pada bagian bodi toilet. Inovasi tersebut menjadi salah satu upaya meningkatkan nilai guna limbah plastik yang selama ini hanya berakhir sebagai sampah.Â
Selain memanfaatkan bahan daur ulang, toilet modular tersebut juga dirancang menggunakan konsep ramah lingkungan dengan dukungan energi terbarukan. Pada area prototype, UB memanfaatkan solar cell sebagai sumber energi untuk lampu penerangan di sekitar toilet dan kawasan taman.Â
âKarena kita ingin men-support UB Green Campus, jadi energinya juga memanfaatkan solar cell untuk penerangan di kawasan itu,â jelasnya.Â
Saat ini, prototype toilet modular tengah dipasang di kawasan sains dan technopark UB di Ngijo sebagai bagian dari tahap pengujian dan evaluasi produk. Menurut Prof. Sugiono, tahap prototipe sangat penting untuk mengetahui berbagai kekurangan produk sebelum nantinya digunakan secara lebih luas oleh masyarakat maupun mitra industri.Â
Ia mengungkapkan bahwa proses pengembangan toilet modular masih terus dilakukan, termasuk penyempurnaan pada desain, struktur, hingga kualitas hasil cetakan. Tim peneliti juga melakukan evaluasi terhadap aspek kenyamanan dan keamanan produk agar memenuhi standar penggunaan fasilitas umum.
âPrototype pasti ada evaluasinya. Misalnya corner-nya kurang halus atau ada bagian yang perlu diperbaiki, itu terus kita evaluasi sebelum diproduksi lebih luas,â katanya.Â
Selain itu, UB juga masih melakukan pengujian terkait aspek kesehatan dan keselamatan kerja atau K3 untuk memastikan material hasil daur ulang aman digunakan masyarakat. Pengujian tersebut meliputi kemungkinan bau, tingkat keamanan bahan, hingga kualitas material setelah dicampur resin dan digunakan dalam jangka panjang.Â
Menurut Sugiono, pengembangan toilet modular berbahan sampah plastik tidak hanya berorientasi pada inovasi teknologi semata, tetapi juga bagaimana hasil riset kampus dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Ia menilai fasilitas sanitasi merupakan kebutuhan penting yang selalu dibutuhkan dalam berbagai kegiatan publik.
âProduk yang kita kembangkan memang harus benar-benar dibutuhkan masyarakat. Toilet ini salah satunya karena bisa digunakan untuk event, kawasan wisata, maupun fasilitas umum lainnya,â ujarnya.Â
Dari sisi biaya produksi, toilet modular berbahan sampah plastik tersebut juga dinilai lebih kompetitif dibanding produk serupa di pasaran. Jika produk existing memiliki harga yang cukup tinggi, UB mencoba menghadirkan alternatif yang lebih terjangkau tanpa mengurangi kualitas produk.Â
Sugiono menambahkan bahwa inovasi tersebut diharapkan tidak berhenti hanya sebagai produk riset atau pameran kampus semata, tetapi benar-benar dapat dimanfaatkan secara luas sebagai solusi pengelolaan sampah plastik sekaligus penyediaan fasilitas sanitasi ramah lingkungan.
âYang paling penting adalah bagaimana inovasi ini tidak berhenti sebagai pajangan atau pameran saja, tetapi benar-benar bisa digunakan masyarakat dan memberikan manfaat nyata,â kata Prof. Sugiono.Â
Ke depan, UB berharap pengembangan toilet modular berbahan sampah plastik tersebut dapat menjadi salah satu contoh implementasi konsep circular economy di lingkungan kampus maupun masyarakat. Melalui inovasi tersebut, UB ingin menunjukkan bahwa limbah plastik yang selama ini dianggap tidak bernilai dapat diolah menjadi produk yang fungsional, bernilai ekonomi, dan mendukung keberlanjutan lingkungan.
Redaktur: Selocahyo Basoeki Utomo S
Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S
Berita Terkait:
-
Menaker Berharap Keselamatan Kerja Jadi Budaya di Dunia Kerja
-
Catat Syaratnya! Ancol Berikan Tiket Masuk Gratis Selama 12 Hari Sambut HUT ke-499 Jakarta
-
Penyaluran MBG 3B di Kota Solo
-
Timnas U17 Indonesia Tekuk China 1-0 di Piala Asia U17 2026, Gol Telat Keanu Jadi Penentu
-
Dedieselisasi Harus Diperluas dengan Setop Pembangkit Listrik Gas dan Batu Bara
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.