TMMIN Tegaskan: Ekspor dan Pasar Domestik Jaga Daya Tahan Industri Otomotif Hadapi Guncangan

Senin, 29 Jun 2026, 11:35 WIB

JAKARTA-Industri otomotif dan komponen Indonesia dinilai masih memiliki resiliensi yang kuat di tengah berbagai tantangan global maupun domestik. Besarnya pasar dalam negeri serta kinerja ekspor yang tetap terjaga menjadi penopang utama daya tahan industri tersebut.

Wakil Presiden Direktur Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) Bob Azam mengatakan, meski penjualan otomotif mengalami penurunan dalam tiga tahun terakhir sehingga turut berdampak pada industri komponen, kondisi sektor ini tidak seburuk yang banyak dipersepsikan.

Ket. Foto: Wakil Presiden Direktur Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) Bob Azam di Jakarta, Senin mengatakan, meski penjualan otomotif mengalami penurunan dalam tiga tahun terakhir sehingga turut berdampak pada industri komponen, kondisi sektor ini tidak seburuk yang banyak dipersepsikan — Sumber: Antara

"Industri otomotif itu punya resilience yang bagus. Kita punya pasar ekspor, dan pasar domestik kita juga masih besar," ujar Bob di Jakarta, Senin (29/6).

Menurut dia, industri komponen saat ini menghadapi tekanan yang tidak ringan karena merupakan sektor yang padat modal sekaligus padat karya. Kenaikan upah, biaya energi, serta kebutuhan investasi untuk memodernisasi fasilitas produksi menjadi tantangan yang harus dihadapi pelaku usaha.

Di sisi lain, kata Bob, industri komponen konvensional (internal combustion engine/ICE) masih membutuhkan kepastian arah kebijakan pemerintah. Pasalnya, berbagai insentif saat ini lebih banyak diberikan kepada kendaraan listrik, sementara ekosistem komponen kendaraan listrik sebagian besar masih berada di luar Indonesia.

Kondisi tersebut membuat pelaku industri membutuhkan keyakinan untuk terus berinvestasi. Menurutnya, pembaruan teknologi dan modernisasi peralatan produksi merupakan kebutuhan agar industri tetap kompetitif di tengah persaingan global.

Bob juga menyebut kabar yang menyebut sejumlah perusahaan besar komponen otomotif akan segera merelokasi investasinya dari Indonesia tidak benar, berdasarkan hasil penulusuran yang dilakukan oleh pemerintah. 

Ia menjelaskan, perusahaan multinasional memang tengah melakukan evaluasi terhadap peta industri otomotif beberapa tahun ke depan, termasuk mempertimbangkan efisiensi operasi di kawasan ASEAN. Dalam proses itu, faktor daya saing, ekosistem industri, serta kebijakan pemerintah di masing-masing negara menjadi pertimbangan utama.

Meski Vietnam dinilai semakin menarik bagi investor karena pertumbuhan ekonomi dan insentif investasinya, Bob menegaskan Indonesia masih memiliki keunggulan berupa pasar otomotif terbesar di ASEAN dengan penjualan yang mendekati satu juta unit per tahun serta ekspor kendaraan yang mencapai sekitar 500 ribu unit.

"Sejauh ini kita diuntungkan karena market kita yang lumayan besar. Jadi sebenarnya industri otomotif itu industri yang besar dan punya resilience yang cukup baik. Yang sekarang sedang dievaluasi adalah bagaimana prospeknya ke depan," kata Bob.

Ia menambahkan, Asia Tenggara telah berkembang menjadi basis produksi dunia, tidak hanya untuk otomotif, tetapi juga elektronik dan berbagai industri manufaktur lainnya. Karena itu, Indonesia dinilai memiliki peluang besar untuk terus memperkuat daya saing dengan menjaga iklim investasi dan mendorong orientasi ekspor industri nasional.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.