Sungai Bongka, Geowisata yang Lahir dari Benturan Tiga Lempeng Dunia
📅 Jumat, 17 Jul 2026, 07:13 WIB | Oleh: Haryo BronoPERISTIWA geologis yang terjadi membuat alam Sulawesi Tengah menawarkan bentang alam yang luar biasa beragam. Pemandangan alam pegunungan, hutan hujan tropis, sungai-sungai unik, hingga gugusan pulau yang menghadap langsung ke Teluk Tomini adalah kekhasan yang dimiliki.
Di balik popularitas Kepulauan Togean dan sejumlah destinasi wisata bahari lainnya, provinsi ini juga menyimpan kekayaan alam yang belum banyak diketahui wisatawan. Salah satunya adalah Sungai Bongka, sungai berair jernih yang berada di Kecamatan Bongka, Kabupaten Tojo Una-Una.
Panjang Sungai Bongka adalah sekitar 180 km mengalir dari wilayah pegunungan di bagian dalam daratan Sulawesi Tengah dan bermuara ke Teluk Tomini. Area Daerah Aliran Sungai (DAS) mencapai sekitar 3.500 kilometer persegi menjadi sumber bagi airnya yang tidak pernah kering.
Sungai ini menawarkan suasana yang jauh dari hiruk-pikuk perkotaan. Pepohonan tropis yang rimbun menaungi aliran sungai, sementara tebing-tebing batu kapur berdiri kokoh di beberapa bagian kawasan. Gemericik air yang mengalir di antara bebatuan menciptakan suasana damai yang menjadikannya tempat ideal untuk melepas penat sekaligus menikmati keindahan alam Sulawesi yang masih terjaga.
Air Sungai Bongka yang bermuara di Teluk Tomini terkenal sangat bening hingga dasar sungai dapat terlihat dengan jelas. Bebatuan berwarna putih, abu-abu, hingga kecokelatan tersusun alami di dasar aliran, menciptakan gradasi warna yang memanjakan mata.
Sebaiknya Anda baca juga:
Pada musim kemarau, debit air relatif stabil sehingga wisatawan dapat berenang, bermain air, menikmati piknik di tepian sungai, atau sekadar merendam kaki sambil menikmati udara yang sejuk. Sedangkan sepanjang sungai ini berupa pasir dan batu yang gersang seperti sungai-sungai di Pakistan, Iran, atau negara-negara di Asia tengah.
Bagi para pencinta fotografi, kombinasi air sebening kristal, dan lanskap batu kapur menghadirkan banyak sudut menarik untuk diabadikan. Sementara bagi pecinta geowisata, Sungai Bongka merupakan laboratorium alam yang memperlihatkan bagaimana proses geologi selama jutaan tahun membentuk wajah Pulau Sulawesi.
Lanskap yang Berawal dari Dasar Laut
Sebaiknya Anda baca juga:
Keindahan Sungai Bongka ternyata memiliki sejarah yang sangat panjang. Jutaan tahun lalu, kawasan yang kini menjadi Kabupaten Tojo Una-Una bukanlah daratan seperti sekarang, melainkan bagian dari laut dangkal tropis yang dipenuhi terumbu karang dan berbagai organisme laut.
Selama jutaan tahun, cangkang karang, moluska, foraminifera, serta berbagai organisme penghasil kalsium karbonat mengendap di dasar laut. Endapan tersebut kemudian mengalami pemadatan dan berubah menjadi batuan karbonat atau batu kapur (limestone).
Batu kapur yang kini tampak sebagai perbukitan karst sebenarnya merupakan “arsip geologi” yang merekam kehidupan laut purba. Setiap lapisan batuan menyimpan informasi mengenai kondisi lingkungan, iklim, hingga kehidupan laut pada masa lampau.
Pergerakan Lempeng Mengangkat Dasar Laut
Sulawesi merupakan salah satu wilayah dengan kondisi tektonik paling rumit di dunia. Pulau ini berada pada pertemuan tiga lempeng besar, yaitu Lempeng Indo-Australia, Lempeng Eurasia, dan Lempeng Pasifik, serta dipengaruhi sejumlah mikro-lempeng yang terus bergerak hingga sekarang.
Tabrakan dan pergeseran lempeng tersebut menyebabkan dasar laut yang tersusun atas batuan karbonat perlahan terangkat ke permukaan. Proses pengangkatan ini berlangsung sangat lambat, berlangsung selama puluhan juta tahun, hingga akhirnya membentuk perbukitan dan pegunungan karst yang kini mendominasi kawasan Bongka.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!