Atasi Pelemahan Daya Beli Masyarakat dengan Membangun Industri Substitusi
📅 Jumat, 17 Jul 2026, 01:10 WIB | Oleh: Tim RedaksiJAKARTA - Pemerintah harus mengatasi pelemahan daya beli masyarakat dengan membangun industri substitusi impor. Hal itu penting agar barang konsumsi memberi nilai tambah terhadap perekonomian.
Sekretaris Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Y Sri Susilo mengatakan industri substitusi tidak hanya mengurangi kebergantungan terhadap produk impor, tetapi juga menciptakan lapangan kerja baru dan memperkuat industri nasional.
“Selama barang yang kita konsumsi masih didominasi produk impor, nilai tambah ekonomi dan kesempatan kerja justru lebih banyak dinikmati negara lain. Karena itu, pemerintah perlu mempercepat pembangunan industri substitusi impor agar produksi dilakukan di dalam negeri,” kata Susilo kepada Koran Jakarta, Rabu.
Substitusi impor tidak berarti menutup perdagangan internasional, melainkan meningkatkan kemampuan industri nasional memproduksi barang yang selama ini masih didatangkan dari luar negeri. Menurutnya, sektor seperti pangan, tekstil, alat kesehatan, komponen manufaktur, hingga industri berbasis sumber daya alam memiliki peluang besar untuk dikembangkan sebagai pengganti produk impor.
Keberhasilan strategi tersebut bergantung pada keberpihakan pemerintah melalui penyediaan insentif investasi, kemudahan pembiayaan, kepastian regulasi, peningkatan kualitas sumber daya manusia, serta perlindungan yang proporsional bagi industri nasional.
Sebaiknya Anda baca juga:
Dengan dukungan Pemerintah, maka pelaku usaha akan memiliki keberanian untuk memperluas kapasitas produksi dan menyerap lebih banyak tenaga kerja.
“Ketika industri dalam negeri berkembang, kebutuhan tenaga kerja meningkat sehingga pendapatan masyarakat ikut naik. Daya beli yang kuat pada akhirnya bukan lahir dari bantuan konsumsi, melainkan dari masyarakat yang memiliki pekerjaan dan penghasilan yang layak,” katanya.
Substitusi impor juga memberikan manfaat jangka panjang bagi perekonomian nasional karena mampu mengurangi tekanan terhadap devisa, memperkuat struktur industri, dan meningkatkan ketahanan ekonomi Indonesia di tengah ketidakpastian global.
Sebaiknya Anda baca juga:
“Kalau produksi nasional semakin kuat, kita tidak hanya mengurangi impor, tetapi juga membangun fondasi pertumbuhan ekonomi yang lebih sehat dan berkelanjutan,” katanya.
Penunjang Industri
Dosen Magister Ekonomi Terapan Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya, YB. Suhartoko mencatat, struktur impor Indonesia saat ini masih didominasi produk-produk penunjang industri.
“Barang impor Indonesia didominasi oleh mesin, suku cadang, dan bahan baku industri,” kata Suhartoko.
Menurut dia, ada lima kelompok besar produk impor yang masih mendominasi seperti peralatan mekanik elektronik, mesin pabrik, komputer, smartphone, dan peralatan rumah tangga. Kedua, kendaraan & suku cadang seperti mobil, sepeda motor, serta komponen perakitan kendaraan. Ketiga, bahan pangan seperti gandum, gula mentah, kedelai, jagung, daging, dan bawang putih.
Keempat, bahan baku industri seperti besi, baja, bahan kimia, plastik, dan pupuk dan kelima, produk energi seperti minyak mentah dan gas alam untuk kebutuhan bahan bakar.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!