• Home
  • navigasi panah1
  • Rona
  • panah2
  • Jangan Anggap Gigi Berluba...

Jangan Anggap Gigi Berlubang pada Anak Hal Sepele, Dokter Ingatkan Risiko Gangguan Tumbuh Kembang

Rabu, 15 Jul 2026, 18:05 WIB

JAKARTA – Karies atau gigi berlubang pada anak masih kerap dianggap sebagai masalah ringan karena gigi susu pada akhirnya akan tanggal. Padahal, jika dibiarkan tanpa penanganan, karies dapat berkembang menjadi infeksi, abses, hingga menyebabkan gigi tanggal sebelum waktunya yang berpotensi mengganggu tumbuh kembang anak.

Dokter Gigi Spesialis Kedokteran Gigi Anak RS Pondok Indah – Puri Indah, drg. Alana Aluditasari, Sp.K.G.A, mengingatkan bahwa kesehatan gigi susu sama pentingnya dengan gigi permanen. Menurutnya, gigi susu memiliki peran penting dalam proses makan, berbicara, hingga menjadi panduan pertumbuhan gigi permanen.

Ket. Foto: Dokter Gigi Spesialis Kedokteran Gigi Anak RS Pondok Indah – Puri Indah, drg. Alana Aluditasari, Sp.K.G.A,. Karies atau gigi berlubang pada anak tidak boleh dianggap sepele. Dokter menjelaskan gejala, bahaya, penanganan, dan cara mencegah karies agar tidak mengganggu tumbuh kembang anak. — Sumber: RSPI

"Karies pada gigi anak bukan kondisi yang boleh dianggap biasa. Penanganan sejak dini sangat penting untuk mencegah kerusakan yang lebih parah dan berbagai komplikasi," ujar Alana melalui keterangannya pada hari Rabu (15/7).

Di Indonesia, kasus karies gigi pada anak masih tergolong tinggi. Kondisi ini terjadi akibat proses demineralisasi atau hilangnya mineral pada enamel gigi karena paparan asam yang dihasilkan bakteri saat menguraikan sisa makanan dan minuman yang mengandung gula maupun karbohidrat.

Kebiasaan sehari-hari menjadi penyebab utama

Menurut Alana, terdapat sejumlah kebiasaan yang meningkatkan risiko terjadinya karies pada anak. Di antaranya adalah terlalu sering mengonsumsi makanan dan minuman manis, kurang menjaga kebersihan gigi, jarang menyikat gigi menggunakan pasta gigi berfluoride, kurang minum air putih, hingga kebiasaan minum susu menggunakan botol sebelum tidur.

Orang tua juga perlu mengenali gejala awal karies agar penanganan dapat dilakukan sedini mungkin. Beberapa tanda yang perlu diwaspadai antara lain munculnya bercak putih pada permukaan gigi yang kemudian berubah menjadi cokelat atau hitam, rasa ngilu ketika mengonsumsi makanan atau minuman panas, dingin, maupun manis, adanya lubang pada gigi, bau mulut, serta rasa sakit saat mengunyah.

Bisa ganggu tumbuh kembang anak

Alana menjelaskan, karies yang tidak ditangani akan terus berkembang hingga mencapai lapisan dentin dan pulpa gigi sehingga memicu rasa sakit yang lebih berat. Selain menyebabkan sakit gigi, kondisi tersebut juga dapat mengganggu aktivitas sehari-hari anak. Anak menjadi lebih rewel, sulit berkonsentrasi saat belajar, kehilangan nafsu makan, hingga mengalami gangguan tidur.

Dalam jangka panjang, karies juga dapat memengaruhi status gizi anak karena rasa nyeri membuat anak kesulitan mengunyah makanan. "Jika asupan nutrisi terganggu, proses tumbuh kembang anak juga dapat terhambat," jelasnya.

Tak hanya itu, infeksi akibat gigi berlubang berisiko menyebar ke jaringan gusi, tulang rahang, bahkan organ tubuh lain apabila tidak mendapatkan penanganan yang tepat. Kerusakan pada gigi susu juga dapat mengganggu pertumbuhan gigi permanen. Gigi susu yang tanggal terlalu dini akibat karies berpotensi menyebabkan gigi permanen tumbuh tidak beraturan atau mengalami impaksi.

Penanganan disesuaikan tingkat kerusakan

Alana menyarankan orang tua segera membawa anak ke dokter gigi spesialis kedokteran gigi anak apabila menemukan tanda-tanda karies. Dokter akan melakukan pemeriksaan rongga mulut, menilai tingkat keparahan kerusakan, dan bila diperlukan melakukan pemeriksaan radiografi untuk mengetahui kondisi bagian dalam gigi.

Metode penanganan akan disesuaikan dengan tingkat kerusakan gigi. Pada tahap awal, dokter dapat melakukan fluoride treatment untuk memperkuat enamel dan mencegah kerusakan semakin luas. Apabila telah terbentuk lubang yang cukup besar, tindakan tambal gigi menjadi pilihan untuk mengembalikan fungsi dan bentuk gigi.

Pada kasus yang lebih berat, dokter dapat memasang mahkota gigi (crown) untuk melindungi sisa struktur gigi agar tetap dapat digunakan. Sementara itu, pencabutan gigi menjadi pilihan terakhir apabila kerusakan sudah tidak dapat diperbaiki dan berisiko menyebabkan infeksi yang lebih luas.

Pemeriksaan rutin sejak usia satu tahun

Selain penanganan, Alana menekankan pentingnya pemeriksaan gigi secara berkala meskipun anak belum mengeluhkan keluhan apa pun. Ia menyarankan pemeriksaan pertama dilakukan sejak gigi pertama tumbuh atau saat anak berusia sekitar satu tahun. Setelah itu, kontrol rutin sebaiknya dilakukan setiap enam bulan sekali. Pemeriksaan berkala bertujuan mendeteksi gangguan sejak dini sekaligus memastikan pertumbuhan gigi berlangsung sesuai usia.

Orang tua berperan penting mencegah karies

Menurut Alana, pencegahan tetap menjadi langkah terbaik untuk melindungi kesehatan gigi anak. Beberapa kebiasaan yang perlu diterapkan sejak dini antara lain membiasakan anak menyikat gigi dua kali sehari menggunakan pasta gigi berfluoride, memberi jeda sekitar 30 hingga 60 menit setelah makan sebelum menyikat gigi, membatasi konsumsi makanan dan minuman manis, membiasakan minum air putih setelah makan, serta menghentikan kebiasaan minum susu menggunakan botol dot saat menjelang tidur.

"Peran orang tua sangat penting dalam membentuk kebiasaan menjaga kesehatan gigi sejak dini. Dengan pencegahan yang tepat dan pemeriksaan rutin ke dokter gigi, risiko karies dapat ditekan sehingga kesehatan gigi dan tumbuh kembang anak tetap terjaga," tagas Alana.

Redaktur: Redaksi Koran Jakarta

Penulis: Haryo Brono

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.