Buku Puisi Esai Denny JA Diterjemahkan Dalam Tiga Puluh Lima Bahasa
📅 Senin, 13 Jul 2026, 21:20 WIB | Oleh: Wahyu APBuku puisi esai karya Denny JA akan diterjemahkan ke dalam 35 bahasa, menjadikannya salah satu proyek penerjemahan sastra Indonesia paling luas dalam sejarah.
Penerbit CBI mengumumkan keputusan tersebut lahir setelah Denny JA menerima BRICS Award 2025 untuk kategori Inovasi Sastra. Semula dari pihak Panitia BRICS Award muncul gagasan agar karya puisi esainya diterjemahkan ke bahasa negara-negara anggota BRICS.
Penghargaan BRICS Award 2025 tersebut diberikan oleh sembilan dewan juri internasional yang mewakili semua negara anggota, setelah menyisihkan ratusan kandidat dari berbagai negara.
Namun gagasan itu berkembang menjadi proyek yang jauh lebih luas: menghadirkan satu karya yang mengangkat tragedi kemanusiaan dunia kepada pembaca lintas budaya dan lintas bahasa.
“Bagi kami, penerjemahan bukan sekadar memindahkan kata-kata dari satu bahasa ke bahasa lain. Penerjemahan adalah cara memperluas empati antarmanusia,” ujar Dirut Penerbit CBI, Ari Nugroho.
Sebaiknya Anda baca juga:
Dari delapan buku puisi esai Denny JA yang telah tersedia dalam bahasa Inggris, judul buku: “Yang Menggigil dalam Arus Sejarah” dipilih karena mengangkat tema yang paling universal.
Lima belas puisi esai di dalamnya membawa pembaca memasuki berbagai tragedi besar dunia: Perang Dunia Pertama, Flu Spanyol, Revolusi Rusia, Hiroshima, Pembantaian Nanking, Revolusi Prancis, Bastille, perbudakan di Amerika, Holocaust, Ghetto Warsawa, kelaparan besar di bawah Mao Zedong, Revolusi Kebudayaan Tiongkok, hingga tragedi boat people Vietnam.
Namun buku ini tidak menempatkan para penguasa sebagai tokoh utama sejarah.
Sebaiknya Anda baca juga:
Yang dihadirkan justru mereka yang selama ini hampir tak pernah disebut: seorang ibu yang kehilangan anaknya akibat bom Hiroshima, seorang bocah Yahudi yang tak pernah kembali dari Auschwitz, atau keluarga pengungsi Vietnam yang mempertaruhkan hidup di Laut Cina Selatan demi secercah harapan.
“Sejarah biasanya mengingat para pemenang. Sastra mengingat mereka yang nyaris dilupakan,” kata Penerbit.
Keunikan buku ini terletak pada bentuk puisi esai, sebuah genre yang memadukan puisi naratif dengan catatan kaki faktual.
Setiap puisi dibangun di atas peristiwa sejarah yang terdokumentasi, sementara bahasa puitis menghadirkan pengalaman emosional para korban.
“Sejarah menjelaskan apa yang terjadi. Puisi membantu kita merasakan bagaimana rasanya berada di dalam peristiwa itu,” ujar Penerbit CBI.
Menurut penerbit, pendekatan tersebut membuat pembaca tidak hanya memperoleh pengetahuan sejarah, tetapi juga mengalami kedalaman moral dari setiap tragedi.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!