Mojtaba Bersumpah Balas Kematian Ayahnya, Trump Siapkan 1.000 Rudal Serang Iran

Minggu, 12 Jul 2026, 11:42 WIB

TEHERAN – Perang kata-kata antara Iran dan Amerika Serikat memasuki babak yang semakin mengkhawatirkan. Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei bersumpah akan membalas kematian ayah sekaligus pendahulunya, Ali Khamenei, hanya beberapa jam setelah Presiden AS Donald Trump mengancam akan menghancurkan Iran jika Teheran mencoba membunuhnya.

“Pembalasan adalah kehendak bangsa kami dan harus dilaksanakan,” kata Mojtaba dalam pesan tertulisnya, Sabtu (11/7/2026).

Ket. Foto: Pernyataan itu menjadi pesan pertama Mojtaba sejak pemakaman ayahnya pada pekan ini. Ali Khamenei tewas dalam serangan AS-Israel pada akhir Februari, sebuah peristiwa yang kemudian membawa putranya ke posisi tertinggi dalam struktur kekuasaan Iran. — Sumber: Istimewa

Pernyataan itu menjadi pesan pertama Mojtaba sejak pemakaman ayahnya pada pekan ini. Ali Khamenei tewas dalam serangan AS-Israel pada akhir Februari, sebuah peristiwa yang kemudian membawa putranya ke posisi tertinggi dalam struktur kekuasaan Iran.

Namun, sumpah balas dendam Mojtaba bukan sekadar retorika umum. Ia menyatakan Iran telah menyusun daftar individu yang akan menjadi sasaran.

“Masalah ini tidak bergantung pada keberadaan pribadi saya maupun pejabat lainnya. Apakah kami ada atau tidak, hal itu akan terjadi,” tulis Mojtaba.

Pesan tersebut semakin menambah ketegangan karena keberadaan Mojtaba sendiri menjadi misteri. Pemimpin tertinggi baru Iran itu belum terlihat di depan publik sejak sebelum perang.

Trump: 1.000 Rudal Sudah Siap

Hanya beberapa jam sebelum pernyataan Mojtaba, Trump mengeluarkan ancaman yang tidak kalah keras. Melalui Truth Social, Presiden AS itu memperingatkan bahwa setiap upaya Iran untuk membunuh dirinya akan dibalas dengan kekuatan militer yang luar biasa.

Trump mengklaim 1.000 rudal telah “terkunci dan siap ditembakkan” ke Republik Islam Iran, dengan ribuan rudal lainnya siap menyusul.

Ia bahkan mengatakan militer Amerika Serikat telah menerima perintah dan berada dalam kondisi siap untuk menghancurkan wilayah Iran jika ancaman pembunuhan terhadap presiden AS benar-benar dilaksanakan.

Ancaman itu membuat konfrontasi antara Washington dan Teheran memasuki wilayah yang semakin berbahaya. Di satu sisi, pemimpin tertinggi Iran bersumpah bahwa kematian ayahnya harus dibalas. Di sisi lain, Trump memperingatkan bahwa setiap upaya menyentuh dirinya dapat memicu serangan besar-besaran terhadap Iran.

Situasi tersebut terjadi ketika gencatan senjata antara kedua pihak praktis berada di ambang kehancuran. Trump telah menyatakan kesepakatan itu berakhir setelah pertempuran kembali pecah, sementara para mediator masih berusaha menyelamatkan jalur diplomasi.

Diplomasi Berpacu dengan Ancaman Perang

Di tengah meningkatnya ancaman dari kedua pihak, Qatar berusaha kembali memainkan peran sebagai mediator. Kantor berita Tasnim melaporkan sebuah delegasi Qatar mengunjungi Iran untuk memperkuat upaya mediasi.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi, sementara itu, menegaskan bahwa Teheran telah memenuhi komitmennya setelah kedua pihak menandatangani nota kesepahaman pada bulan lalu.

Namun, ruang bagi diplomasi kini semakin sempit.

Sumpah balas dendam Mojtaba atas kematian ayahnya dan ancaman Trump untuk mengerahkan kekuatan militer besar-besaran telah menciptakan situasi yang berpotensi membawa Iran dan Amerika Serikat kembali ke dalam konfrontasi terbuka.

Kini, dua ancaman berdiri berhadapan: Iran bersumpah pembalasan pasti terjadi, sementara Trump memperingatkan bahwa 1.000 rudal telah siap jika dirinya menjadi sasaran.

Di tengah kondisi tersebut, pertanyaannya bukan lagi sekadar apakah gencatan senjata dapat diselamatkan, tetapi apakah para mediator masih memiliki cukup waktu untuk mencegah ancaman pribadi antara dua pemimpin berubah menjadi perang yang jauh lebih besar.Saya juga bisa membuat versinya **lebih keras dengan gaya headline media online**, misalnya: “Mojtaba Bersumpah Balas Kematian Ayahnya, Trump Siapkan 1.000 Rudal: Iran Terancam Diluluhlantakkan”.

  • Perang Iran

Redaktur: Selocahyo Basoeki Utomo S

Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.