- Home
-
- Luar Negeri
-
- WHO Bunyikan Alarm: Kasus ...
WHO Bunyikan Alarm: Kasus Kanker Dunia Diprediksi Meledak, 1 dari 5 Orang Berisiko Terkena
Kamis, 09 Jul 2026, 07:20 WIBJENEWA â Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan bahwa dunia akan menghadapi lonjakan besar kasus kanker dalam beberapa dekade mendatang. Meski ilmu pengetahuan telah melahirkan berbagai terobosan dalam diagnosis dan pengobatan, jutaan pasien di berbagai negara masih menghadapi kesenjangan besar dalam memperoleh layanan kesehatan.
Dari The Guardian, dalam Laporan Status Global Kanker 2026, WHO memperkirakan satu dari lima orang di dunia akan mengalami kanker sepanjang hidupnya. Dampaknya bahkan akan dirasakan lebih luas, dengan sekitar 92 persen populasi dunia diperkirakan akan terdampak secara langsung maupun tidak langsung, baik sebagai pasien maupun anggota keluarga yang merawat penderita kanker.
Saat ini terdapat sekitar 20,6 juta kasus baru kanker dan 10 juta kematian setiap tahun di seluruh dunia. Jika tidak ada perubahan signifikan, jumlah kasus baru diperkirakan melonjak hingga hampir 35 juta kasus per tahun pada 2050.
Ketua Tim Pengendalian Kanker WHO, Dr. Andre Ilbawi, mengatakan selama ini perhatian dunia lebih banyak tertuju pada kemajuan teknologi dan terapi kanker. Namun, di balik kemajuan tersebut masih terdapat kenyataan pahit bahwa jutaan pasien belum memperoleh akses yang layak terhadap pencegahan, diagnosis, pengobatan, maupun perawatan.
WHO menemukan kesenjangan yang sangat mencolok antara negara kaya dan negara miskin. Di negara berpendapatan tinggi, sekitar 85 persen pasien kanker payudara maupun kanker pada anak mampu bertahan hidup setidaknya lima tahun setelah diagnosis. Sebaliknya, di negara berpendapatan rendah, angka kelangsungan hidup itu kurang dari 30 persen.
Perbedaan juga terlihat dari ketersediaan obat-obatan. Di negara berpenghasilan rendah hingga menengah bawah, hanya 9â54 persen dari 20 obat kanker prioritas WHO yang tersedia. Sementara di negara kaya, ketersediaannya mencapai 68â94 persen. Bahkan, laporan tersebut mencatat masih ada 23 negara yang belum memiliki fasilitas radioterapi.
Afrika Sub-Sahara menjadi salah satu kawasan yang paling terdampak. Meskipun tingkat diagnosis kanker lebih rendah dibandingkan wilayah maju, angka kematian akibat penyakit tersebut justru jauh lebih tinggi karena keterlambatan diagnosis dan terbatasnya akses pengobatan.
Masalah biaya juga menjadi tantangan besar. WHO mencatat dua pertiga negara belum memasukkan layanan kanker ke dalam paket jaminan kesehatan universal, sehingga banyak pasien harus menanggung biaya pengobatan sendiri. Di sejumlah negara, tingginya biaya membuat hingga 90 persen pasien menghentikan pengobatan sebelum selesai.
Survei global terhadap pasien dan keluarga mereka juga mengungkap dampak sosial yang berat. Banyak keluarga mengalami tekanan ekonomi, gangguan kesehatan mental, hingga beban besar bagi anggota keluarga yang menjadi perawat.
Abigail Simon-Hart, penyintas kanker payudara sekaligus advokat pasien dari Nigeria, mengaku kerap menyaksikan keluarga harus memilih antara membiayai pengobatan kanker atau tetap menyekolahkan anak-anak mereka. Ia juga mengungkap bahwa stigma terhadap kanker di sejumlah wilayah masih sangat kuat. Bahkan, ada perempuan yang memilih tidak menjalani operasi penyelamatan nyawa karena takut kehilangan payudara.
Meski demikian, WHO juga menyampaikan sejumlah kabar positif. Upaya global menuju eliminasi kanker serviks dinilai semakin menjanjikan, penggunaan tembakau terus menurun di banyak negara, dan semakin banyak pemerintah yang telah memiliki rencana aksi nasional untuk pengendalian kanker.
Menurut WHO, sekitar empat dari setiap 10 kasus kanker sebenarnya dapat dicegah karena berkaitan dengan faktor risiko yang sudah diketahui, seperti konsumsi tembakau, infeksi tertentu, penggunaan alkohol, serta kelebihan berat badan atau obesitas.
WHO pun menyerukan kepada seluruh pemerintah agar tidak hanya berinvestasi pada pengobatan, tetapi juga memperkuat pencegahan, deteksi dini, layanan diagnosis, hingga perawatan pasien. Organisasi tersebut menegaskan bahwa akses terhadap layanan kanker yang berkualitas harus menjadi hak setiap orang, bukan hanya mereka yang tinggal di negara kaya.
- Kanker
Redaktur: Selocahyo Basoeki Utomo S
Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S
Berita Terkait:
-
Hilal Awal Ramadhan 1447 H Dipastikan Tak Terlihat di Yogyakarta, Posisi Bulan Masih di Bawah Ufuk Saat Matahari Terbenam
-
Lahan KAI di Kiaracondong Bandung Bakal Disulap Jadi Hunian Vertikal TOD untuk MBR
-
Bahaya Mengkonsumsi Ikan Asin. Terbukti Karsinogenik Terhadap Manusia
-
Mobil Listrik Bekas Mulai Ngetren, Konsumen Gandrungi Segmen EV
-
Tak Hanya Perempuan, Laki-laki Juga Berisiko Terkena Kanker Terkait HPV
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.