Bahaya Mengkonsumsi Ikan Asin. Terbukti Karsinogenik Terhadap Manusia
Jumat, 05 Jun 2026, 04:32 WIBBogor, Koran Jakarta - Badan Kesehatan Dunia (WHO) melalui badan khusus yang menangani masalah kanker, International Agency for Research on Cancer (IARC), secara resmi telah mengklasifikasikan ikan asin ke dalam Golongan 1: Karsinogenik terhadap Manusia. Artinya, ikan asin ditempatkan satu level dengan zat berbahaya seperti rokok dan asbes. Bukan lagi sebatas "berpotensi berbahaya", melainkan "terbukti menyebabkan kanker pada manusia".
Lantas, bagaimana prosesnya sehingga lauk murah meriah ini bisa berbahaya? Bahayanya bukan semata-mata karena kadar garamnya yang tinggi. Saat ikan diasinkan lalu dijemur dalam waktu lama, terjadi reaksi kimia antara protein ikan, garam, dan proses pengawetan alami yang membentuk senyawa bernama Nitrosamin . Nitrosamin inilah biang kerok utama yang bersifat karsinogenik. Senyawa ini merusak lapisan DNA sel, terutama di area rongga belakang hidung (nasofaring), yaitu tempat pertama udara pernapasan masuk .
Seseorang yang mengonsumsi ikan asin sesekali tidak serta-merta langsung terkena kanker. Yang paling berbahaya adalah polanya: dikonsumsi dalam frekuensi sering, dalam jangka waktu bertahun-tahun, apalagi jika dimulai sejak masa kanak-kanak.
Ikan Asin Terbukti Secara Ilmiah dapat Menyebabkan Kanker
Sebuah tinjauan sistematis dan meta-analisis yang terbit di Jurnal Otorinolaringologi Kepala dan Leher Indonesia (2023) mengungkapkan bahwa konsumsi ikan asin lebih dari tiga kali dalam satu bulan dapat meningkatkan risiko kanker nasofaring hingga 1,65 kali lipat .
Temuan ini sangat krusial bagi Indonesia. Kanker Nasofaring (KNF) bukanlah kanker langka di tanah air; justru menempati urutan keempat terbanyak dan bersifat endemis, terutama di Pulau Jawa . Tingginya kasus ini disebabkan oleh tiga faktor:
1. infeksi Virus Epstein-Barr (EBV) yang umum dan laten di masyarakat,
2. faktor genetik ras Asia,
3. serta kebiasaan konsumsi makanan diawetkan (termasuk ikan asin) sejak kecil.
Kesadaran dini terhadap gejala KNF sangat penting karena lokasinya yang tersembunyi seringkali membuat gejala awal diabaikan. Beberapa tanda yang perlu diwaspadai jika menetap lebih dari tiga minggu adalah: muncul benjolan tidak sakit di leher, mimisan ringan namun berulang, telinga terasa penuh atau tuli sepihak, serta hidung tersumbat terus-menerus pada satu sisi.
Kesimpulannya, klasifikasi ini bukanlah vonis mati untuk berhenti makan ikan asin selamanya. Efek paling kuat hanya terjadi pada konsumsi ekstrem sejak kecil . Bagi orang dewasa yang makan sesekali, risikonya jauh lebih rendah. Yang terpenting adalah mengurangi frekuensi konsumsi, menghindari pemberian pada anak-anak sebagai lauk wajib setiap hari, serta tidak mengabaikan gejala-gejala dini.Â
==ww==
Sumber dan Daftar Bacaan Pendukung:
- IARC. (1993). Some Naturally Occurring Substances. IARC Monographs on the Evaluation of Carcinogenic Risks to Humans, Volume 56. Lyon: WHO.Â
- Yusufa, D. P., Al, M., & Laksmi, I. (2023). Konsumsi ikan asin meningkatkan risiko kanker nasofaring: Tinjauan sistematik dan meta-analisis. Jurnal Otorinolaringologi Kepala dan Leher Indonesia, 2(1), 87-93.Â
- Universitas Airlangga. (2020). Mengenal dan Mencegah Kanker Nasofaring (KNF). Surabaya: NERS UNAIR.Â
- Al Bulushi, I., et al. (2009). Biogenic amines in fish: Roles in intoxication, spoilage, and nitrosamine formation. Critical Reviews in Food Science and Nutrition, 49(4), 369-377.
- Produksi Ikan Asin
- Kanker
Redaktur: Koran Jakarta
Penulis: Winoto Wahyu
Berita Terkait:
-
Lahan KAI di Kiaracondong Bandung Bakal Disulap Jadi Hunian Vertikal TOD untuk MBR
-
LeBron, Curry, dan Durant Kembali Bersatu di Susunan Pemain NBA All-Star
-
HBO Siapkan 'House of the Dragon' Musim ke-4 Tayang Tahun 2028
-
Hilal Awal Ramadhan 1447 H Dipastikan Tak Terlihat di Yogyakarta, Posisi Bulan Masih di Bawah Ufuk Saat Matahari Terbenam
-
Tak Hanya Perempuan, Laki-laki Juga Berisiko Terkena Kanker Terkait HPV
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.