Ratusan Ribu Pelayat Hadiri Upacara Pemakaman Ayatulloh Ali Khamenei
📅 Minggu, 05 Jul 2026, 15:18 WIB | Oleh: Lili Lestari
Doc: AP
TEHERAN — Ratusan ribu pelayat memulai prosesi pemakaman Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei pada hari Sabtu (4/7) yang akan berlangsung selama beberapa hari.
Associated Press melaporkan, para pelayat memukul dada dengan sedih di depan peti mati berbalut bendera Iran di Teheran dan menyerukan pembalasan terhadap Israel dan Amerika Serikat. Khamenei tewas pada usia 86 tahun dalam serangan udara yang dilancarkan AS pada 28 Februari di awal Perang Iran.
Pemakaman Khamenei, yang memerintah Iran selama beberapa decade, dapat memberikan dorongan bagi teokrasi negara itu dan pemimpin tertinggi barunya, putranya Ayatullah Mojtaba Khamenei.
Hal itu penting karena Iran berupaya memanfaatkan kendalinya atas Selat Hormuz dalam negosiasi dengan AS mengenai pengakhiran permanen perang dan karena kekhawatiran tetap ada bahwa Israel dapat menyerang lagi. Pemakaman ditunda karena perang masih berkecamuk, dan pembicaraan damai tampaknya ditangguhkan sampai perang berakhir.
Selama upacara pemakaman, negosiator utama Iran memperingatkan Prancis dan Inggris terkait komentar mereka tentang kemungkinan meluncurkan patroli bersama di Selat Hormuz, yaitu mulut sempit Teluk Persia yang dulunya dilewati seperlima dari seluruh minyak dan gas alam pada masa damai.
Sebaiknya Anda baca juga:
Para pelayat menangis melihat peti mati Khamenei di samping peti mati anggota keluarganya yang juga tewas dalam serangan udara, beberapa di antaranya meneriakkan: “Kata-kata kita satu! Balas dendam! Balas dendam!” Beberapa membawa spanduk dan bendera. Papan reklame di seluruh kota menampilkan gambar Khamenei. Kerumunan pria memukul dada mereka secara berirama sebagai tanda berkabung, sebuah praktik umum dalam pemakaman Syiah.
“Imam Khamenei adalah jantung kami, ayah kami, segalanya bagi kami,” kata Masoumeh Mohammadi, salah seorang pelayat. “Saya masih tidak percaya mereka membunuhnya. Kami tidak akan berhenti sampai kami membalaskan dendam atas kematiannya.”
Peti Mati di Masjid Agung
Sebaiknya Anda baca juga:
Panggung terbuka di Masjid Agung atau Grand Mosalla menyerupai panggung tempat Khamenei pernah menyampaikan pidatonya di sebuah husseiniyah, atau balai pertemuan, di kompleks kediamannya di pusat kota Teheran. Terdapat sebuah kursi seperti yang pernah ia duduki saat menyampaikan khotbahnya, lengkap dengan mikrofon di atas penyangga dan sebuah meja di sebelahnya. Di atasnya tergantung gambar mendiang Pemimpin Tertinggi Ayatullah Ruhollah Khomeini , yang meninggal pada tahun 1989.
Pemakaman Khomeini diwarnai adegan kacau karena jutaan orang memadati upacara berkabung dan perjalanan ke pemakamannya. Kematian Khamenei merupakan kali kedua Iran kehilangan pemimpin tertinggi sejak Revolusi Islam 1979.
Pada hari Sabtu, para sukarelawan menyemprotkan air pendingin ke kerumunan orang di tengah terik matahari musim panas. Pria dan wanita berkumpul secara terpisah di dalam Grand Mosalla setelah diperiksa dengan detektor logam dan penggeledahan badan. Polisi bersenjata senapan serbu berjaga di jalan-jalan sekitarnya. Banyak orang tetap berada di luar di jalan, bersantai di bawah naungan pohon karena kota telah ditutup.
Peti mati anggota keluarganya yang telah meninggal diletakkan di bawah peti mati Khamenei, yang di atasnya terdapat sorban hitamnya. Di antara yang meninggal termasuk istri Mojtaba Khamenei, yang kemungkinan kehadirannya di pemakaman masih belum jelas. Ia dilaporkan terluka dalam serangan yang menewaskan ayahnya dan belum terlihat di depan umum sejak perang dimulai.
“Kami menghadiri pemakaman untuk menunjukkan bahwa kami semua berkomitmen untuk membela negara dan agama kami,” kata salah seorang pelayat, Ali Kazemi.
Saat matahari terbenam, arus orang terus berdatangan. “Pihak berwenang menyarankan untuk tidak terburu-buru ke lokasi,” kata seorang pengunjung yang datang kemudian, Mohammad Barati. Para pelayat juga disarankan untuk tidak tinggal terlalu lama, agar orang lain dapat datang.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!