Rupiah Sepanjang Tahun Ini Tertekan 7 Persen, Gejolak Global dan The Fed Bikin Investor Waswas

Jumat, 03 Jul 2026, 20:48 WIB

JAKARTA – Pelemahan nilai tukar rupiah sepanjang tahun ini mencerminkan tingginya sensitivitas pasar keuangan domestik terhadap dinamika global.

Eskalasi ketegangan geopolitik mendorong investor beralih ke aset yang dianggap lebih aman, sementara ekspektasi suku bunga acuan Amerika Serikat (AS) yang tetap tinggi memperkuat dolar AS dan meningkatkan tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Ket. Foto: Ilustrasi - Karyawan menunjukkan uang pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata uang asing Haji La Tunrung, Makassar, Sulawesi Selatan. — Sumber: ANTARA FOTO/ Hasrul Said.

Kondisi ini menegaskan pentingnya menjaga stabilitas fundamental ekonomi domestik dan memperkuat kepercayaan investor agar volatilitas nilai tukar dapat tetap terkendali.

Hingga 3 Juli 2026, kurs rupiah terhadap dolar AS melemah melemah 1.192 atau sekitar 7,11 persen dari perdagangan akhir tahun lalu di level 16.771.

Seperti diketahui, nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan Jumat sore menguat 32 poin atau 0,18 persen menjadi Rp17.963 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.995 per dolar AS.

Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi menilai penguatan rupiah dipengaruhi sinyal positif negosiasi antara Iran dengan AS.

“Investor terus memantau negosiasi antara Washington dan Teheran setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan dia percaya Iran telah ‘menyetujui hampir semua yang kita butuhkan,’ menandakan kepercayaan bahwa diskusi bergerak ke arah yang benar,” ungkapnya di Jakarta.

Kendati begitu, lanjutnya, Wall Street Journal melaporkan bahwa Teheran telah menolak proposal untuk melepaskan klaimnya atas Selat Hormuz sebagai imbalan atas pelepasan miliaran dolar dana Iran yang dibekukan.

Laporan tersebut mengatakan Washington telah menawarkan insentif keuangan, termasuk akses ke aset yang dibekukan, untuk mengamankan jalur tanpa batasan melalui jalur air strategis tersebut, meskipun Iran sejauh ini telah menolak proposal tersebut.

Sinyal yang beragam disebut membuat risiko geopolitik tetap menjadi perhatian para pedagang, bahkan ketika kekhawatiran akan gangguan langsung terhadap pasokan minyak mentah Teluk terus mereda.

“Pasar kini mengamati perkembangan lebih lanjut dalam negosiasi AS-Iran, arus minyak mentah Teluk, dan tanda-tanda pemulihan permintaan setelah libur akhir pekan AS untuk mendapatkan arah baru bagi harga minyak,” ujar Ibrahim.

Selain itu, sentimen lain berasal dari rilis Biro Statistik Tenaga Kerja AS (BLS) menunjukkan ekonomi AS menambah 57 ribu pekerjaan pada bulan Juni, jauh di bawah ekspektasi pasar sebesar 110 ribu.

Sementara itu, data penggajian bulan Mei direvisi lebih rendah menjadi 129 ribu dari angka yang dilaporkan sebelumnya sebesar 172 ribu.

Tingkat pengangguran secara tak terduga sedikit menurun menjadi 4,2 persen dari 4,3 persen pendapatan per jam rata-rata pada bulan Juni naik 0,3 persen month on month (mom) dan 3,5 persen year on year (yoy), sesuai dengan ekspektasi pasar.

“Data Non Farm Payroll yang lemah membantu mendinginkan ekspektasi terhadap kebijakan moneter yang lebih ketat dari Federal Reserve (Fed). Menurut CME FedWatch Tool, probabilitas kenaikan suku bunga pada bulan September turun menjadi 51 persen dari 63 persen sebelum rilis data,” ujar dia.

Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari ini juga bergerak melemah di level Rp17.960 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.994 per dolar AS.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.