Biaya Penerbangan Haji Terancam Melonjak, Menhaj Irfan Yusuf: Jangan Bebankan ke Jamaah

Kamis, 09 Apr 2026, 03:40 WIB

JAKARTA - Pemerintah Indonesia melalui Menteri Haji dan Umrah, Mochamad Irfan Yusuf, menegaskan komitmennya untuk tidak membebankan tambahan biaya operasional haji kepada jamaah di tengah melonjaknya harga bahan bakar pesawat (avtur) akibat situasi konflik global.

Dalam Rakernas Kemenhaj di Tangerang, Rabu (8/4) malam, pria yang akrab disapa Gus Irfan tersebut menyatakan akan menghitung ulang seluruh kebutuhan anggaran menyusul usulan kenaikan tarif dari maskapai Garuda Indonesia dan Saudia Airlines. Pemerintah berupaya mencari titik keseimbangan baru agar impian ibadah masyarakat tetap terjaga meski biaya penerbangan terancam membengkak hingga Rp50,8 juta jika dilakukan pengalihan rute udara (rerouting).

Ket. Foto: Menteri Haji dan Umrah Mochamad Irfan Yusuf membuka Rapat Kerja Nasional Kementerian Haji dan Umrah di Asrama Haji Cipondoh, Tangerang, Rabu (8/6). — Sumber: ANTARA/Asep Firmansyah

“Kemarin usulan yang diajukan oleh Garuda maupun Saudia (avtur) masih di atas harga 100 sen dolar AS per liter. Tapi dengan adanya gencatan senjata harga akan turun maka kami akan sesuaikan kembali,” ujar Irfan Yusuf saat Rakernas Kemenhaj di Asrama Haji Cipondoh, Tangerang, Rabu malam.

Sebelumnya, ketika perang belum pecah, rata-rata biaya penerbangan per anggota jamaah berada di kisaran Rp33,5 juta. Namun saat konflik meletus dan membuat harga minyak melambung tinggi, pihak maskapai penerbangan mengusulkan tambahan biaya.

Dalam skenario tanpa perubahan rute penerbangan, biaya rata-rata per orang diperkirakan meningkat menjadi Rp46,9 juta atau naik 39,85 persen. Sementara itu jika dilakukan rerouting untuk menghindari wilayah udara konflik, biaya dapat meningkat hingga Rp50,8 juta atau naik sekitar 51,48 persen.

Maskapai Garuda Indonesia, kata dia, mengusulkan tambahan biaya sekitar Rp7,9 juta per orang, sedangkan Saudi Airlines mengajukan kenaikan sebesar 480 dolar AS per orang.

Ia menegaskan pemerintah tidak serta-merta menerima usulan harga yang diajukan kedua maskapai tersebut. Menurutnya, proses evaluasi masih terus dilakukan dengan mempertimbangkan berbagai faktor, termasuk perkembangan harga bahan bakar global.

“Tentu saja kami tidak langsung serta-merta menerima usulan harga yang diusulkan oleh mereka. Kita akan hitung ulang, kita komunikasikan dan kita akan juga koordinasi dengan teman-teman dari Komisi VIII juga tentang hal ini,” katanya.

Terkait sumber pembiayaan tambahan, Irfan menyebut opsi pendanaan bisa berasal dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) maupun sumber lain, seperti dari pengelolaan Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH).

“Bisa ABPN atau bisa sumber lain, misalkan BPKH. Tapi yang jelas, Presiden menyatakan jangan dibebankan kepada jamaah. Artinya tentu pemerintah akan mencarikan alternatif lain di luar (biaya yang dibayarkan) jamaah,” kata Gus Irfan.

  • saudia airlines
  • garuda indonesia
  • biaya haji
  • menteri haji dan umrah
  • irfan yusuf
  • harga avtur

Redaktur: alfred

Penulis: Alfred, Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.