Bantuan Air Bersih untuk 370 Warga Boyolali dan Grobogan
Senin, 10 Agu 2026, 23:27 WIBGrobogan - Dompet Dhuafa Jawa Tengah melakukan distribusi air bersih kepada 370 warga di Kabupaten Boyolali dan Grobogan, Jawa Tengah, karena mengalami kesulitan mendapatkan air bersih untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari selama musim kemarau berkepanjangan.
"Pada akhir Juli 2026, sebanyak empat truk tangki dengan kapasitas masing-masing 9.000 liter didistribusikan ke wilayah terdampak. Total 36.000 liter air bersih disalurkan untuk memenuhi kebutuhan sekitar 370 warga di dua kabupaten," kata Nur Cholis, Dai Pemberdaya Dompet Dhuafa Jawa Tengah melalui rilis diterima ANTARA, Senin.
Untuk distribusi air bersih untuk Kabupaten Boyolali, kata dia, sasarannya di Dukuh Joho, Desa Sambeng, Kecamatan Juwangi, Kabupaten Boyolali yang mengalami krisis air bersih untuk memenuhi kebutuhan hidup serta ekosistem sekitarnya seperti pertanian dan peternakan.
Hingga saat ini 10/8/2026, terpantau kemarau menyebabkan bukan hanya persediaan air yang menyusut, tapi juga kondisi ekonomi masyarakat. Mata pencaharian masyarakat Dukuh Joho didominasi petani jagung dan peternak domba atau sapi.
"Karena ladang juga terdampak kekeringan sehingga tidak bisa menanam lagi. Akhirnya keluarga bersama-sama mencari air demi memenuhi kebutuhan sehari-hari," ujarnya.
Upaya para petani untuk memulai musim tanam berikutnya juga dipertaruhkan pada masa paceklik ini. Karena mayoritas warga Dukuh Joho menggantungkan hidup sebagai petani jagung di lahan milik Perhutani. Lahan tersebut mereka sewa dengan biaya sekitar Rp1,3 juta setiap musim panen.
Sementara di Kabupaten Grobogan, dampak musim kemarau dirasakan warga di Dukuh Kedung Bunder, Desa Kedungjati, Kecamatan Kedungjati, Kabupaten Grobogan, karena tercatat sebanyak 120 kepala keluarga mulai mengalami kesulitan mendapatkan air bersih sejak pertengahan Juli 2026.
Warga menggali sumur-sumur kecil di dasar sungai yang mengering untuk mendapatkan air karena sejak akhir Mei 2026 tidak ada lagi hujan. Sementara itu, di Dukuh Brumbung, Desa Panimbo, Kecamatan Kedungjati, sebanyak 80 kepala keluarga juga menghadapi kondisi serupa sejak akhir Juli 2026.
Untuk itulah, kata dia, Disaster Management Center (DMC) Dompet Dhuafa menyalurkan bantuan air bersih terhadap warga terdampak.
Sungai yang mengering, justru itu menjadi satu-satunya harapan. Karena di dekat sungai, warga menggali lubang kecil mirip dengan sumur hingga muncul rembesan air. Sumur itulah yang kini menjadi sumber kehidupan.
Untuk menuju sumur tersebut, mereka harus menempuh perjalanan yang tidak singkat. Warga Dukuh Joho harus menempuh jarak sekitar 500 meter hingga 1 kilo meter. Beberapa di antaranya ada yang menggunakan motor untuk menempuh sumur tersebut, namun ada pula yang tetap memilih berjalan kaki sambil mengais jerigen di tangannya.
Redaktur: Redaksi Koran Jakarta
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
Tak Lagi Beroperasi di Area Abu-Abu, BPMA Percepat Legalisasi Sumur Minyak Rakyat di WK Aceh
-
PLN Pastikan Pasokan Listrik Pulau Jawa Mulai Pulih secara Bertahap Usai Pemadaman Bergilir
-
Dua Desa di Cilacap Mulai Terdampak Kekeringan pada Awal Musim Kemarau
-
Tim Bola Voli Putra Indonesia Torehkan Sejarah, Juara AVC Cup 2026 Usai Balas Kekalahan dari Korea Selatan
-
Ribuan Warga Ikuti Tradisi Grebeg Suro Paseban Agung Malwapati
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.