Piala Dunia, Beban Berat Dipikul Australia untuk Selamatkan Martabat Asia
Jumat, 03 Jul 2026, 07:15 WIB | Oleh: Aloysius WidiyatmakaNamun AS menang dengan terpaksa mengandalkan sebuah gol bunuh diri dan satu gol yang baru disahkan oleh VAR setelah dianggap offside oleh hakim garis.
Kedua gol terjadi pada babak pertama, sedangkan pada babak kedua AS dimentahkan oleh tembok tebal sistem permainan Socceroos.
Fakta-fakta ini disajikan agar orang tidak menganggap remeh Australia, hanya karena tim ini tak memprioritaskan penguasaan bola.
Dalam urusan penguasaan bola, Australia menempati peringkat ke-42 dengan 33 persen, sedangkan Mesir di peringkat ke-22 dengan rata-rata 47 persen.
Tingkat probabilitas gol atau xG Australia juga jauh di bawah Mesir. The Pharaohs di peringkat ke-24 dengan xG 3,76, sedangkan Australia di peringkat ke-40 dengan 1,99.
Mesir juga mengungguli Australia dalam jumlah peluang gol. Jika Mesir menempati peringkat ke-16 dengan 48 peluang yang 13 di antaranya tepat sasaran, maka Australia berada di peringkat ke-39 dengan 26 peluang yang 11 di antaranya on target.
Mesir tak terkalahkan selama fase grup setelah melepaskan rata-rata empat tembakan tepat sasaran per satu pertandingan, sedangkan Australia rata-rata 2,5 tembakan on target.
Tapi salah besar jika Mohamed Salah cs meremehkan Australia, karena Socceroos memiliki kemampuan untuk mementahkan yang tadinya dianggap tidak mungkin, yakni mengalahkan Turki, dengan dua gol tanpa balas pula.
Sistem bermain Australia yang simpel dan pragmatis telah merepotkan banyak tim.
Socceroos bermain pragmatis dengan mengutamakan pertahanan rapat garis rendah, kerja fisik yang tinggi, dan serangan balik yang cepat.
Beda karena Salah dan Marmoush
Australia sangat disiplin dalam menyudutkan lawan ke area sayap yang kurang berbahaya dan sangat efektif dalam bertahan di dalam kotak penalti.
Socceroos akan membiarkan lawan asyik menyerang tapi begitu lawan kehilangan bola, mereka akan cepat berubah ke setelan menyerang dengan bertumpu pada kedua bek sayapnya, terutama Jordan Bos, dan Jackson Irvine di tengah, untuk mengeksploitasi ruang yang sudah terbuka.
Mereka lalu membidik penyerang bertubuh besar atau bahkan bek tengah tinggi perkasa yang bisa cepat berubah fungsi menjadi penyerang, seperti sering diperankan bek Harry Souttar, untuk mengeksekusi peluang gol dari serangan balik itu.
Gaya bermain ini sudah terbukti merepotkan Turki dan Paraguay, bahkan AS.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!