Peternak Menjerit Harga Telur Anjlok, Desak Solusi Cepat dan Aturan Baru Pemerintah

Selasa, 30 Jun 2026, 19:15 WIB

TEMANGGUNG, JAWA TENGAH - Peternak ayam di Temanggung meminta pemerintah segera mengambil langkah konkret untuk mengatasi anjloknya harga telur ayam yang berkisar Rp17.000-18.000 per kilogram (kg) atau jauh di bawah Harga Acuan Pembelian (HAP) pemerintah sebesar Rp26.500 per kg.

Bendahara Koperasi Peternakan Unggas Sejahtera (KPUS) Sektor Temanggung Buyung Adi Nugraha, di Temanggung, Selasa (30/6), langkah konkret yang bisa diambil mulai dari mempercepat distribusi jagung melalui program SPHP, mempermudah regulasi impor bahan baku pakan, hingga kembali menjalankan program penyerapan telur untuk penanganan stunting seperti yang pernah dilakukan sebelumnya.

Ket. Foto: Seorang pekerja sedang mengambil telur di kandang ayam di salah satu peternakan di Temanggung, Selasa (30/6). — Sumber: ANTARA/Heru Suyitno

Menurut dia, anjloknya harga telur dipengaruhi melemahnya daya beli masyarakat serta berkurangnya penyerapan telur akibat liburnya sejumlah program Makan Bergizi Gratis (MBG), sehingga stok telur menumpuk di tingkat peternak.

Harga telur ayam ras di tingkat peternak di Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, terus merosot dalam sebulan terakhir sehingga banyak peternak merugi.

"Harga minimal agar peternak masih bisa bertahan berada di kisaran Rp24.000 hingga Rp26.000 per kg sesuai HAP pemerintah. Dengan harga sekarang, teman-teman peternak mengalami kerugian yang semakin dalam karena dibarengi kenaikan harga pakan," katanya.

Ia menyampaikan tren penurunan harga telah berlangsung hampir satu bulan dan terjadi hampir setiap hari. Besaran kerugian bervariasi, namun pada peternakan dengan produktivitas yang kurang efisien dapat mencapai 30 hingga 35 persen.

Untuk menekan kerugian, menurut dia, sebagian peternak terpaksa mengurangi populasi ayam petelur melalui afkir dini. Namun langkah tersebut juga tidak efektif karena harga ayam afkir ikut anjlok hingga Rp11.000-Rp12.000 per kg atau sekitar Rp20.000 per ekor, jauh di bawah harga normal.

"Posisinya sekarang serba sulit. Mau mempertahankan ayam rugi karena harga telur rendah, tetapi diafkir juga rugi karena harga ayam afkir ikut jatuh," katanya.

Di Kabupaten Temanggung, produksi telur dari sekitar 300 peternak anggota KPUS mencapai 100 hingga 150 ton per hari.

Ia menuturkan, kebutuhan konsumsi masyarakat setempat hanya sekitar 70 hingga 80 ton per hari. Kelebihan produksi tersebut selama ini dipasarkan ke berbagai daerah.

Para peternak berharap pemerintah segera melakukan intervensi pasar. Jika harga telur terus berada di bawah biaya produksi tanpa adanya solusi, banyak peternak dikhawatirkan tidak mampu lagi menanggung kerugian dan terpaksa menutup usahanya. Ant

  • harga telur anjlok

Redaktur: Koran Jakarta

Penulis: Opik

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.