Pendidikan Berbasis Keterampilan dan Paparan Global Dinilai Penting Hadapi Era Disrupsi AI
Senin, 29 Jun 2026, 15:20 WIBJAKARTA â Perkembangan transformasi digital dan semakin luasnya penerapan kecerdasan buatan generatif (Generative Artificial Intelligence/GenAI) mendorong perubahan besar di dunia kerja. Kondisi tersebut membuat pendidikan berbasis keterampilan (skills) serta paparan global (global exposure) dinilai semakin penting untuk mempersiapkan generasi muda menghadapi tantangan masa depan.
Alta Global School (AGS), sekolah internasional yang merupakan bagian dari Schoters, menilai sistem pendidikan perlu beradaptasi dengan perubahan tersebut melalui penguatan kompetensi masa depan sejak usia dini. Sekolah ini menawarkan jalur pendidikan dari tingkat sekolah dasar hingga sekolah menengah atas dengan fokus mempersiapkan siswa melanjutkan studi ke luar negeri sekaligus membangun keterampilan yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja.
Urgensi penguatan keterampilan tersebut sejalan dengan laporan World Economic Forum (WEF) bertajuk Future of Jobs Report 2025. Laporan itu memperkirakan kecerdasan buatan dan teknologi akan mengubah sekitar 86 persen model bisnis secara global, menciptakan sekitar 170 juta lapangan kerja baru sekaligus menggantikan sekitar 92 juta pekerjaan yang ada saat ini.
WEF juga menyebut kemampuan berpikir kritis, kreativitas, ketangguhan, serta kemampuan beradaptasi menjadi kompetensi yang paling dibutuhkan dalam beberapa tahun mendatang.
Di sisi lain, Indonesia masih menghadapi tantangan dalam menyiapkan sumber daya manusia yang mampu bekerja berdampingan dengan teknologi AI. Berdasarkan hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2022, hanya sekitar lima persen siswa Indonesia yang mencapai level tertinggi pada aspek berpikir kreatif. Angka tersebut masih jauh di bawah rata-rata negara anggota OECD yang mencapai 27 persen.
Founder AGS sekaligus CEO Schoters, Radyum Ikono, mengatakan salah satu alasan utama orang tua memilih pendidikan berorientasi internasional adalah untuk membuka peluang studi dan karier yang lebih luas di masa depan.
"Motivasi utama orang tua yang ingin anaknya kuliah ke luar negeri adalah kualitas dan reputasi pendidikannya. Begitu juga dengan peluang karier global yang lebih besar, baik di perusahaan kelas dunia maupun membangun startup sendiri. Namun yang tidak kalah penting adalah global exposure serta pengalaman yang membentuk kemandirian, kemampuan beradaptasi, dan pola pikir yang luas sehingga siswa dapat menjadi global citizen yang kompetitif," ujar Radyum melalui keyerangannya pada hari Senin (29/6).
Menurutnya, kesiapan menghadapi masa depan tidak cukup hanya dibangun melalui penguasaan akademik. Karena itu, AGS menerapkan sistem pembelajaran yang secara bertahap mengembangkan kemampuan berpikir kritis, komunikasi, pemecahan masalah, hingga eksplorasi minat dan bakat melalui proyek, kompetisi, serta berbagai pengalaman belajar berstandar internasional.
Memasuki jenjang pendidikan yang lebih tinggi, siswa juga memperoleh kesempatan mengikuti berbagai sertifikasi internasional serta pendampingan dalam menyusun rencana studi ke perguruan tinggi sesuai aspirasi masing-masing.
Radyum mengungkapkan, hingga memasuki tahun kelima penyelenggaraan sekolah, seluruh lulusan AGS berhasil melanjutkan pendidikan ke luar negeri. Dari jumlah tersebut, sekitar 92 persen memperoleh beasiswa.
"Kurikulum yang kami terapkan mendorong siswa mengembangkan prestasi sesuai potensinya melalui berbagai kompetisi yang selaras dengan minat dan bakat mereka. Prestasi menjadi salah satu indikator bahwa siswa mampu menerapkan pengetahuan menjadi solusi nyata melalui inisiatif dan kemampuan memecahkan masalah," katanya.
Pendekatan tersebut tercermin dari sejumlah capaian siswa. Salah satunya adalah Shasa, siswi kelas delapan yang terpilih menjadi delegasi Harvard Future Doctors, program internasional bagi pelajar yang tertarik mendalami dunia kedokteran. Dalam program tersebut, ia mempelajari konsep biokimia sekaligus mengikuti berbagai diskusi mengenai dasar-dasar ilmu kedokteran.
Sementara itu, Arsya, siswa kelas tiga, mampu menyeimbangkan aktivitas organisasi dengan prestasi akademik. Ia berhasil meraih medali emas dan perak pada sejumlah kompetisi nasional, antara lain Indonesian Science Competition (ISC) 2025, Pekan Sains dan Olimpiade Nasional 2026, serta Discovered Math, English, and Science Competition.
AGS menilai berbagai capaian tersebut menjadi gambaran pendekatan pembelajaran yang tidak hanya berfokus pada pencapaian akademik, tetapi juga pengembangan karakter, kemampuan belajar mandiri, serta kesiapan menghadapi persaingan di perguruan tinggi dan dunia profesional berskala global di tengah pesatnya perkembangan teknologi, termasuk kecerdasan buatan.
- World Economic Forum
- Kecerdasan Buatan
- Kreativitas
- Teknologi AI
- Studi Luar Negeri
- Generative AI
- pendidikan internasional
- pendidikan
- future skills
- Alta Global School
- Schoters
- Future of Jobs Report 2025
- PISA 2022
- berpikir kritis
- global exposure
Redaktur: Redaksi Koran Jakarta
Penulis: Haryo Brono
Berita Terkait:
-
Polres Probolinggo Kota Gagalkan Penyelundupan 38 Satwa Dilindungi
-
Anker Perkenalkan Chip AI THUS™ dan Deretan Inovasi Baru di Anker Day 2026
-
East Ventures: Transformasi Digital Indonesia Harus Berujung pada Nilai Ekonomi Nyata
-
Prosesor AMD Ryzen AI 400 Series Siap Tenagai Laptop AI Generasi Baru
-
inDrive Siap Patuhi Perpres Perlindungan Ojol, Andalkan Kebijakan Komisi Rendah 12 Persen
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.